Archive | Maret 2007

27 Maret 2007 @ Singapore

Merantau. Kata itulah yang paling tepat diungkapkan.

Betul, saya mulai tinggal dan hidup di negeri Merlion mulai hari ini. Bagi Anda yang kurang mengerti, baiklah, negara itu adalah Singapura. Negara tetangga yang punya hobi melakukan reklamasi.

Tanggal ini pasti akan menjadi sejarah tersendiri bagi perjalanan hidup saya. Kenangan yang pantas diingat ketika saya beranjak senja. Tapi itu masih jauh, umur saya pun sekarang hanya seperempat abad tambah sedikit.

Begitulah hidup, kadang kita mengalami perubahan dalam hidup kita…

Dan semoga perubahan itu menjadi perubahan yang lebih baik.

Pindah

Mulai Selasa 27 Maret 2007, si empunya blog ini akan meninggalkan Munggur. Bukan, bukan blog Munggur ini namun Munggur – nama sebuah tempat di Yogyakarta. Blog ini akan tetap aktif.

Hanya saja, semoga tidak, blog Munggur tidak akan memperbarui posting sesering seperti biasanya. Maklum, sebuah kepindahan pasti menyisakan sedikit kerepotan. Mungkin untuk waktu 2 – 3 minggu. Hanya kata maaf yang bisa terucap. Semoga para pembaca mafhum.

Tentu saya akan merindukan Munggur. Namun, saya juga akan girang seperti anak TK masuk sekolah pertama kalinya. Girang karena memulai hidup baru di negara Merlion. Cukup dekat, kan, dengan Batam dan Malaysia.

Semoga blog Munggur bisa menyapa sesegera mungkin… Terima kasih untuk sudah berkunjung dan berinteraksi.

Berkemas

Satu demi satu bawaan saya periksa dengan teliti. Tak mau bila ada yang terlewat dan terlupa. Satu kali periksa tak cukup, kadang saya ulang dua atau tiga kali.

Betul, saya berkemas untuk kepergian saya. Ke negeri seberang, tidak jauh karena hanya 2 atau 3 jam dari kediaman saya. Alasannya bekerja dan memulai lembaran bab baru dalam kehidupan saya.

Barang yang dibawa pun tak banyak. Yang penting cukup muat dalam satu tas kopor dan tas ransel kecil. Hal yang paling penting dan berguna, lainnya saya tinggal atau berikan pada orang lain.

Acara ‘packing’ ini terus terang menginspirasi saya untuk membuat buku cara berkemas yang baik dan benar. Tunggu saja bila sudah terbit…

Telur Goreng Buatan Nenek

Si cucu menganggukkan kepalanya tanda setuju saat sang nenek menawarinya telur goreng. Padahal, biasanya cucu ini selalu menolak saat sang nenek menawarinya makan di rumahnya.

Namun, kali ini beda. Si cucu datang untuk pamitan, bekerja di negeri seberang. Entah kapan lagi baru pulang. Sang nenek dengan tubuh rentanya mulai menghidupkan kompor, memecah telur dan menggorengnya. Satu buah telur goreng khusus untuk cucunya dan ditambah nasi putih.

Si cucu pun membiarkan sang nenek memasak dengan curahan hati. Menunggu sambil memberi kesempatan sang nenek memberikan wujud kasih yang sederhana dan tulus.

Saat makan bersama, sang nenek yang berumur 85 tahun tersebut berkata, ‘mungkin saja ini terakhir kali kita bertemu…’. Si cucu makan sambil pikirannya menerawang, berjanji dalam hati untuk pulang menjenguk berharap masih ada waktu bagi neneknya.

Si cucu tersebut adalah saya sendiri. Terima kasih Nek…

Polisi Tembak Polisi

Jamak kita dengar ‘pencuri teriak pencuri’. Di iklan, kita dengar ‘jeruk makan jeruk’. Ah, itu sudah biasa.

Yang mengherankan ada ‘polisi tembak polisi’. Nah, ini baru seru. Apakah benar jumlah penjahat sudah berkurang sehingga seorang perangkat hukum ‘gatal’ menembak sesamanya, rekan kerjanya.

Kita sepakat bahwa sebuah nyawa mahal harganya. Namun, semoga saja kasus yang menggemparkan masyarakat di negeri pertiwi ini dapat menyadarkan kepolisian untuk instropeksi dan segera melakukan revisi dan konsolidasi.

Bolehlah saya menambah, bagaimana bila para polisi diberi waktu dan kesempatan untuk mengikuti kejuaraan menembak. Siapa tahu bisa menyumbang medali emas di PON, ASEAN Games atau bahkan Olimpiade. Pasti akan mengharumkan nama bangsa.

Suntik-menyuntik

Pasti ada saja orang yang takut pada jarum suntik kala sakit atau periksa kesehatan di rumah sakit. Jarum yang tipis tersebut bisa jadi membuat seorang pemberani ciut nyalinya. Justru yang mengherankan adalah pemakai obat psikotropika dengan cara suntikan yang gemar melakukannya. Cukup rasa nyeri sebentar untuk sebuah kenikmatan semu yang tak lama dinikmati. Sebaliknya, kita harus salut kepada pendonor darah yang rela disuntik beberapa menit untuk menolong nyawa orang lain.

Perusahaan yang hampir jatuh pun bisa bangkit kembali bila ada ‘suntikan dana’. Yang seperti inilah yang diinginkan banyak orang, soalnya terasa lebih bugar selepas disuntik.

