Speedy

Perusahaan telekomunikasi nasional Telkom menghadirkan layanan internet yang menurut klaim mereka mampu menawarkan kecepatan akses yang banter. Speedy nama kerennya. Sayang, ternyata layanan tersebut harus didukung modem ADSL yang harganya belum murah. Tambahan lagi ongkosnya belumlah cukup murah dari segi keterjangkauan. Meski dari suduh ‘hemat’ sudah memenuhi syarat karena tarifnya yang mempergunakan cara flat.

Tertarik juga sih. Tapi kok terus muncul layanan internet dari CDMA seperti Jagoan milik Indosat. Kecepatannya lumayan, murah dan praktis. Dapat diakses dimana-mana asalkan terdapat BTS di dekat kita dan ponsel CDMA.

Rasanya lebih menarik. Maka tak pernah terlintas di benak saya untuk mempergunakan layanan Speedy tersebut. Telkomnet Instan bagi saya pun sudah cukup memadai untuk sekarang ini.

Tahun Baru, Ngapain?

Menjelang hari-H saat hari, jam dan detik menghadirkan lembaran sebuah hitungan waktu yang baru. Tahun Baru. Banyak yang menyibukkan diri dengan rencana ke pantai ‘lihat sunrise‘, meminjam banyak keping VCD film dan saya pun salah satunya, berkumpul bersama keluarga dan makan-makan atau… beberapa hal yang ‘tidak biasa dilakukan hari-hari seperti biasa’.

Misalnya, pernah saya dengar ada pasangan yang berciuman selama setahun. Tepatnya sih hanya beberapa menit. Tapi dihitung satu tahun karena melangsungkan pertemuan dua bibir sebelum dan sesudah tahun berganti. Pengen sih, sayangnya masih jomblo. Ahh, tahun depan semoga ada hati yang menyapa…

Lalu… Bagaimana dengan Anda? Ada hal yang aneh untuk dilakukan atau justru tidur pulas dan bangun dengan segar di subuh hari tanpa merasa ada apa pun yang khusus.

Selamat Tahun Baru 2007. Semoga rasa optimis menyertai langkah sukses kita sekalian.

Kartu Ucapan

Dulu, sangat nikmat untuk menerima amplop bercap pos dari teman dan keluarga berisi kartu ucapan kala Natal tiba. Ucapannya selalu berulang dan tak jauh dari “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Yang berubah hanyalah tahunnya saja. Penanda kapan ucapan tersebut dikirimkan.

Namun, jaman telah berubah. Ucapan cukuplah 128 hingga 300-an karakter yang tersampai di layar ponsel. Cepat sampai, cepat dibaca… cepat pula dihapus. Tentulah bila Inbox sudah penuh, apa boleh buat, pesan yang sebelumnya harus dihilangkan untuk menyediakan ruang yang baru.

Justru kemudahan seperti ini yang saya sedikit sesalkan. Tanpa banyak usaha, sebuah ucapan sampai. Murah, lagi. Senang sih senang namun rasanya kurang berkesan.

Tentu lebih senang bila mendapat telepon langsung. Toh, ongkos telepon kian murah. Maksudnya lebih personal.

Apa yang Anda rasakan kala mendapat forward ucapan hari raya. Bunyinya sama hingga struktur kalimatnya. Hingga mungkin saja ada dua atau tiga ucapan yang bunyinya kurang lebih sama. Atau… bila tak mau repot membalas, cukup me-reply dengan ucapan sms yang sama.

Maaf, bila terdengar sinis. Namun, tetap saja kepraktisan sebuah short message service belumlah mampu menghadirkan nuansa dan tone tersendiri. Masih kalah dari goretan bolpoin di atas kartu ucapan atau suara merdu dari gagang telepon.

Kartu ucapan dikirim, dibaca dan disimpan. Kelak, rasa haru muncul bila menemukan bundelan kartu ucapan saat bebersih gudang. Nostalgia yang bisa diraba, baik dengan tangan dan rasa.

Kambing dan Sapi

Pemandangan yang jamak setiap kali menjelang Idul Adha… berjejer dan diikat tali sekumpulan hewan ternak yang masuk dalam keluarga mamalia menghadirkan nuansa ‘kebinatangan’ dan bau yang merebak dan tidak semerbak.

Tahun ini memang tidak seramai tahun yang lalu. Namun, tetap saja kambing dan sapi dipamerkan di pinggir-pinggir jalan. Seperti showroom tanpa memedulikan kesehatan lingkungan dan rasa etis. Paling penting ‘sapi dan kambing terjual dan laris manis’.

Namun, kehadiran mereka yang cukup mengganggu mengingatkan arti sebuah acara keagamaan. Sebuah pengorbanan. Yang mampu membantu yang tidak mampu. Subsidi silang yang menjadi tradisi tahunan.

Apakah Anda juga sudah bersiap memberi korban bagi sesama?

Namun, janganlah Anda sekalian belajar ‘berkorban’ ala pejabat pemerintah. Berkorban adalah kata yang tragis. Bukankah mereka seringkali mengorbankan kepentingan rakyat untuk pemuasan diri mereka sendiri.

