Waisak 2551/2007

Tak lama lagi umat Buddha di Indonesia dan juga di dunia akan merayakan Hari Raya Waisak. Pada perayaan kali ini akan jatuh pada tanggal 1 Juni 2007 – jam 08.03.27 WIB.

Berdasarkan pengumuman Walubi, tahun ini mengangkat tema:

Dengan Semangat Pengamalan Dharma Sang Buddha Mari Kita Tingkatkan Toleransi Beragama untuk Perdamaian Dunia

Topik yang sangat tepat. Perdamaian dunia memang menjadi harapan jutaan insan manusia. Semoga kita sebagai makhluk yang beragama, mampu menjadikan agama sebagai way of life daripada burden of life. Kuncinya satu: toleransi.

Bila Anda berkesempatan, silakan berkunjung ke Borobudur ketika detik-detik Waisak menjelang. Pada saat itu 6 negara Asean akan merayakan Waisak bersama-sama.

Bagi Anda yang memeluk ajaran Buddha, saya ucapkan

Selamat Merayakan Hari Raya Waisak!

Damai bagi semua makhluk di bumi…

Kesendirian, Pembunuh Berdarah Dingin

Tak dinyanya, semakin lama manusia disibukkan dengan belasan, puluhan atau ratusan aspek kehidupan. Dan tentu perlu waktu untuk menyelesaikan semuanya tersebut. Waktu untuk bersama teman dan keluarga bila perlu dikorbankan.

Lalu, hanya satu yang tersisa: kesendirian. Saat tak ada orang disamping untuk sekedar bicara, berbagi rasa atau hanya berdampingan. Menjadi ‘sendiri’ adalah hal yang menakutkan. Tidak percaya?

Saat kecil pastilah rasa paling menakutkan adalah ditinggal. Selalu saya si kecil, diri kita, merengek minta diperhatikan. Untuk eksis di dunia ini. Kekhawatiran saat ditinggalkan.

Seperti juga ‘ditinggal pacar’, ‘pensiun dari tempat kerja’, ‘dikucilkan karena fitnah tak bermutu’, dan ‘bekerja jauh dari banyak orang laiknya orang di pertambangan’.

Akal sehat bisa hilang. Seorang insan sehat mental pun bisa bertindak brutal tak tentu arah. Hanya untuk mendapatkan suatu pendampingan. Yakin bahwa you’ll never walk alone di dalam hidup ini.

Harapan dan Keyakinan

Seperti ‘mana yang duluan ayam atau telur’. Harapan tumbuh dari keyakinan. Namun, seyogyanya keyakinan ada karena mempunyai harapan. Saling menumbuhkan.

Itulah yang saya pikirkan, kala sedikit berbincang dengan teman. Dia tidak menyinggung banyak tentang itu. Hanya saja saya terpikirkan untuk mengetahui ‘apa sih harapan hidup saya’.

Setelah itu lalu bertanya juga pada diri saya sendiri, ‘apa benar saya sungguh-sungguh yakin pada diri saya’ untuk mencapai harapan saya.

Saya berharap maka saya yakin. Atau justru, saya yakin maka harapan saya makin besar.

Satu yang pasti, dua-duanya dibutuhkan setiap insan untuk menjalani hidup ini sebagai manusia yang bertujuan dan berhasrat tinggi. Tidak banyak orang yang masih punya harapan dan juga keyakinan? Anda sendiri bagaimana?

Ubi

Beberapa saat yang lalu saya bercakap-cakap dengan teman melalui Yahoo! Messenger. Katanya dia mendapatkan pelajaran dari seorang petani ubi. Sebuah ajaran tentang hidup.

Lalu terlintas saya berpikir, kalau belajar dari ubinya bisa atau tidak? Coba perhatikan ubi, yang biasanya dianggap makanan ketinggalan jaman masyarakat desa, yang tumbuh di dekat pematang sawah atau di kebun.

Meski tanahnya kurang berkualitas dan kurang air, ubi tetap hidup dengan baik. Pernah dengar daerah bernama Wonosari dan Gunung Kidul yang senantiasa selalu rawan kekurangan air. Di sanalah tumbuh banyak ubi, maklum tanaman lainnya menyerah.

Ubi, sebaliknya, tak menyerah kalah. Tetap hidup di tempat gersang. Satu kuncinya: persediaan nutrisi hidup yang ada di akarnya. Bisa mengecil atau membesar tergantung kondisi alam.