Beda dengan bumi yang disuntik dengan kurang persiapan dan ditambahi dengan kecelakaan. Semisal, Si Lusi – Lumpur Sidoarjo – yang menenggelamkan sebagian wilayah penduduk, rel dan jalan tol.

Suntik-menyuntik memang tak selalu mengenakkan, juga tak selalu menyakitkan. Tergantung siapa yang disuntik siapa.

Omong-omong, apakah Anda termasuk orang yang takut disuntik oleh dokter atau perawat di rumah sakit? Bila Anda kaum Adam, mintalah perawat yang cantik, paling tidak bisa mengalihkan perhatian dan terasa kurang menyakitkan. Sungguh.

The Devil Wears Prada

Punya bos yang tiap harinya memakai tas, sepatu, baju dan jaket bulu bermerek memang menyenangkan. Terlihat menawan dan menarik perhatian. Namun, kalau si bos tersebut benar-benar killer, siapa pun pasti tak betah lama-lama bekerja di tempat itu.

Itulah tema film yang menohok penontonnya bahwa penampilan memang penting. Namun, tergelincir hingga ke pemujaan barang-barang super mewah bisa jadi menghilangkan jati diri. Bahkan, bisa jadi mengubah kepribadian seseorang menjadi insan yang artifisial.

Di film ini juga ditampilkan dilema yang harus dihadapi Andy di mana ia harus memilih antara mempertahankan hubungan dengan pacarnya atau memprioritaskan kariernya di majalah Runway.

Akhir film memang bisa ditebak dengan mudah. Namun, tetap menarik untuk ditonton hingga akhir. Selain itu banyak ditampilkan pernak-pernik dunia yang diwakilkan dengan nama-nama merek terkenal macam Dolce&Gabbana, Starbucks, Apple dan Hermes. Merek-merek beken yang sengaja dipakai banyak orang untuk menciptakan image diri sebagai identitas individu.

Anda sendiri memakai apa? Mungkin saja label Indie atau bahkan buatan tangan sendiri.

Casino Royale – James Bond 007

Selalu menarik untuk menonton dan mencermati film James Bond. Baik latar belakang cerita yang selalu berada di banyak belahan dunia, gadget tercanggih di muka bumi, mobil yang membuat iri dan kerlingan gadis-gadis Bond yang cantik, atraktif dan berbahaya.

Begitu juga dengan Casino Royale, remake film yang sama berpuluh tahun yang lalu, menghadirkan semua ‘wow factor’ dalam sebuah dunia imajinasi layar lebar. Seorang agen rahasia yang memiliki kemampuan, baik dalam hal spionase atau memikat wanita.

Sama seperti film-film Bond sebelumnya, film ini juga menjadi ajang iklan. Telepon genggam Sony Ericsson, mobil dan juga laptop. Bisa dipastikan banyak lelaki mengirikan semua yang dimiliki Bond sedangkan wanita sangat memimpikan pejantan tangguh seperti si agen MI-6 ini.

Kali ini tokoh pemerannya baru yaitu Daniel Craig. Tidak setampan Pierce Brosnan atau berwibawa seperti Sean Connery, tapi jelas kelihatan lebih jantan dan brutal. Maklum, ceritanya memang Casino Royale menceritakan saat-saat awal Bond yang masih muda, ceroboh dan ugal-ugalan.

Bila Anda belum menonton film Bond yang pertama, bisa jadi Anda salah tebak alur cerita. Menarik, karena Bond kali ini menemukan cinta sejatinya hingga hampir saja ia mengundurkan diri. Bagaimana akhirnya? Tonton saja filmnya. Dijamin tidak membosankan.

A Scanner Darkly

Film Keanu Reeves ini termasuk unik. Terutama bagi Anda yang tertarik dengan penyajian grafis. Sepintas mirip film kartun tapi hampir mendekati film dengan gambar seperti biasanya. Ada kesan tersendiri saat melihat penyajiannya.

A Scanner Darkly bercerita tentang perjuangan seorang polisi narkoba memerangi Substance D yang menjadi obat bius paling merusak namun tersebar luas di masyarakat.

Sang polisi ini pun rela menggunakan obat terlarang ini agar bisa masuk dalam jaringan pengedar yang terselubung rapi.

Film bagus yang tidak terlalu menggurui agar penontonnya tidak menggunakan pil setan yang sering kali merenggut nyawa orang terdekat yang kita sayangi. Cukup bermakna untuk ditonton dan dicermati.

The Curse of Golden Flower

Sebelum menonton film ini, saya membayangkan sebagus apakah film yang dibintangi Gong Li sebagai permaisuri dan Chow Yun Fat sebagai sang kaisar. Dan jelas film ini film kolosal yang melibatkan ribuan orang dalam pembuatannya.

Ternyata alurnya lambat dan kurang menggigit. Biasa saja. Adegan laganya jauh kurang hebat dibanding Hero atau Crouching Tiger Hidden Dragon.

Hanya saja ada beberapa hal yang melipur kekecewaan saya yaitu bangunan megah dan kostum artis yang berwarna-warni. Terus terang saya juga penasaran melihat film ini karena ada pelesetan ‘golden corsette’ – korset emas yang sedikit kontroversial karena dinilai terlalu menonjolkan buah dada.

Minimal, film ini hendak menggambarkan bagaimana sulitnya harmoni sebuah keluarga yang dikemas dalam bentuk keluarga kerajaan yang kompleks. Sebagai sebuah hiburan film ini lumayan. Tak lebih dan tak kurang.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.