Tirulah bagaimana yang dilakukan Sang Nabi kala berkorban. Diri-Nya diberikan sebagai ganti untuk keselamatan dan kemaslahatan umat-Nya.

ps: Saya terharu tiap kali Idul Adha. Meskipun bukanlah seorang Muslim, namun tetangga-tetangga saya yang Muslim selalu tak lupa memberi sekerat daging untuk keluarga saya. Sebuah bentuk toleransi yang semakin sulit didapatkan.

Efek Kupu-kupu

Sebenarnya saya sudah mengurangi jam nonton televisi. Maklum, aktivitas ini lebih banyak mendatangkan mudharat daripada manfaat. Terduduk manis dan matinya otak. Namun, selintas mengikuti warta berita, tahulah saya bahwa ada Tsunami kecil-kecilan yang menyerbu di Filipina Timur beberapa saat setelah terjadinya gempa Taiwan.

Kecil karena masih dibawah satu meter. Namun, kepanikan warga setempat meningkat dengan cepat. Bila kita amati di peta, ternyata Taiwan cukup jauh dari Filipina. Wah!

Tentulah Anda juga pernah mendengar bahwa gempa di Aceh dua tahun lalu juga menimbulkan gelombang besar hingga mencapai benua Afrika. Wah!

Apa yang terjadi di satu tempat ternyata mempengaruhi suatu keadaan di tempat lain. Itu baru gempa. Bagaimana dengan polusi, pencemaran, pembalakan hutan, hujan asam… tak terhitung kejadian di dunia ini.

Kita pun juga bisa menjadi salah satu ‘kupu-kupu’ itu. Menyebarkan informasi, opini dan pemikiran baik sederhana atau pun tingkat tinggi untuk menjadikan planet bumi sebuah planet damai yang indah. Nyaman untuk ditinggali oleh kita di masa sekarang dan generasi sesudah kita di masa yang akan datang.

Gempa Taiwan

Aneh bin ajaib. Saat saya masuk kantor pagi ini, rekan-rekan sibuk berbicara tentang internet yang tersendat akibat gempa di negeri tempat tinggal F4 yang menggetarkan jutaan wanita yang menontonnya.

Bukan, bukan berapa yang tewas atau kerusakan apa yang terjadi. Justru sibuk memeriksa situs apa yang bisa dimunculkan di jendela browser. Padahal, tidak semua rekan saya tersebut sering memakai internet. Nah, lho.

Betul, bahwa kebanyakan situs internasional-yang mayoritas dari negara Paman Sam-tidak bisa diakses. Bila pun bisa akan terasa lambat. Tetapi bukankah situs lokal tidak banyak yang terganggu. Salah satu situs berita http://www.tempointeraktif.com tidak terganggu.

Mulanya saya pikir pengunjung warnet akan menurun karena kecepatan internet yang melambat. Namun, justru malah cepat. Mengapa? Karena banyak orang pada waktu yang bersamaan enggan menggunakan internet. Maka tersedialah ruang yang cukup bagi saya. Internetan jadi relatif lebih cepat.

Semoga gempa Taiwan bisa diatasi dengan baik dan tidak terdapat korban jiwa yang terlalu banyak. Bukankah Taiwan sudah cukup menderita dari tekanan negara Tirai Bambu?

WordPress – Blog Stats

Sekian lama sudah saya menggunakan layanan blogging dari WordPress (WP). Menyenangkan, itu salah satu pendapat saya. Beragam fitur berguna ditampilkan di dashboard yang berantarmuka ringkas dan jelas. Salah satunya adalah blog stats.

Dulu saya meragukan kegunaan blog stat yang berguna untuk mengukur berapa banyak pengunjung yang menyambangi blog ini. What for? Bukankah saya menulis pertama kali adalah untuk kepuasan dan ekspresi diri saya sendiri. Bila ada yang membaca, tentu saja silakan. Bila tidak, ya tidak berarti apapun.

Ternyata ada rasa senang juga ketika melihat berapa hits yang tercantum di halaman blog ini. Ternyata sudah mencapai 1.000 lebih. Memang belum apa-apa bila mengingat blog tulisan Gunawan Muhammad di http://www.caping.wordpress.com yang pastilah diserbu penggemar tulisannya. Tambahan lagi, mungkin angka itu juga termasuk hal yang semu. Maklum, orang bisa saja tersasar di blog ini karena iseng mencari di mesin pencari.

Bagusnya, ada tertulis bahwa kunjungan pemilik blog tidak ikut dihitung-ketika login-sehingga tidak ada istilah ‘elo, kan sering baca blog loe sendiri, pantas aja hit-nya banyak’.

Hmm… blog stats hanyalah sebatas alat pengukur apakah suatu blog enak dibaca sehingga dikunjungi balik dan direkomendasikan pembacanya ke pembaca lain. Bukan pemuas rasa akan pemuasan diri. Toh, bukan hitung-hitungannya yang penting, namun terus menulis secara kualitas dan kuantitas. Sebuah bentuk aktualisasi diri di era blogging.