Dalam bahasa konkritnya, tabungan. Masa sulit atau masa biasa, biasakan menyimpan uang. Hingga tak menyerah di tengah sulitnya kehidupan…

Traffickaholik Melanda Blogger

Menulis adalah kegiatan yang menyenangkan. Beragam pendapat bisa dituangkan dalam suatu media. Tulisan dibaca oleh orang lain, tentu lebih menyenangkan. Bayaran tersendiri setelah bersusah-payah. Dan (we)blog adalah salah satu dari beragam media tersebut.

Hanya saja, ada beberapa blogger yang rupanya sangat ingin blognya diperhatikan oleh sekian banyak pengunjung. Tergila-gila dengan penampang statistik. Seperti yang sedang ramai sekarang ini yaitu mengadu traffic atau semacam itu…

Padahal statsitik yang berkaitan dengan bilangan adalah permainan setan. Maksudnya, tidak akan ada ujungnya. Tak terbatas dan selalu ingin menambah jumlahan.

Segala upaya dilakukan (dan cukup berhasil), seperti di bawah ini:

Menulis tentang hal-hal yang sedang diperbincangkan dengan cara membabibuta dan berlebihan. Semisal, kasus IPDN.

Memasang foto gadis seksi, seronok, seksi dan membangkitkan gairah serta meningkatkan syahwat.

Memiliki beberapa blog lain yang tak lain untuk merujuk blognya sendiri.

Blogwalking dan dengan rajinnya memberi komentar seadanya, paling tidak ada rujukan balik ke alamat blognya.

Setelah mendapat banyak hit lalu apa? Bukankah lebih baik menulis sesuatu yang berguna dan otomatis banyak orang mendapatkan makna. Syukur-syukur makin banyak yang berdatangan. Manfaat, bukan hanya kepuasan sesaat.

SBSI

Kepanjangan dari Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI). Suatu organisasi untuk para buruh. Jadi direktur, manajer dan bahkan aparat keamanan pabrik tidak boleh menjadi anggotanya. Suatu kelompok yang eksklusif, kan? Padahal jumlah pendukungnya teramat banyak.

Dengan ide bahwa ‘bersama kita bisa’ maka mereka menyuarakan bersama keprihatinan mereka atas pabrik dan alat kapital lainnya. Padahal ya salah sendiri kok mau-maunya bekerja untuk institusi yang jelas-jelas kapitalis. Cukup mengherankan…

Saat membuka Wikipedia saya menemukan situs KSBSI. Ketika menekan tautan (link) situs resmi tersebut, saya tak mendapatkan halaman apa pun. Mungkin saja, para buruh pembuat situsnya sedang mogok kerja. Apa boleh buat… 

Atau bisa jadi server-nya mogok kerja karena capai disuruh kerja melulu.

Buruh, Suku Cadang Mesin Produksi

Saat mobil mogok karena karburatornya tidak berfungsi, sang pemilik mobil cukup mengganti karburator yang malfungsi tersebut dengan yang baru. Mudah dan cepat. Tinggal ganti suku cadangnya tanpa harus mengganti keseluruhan mobil.

Seperti itulah kondisi buruh saat ini di tanah air atau pun di mana pun juga. Bila ada yang sakit, hamil atau berhalangan, pemilik pabrik tinggal menggantinya dengan tenaga kerja yang baru. Itu pun mudah didapatkna karena banyak yang antre, meskipun untuk menjadi buruh sekalipun.

Apalagi bila ada ‘kerikil’ yang cukup vokal memperjuangkan haknya dan rekan-rekan kerjanya. Besok hari sudah diganti ‘karburator’ lain yang bekerja selaras dengan keinginan si empunya mobil.

Toh, tinggal bilang ‘maaf, kami rasa Anda sudah tidak layak bekerja di sini dengan alasan…’ Yang pasti ada 1001 alasan yang bisa dibuat.

Padahal, satu buruh bisa jadi menjadi tulang punggung 3 atau 4 anggota keluarganya. Tidak bisa lagi memburuh berarti berakhirnya kehidupan lebih dari satu orang. Buruh, oh, buruh… 

Suruh, Buruh dan Rusuh

Rasanya sudah menjadi kebiasaan tersendiri untuk menyuruh seseorang yang lebih muda, lebih rendah posisi jabatannya (itu pun kalau punya jabatan) atau lebih bisa disuruh-suruh.

Direktur menuruh manajernya. Dan kemudian si manajer menuruh bawahannya yang lalu terus menyuruh pekerjanya. Para pekerja yang bisa disebut mandor tentu akan menyuruh yang paling bisa disuruh-suruh, yaitu buruh.

Buruh tak bisa menyuruh siapa pun lagi. Jelas karena kelasnya paling memelas. Maka bekerjalah para buruh ini. Atas suruhan para penyuruh yang saling menyuruh. Sampai di sini, masih belum bingung, kan?

Masalahnya daya tahan buruh untuk disuruh ada batasnya. Bila disuruh terus-menerus tapi hanya mendapat gaji tidak utuh padahal sudah berpeluh maka timbullah rasa jenuh. Lalu timbullah rusuh.

Bila tidak ingin buruh menjadi rusuh, hendaklah tidak menyuruh lebih dari yang seharusnya. Bila tidak, bisa jadi pabrik atau alat produksi terbakar musnah tanggal 1 Mei 2007 bertepatan dengan Hari Buruh.  

Profesi

Ketika masih kecil ada saja orang dewasa yang menanyakan kepada kita, “kalau besar, nanti mau jadi apa?”. Maksudnya yaitu hendak bekerja sebagai apa. Jadi ingat lagunya Ria Enes dan Susan.

Waktu kecil pastilah banyak yang menjawab untuk menjadi dokter, guru atau bahkan polisi. Maklum, profesi yang disebut terakhir tersebut sering membantu anak kecil menyeberang jalan. Kalau anak kecil sudah besar, ya mereka membantu ‘membayarkan denda ke pengadilan’ dengan sedikit imbalan.

Tidak ada yang bilang, saya mau menjadi buruh. Sungguh-sungguh tidak ada. Kalau pun ada, orangtuanya pastilah menangis sejadi-jadinya. Dalam hati membatin, ‘ini anak, bodohnya setengah mati’.

Tapi meskipun begitu, menjadi buruh bisa jadi istimewa. Alasannya ada hari buruh, yang selalu hadir tanggal 1 Mei tiap tahunnya. Kali ini datang hari Selasa tanggal 1 Mei 2007. Tidak ada kan hari pramugari atau hari pengusaha. Kalau ada anak-anak bingung dengan pilihannya, tunjukkan saja daftar pekerjaan di Wikipedia. Biar mereka memilih sendiri nasibnya. Oh, nasib…

Jikalau mereka memilih menjadi ‘buruh’, ajarkanlah sejak dini ‘berorasi dengan suara keras’, ‘pintar mengorganisir teman-teman untuk demo’ dan ‘keterampilan bela diri jika dipukuli aparat keamanan’.

Hari Buruh 1 Mei 2007

Hari tersebut adalah hari yang istimewa untuk para buruh, memiliki nama lain sebagai May Day. Hari Buruh selalu dijadikan momen istimewa bagi kelas pekerja untuk menuntut hak mereka. Memperbaiki sistem penggajian, fasilitas kesehatan yang lebih memadai dan kesejahteraan yang layak.

Berjuta-juta pekerja bersatu padu dan menyeruak di jalan-jalan, di kawasan pabrik dan di pusat kota. Isinya sama, menyerukan kepada dunia suara-suara semacam ‘tingkatkanlah taraf hidup kami’, ‘sejahterakan kami’ atau ‘berantas kapitalisme’. Tindakan mereka sungguh terpuji, membela kehidupan mereka. Berjuang untuk hak mereka.

Hanya saja, lupakah mereka bahwa mereka sudah ‘menjual jiwa’ tatkala menandatangani lembaran putih bertinta hitam bertuliskan ‘surat kontrak’. Mereka sudah setuju, mengapa harus ingkar. Bukankah seharusnya ada komitmen hingga masing-masing pihak memutus hubungan. Kecuali bila perusahaan atau institusi itu yang betu-betul tak memberi hak dan melaksanakan kewajiban.

Sekali seseorang mengiyakan surat perjanjian dengan bubuhan tanda tangan maka pantaslah ada rantai yang mengikat tangan dan kayu yang mengikat kaki. Kan sudah setuju…

Saya sedih karena begitu banyak orang rela menjadi buruh. Bukankah ada banyak pilihan profesi seperti halnya menjadi pengusaha (meski kecil-kecilan), menjadi seniman, membangun desa atau menggarap sawah. Kecuali, ya, untuk buruh tani. Itu lain cerita.