Kering

Saya selalu sibuk. Terlalu banyak yang dipikirkan. Tekanan kerja terlalu berat. Saya capai. Saya bosan. Jiwa saya terasa kering kerontang. Tak semangat hidup rasanya. Hidup ini tak berarti. Life’s sucks!

Bila itu yang Anda rasakan. Seperti bunga layu di tengah panasnya gurun paris dan terpanggang teriknya matahari. Bertandanglah ke rumah ibadat sesuai dengan agama yang Anda yakini. Masjid, gereja, vihara,pura atau pun kuil. Tempat di mana ada kedamaian. Sebentar pun tak mengapa. Ada secuil rasa damai.

Akan lebih bagus juga saat Anda memutuskan untuk melakukan ziarah atau perjalanan spiritual. Ada ketenangan di sana. Ada siraman air yang menyegarkan jiwa.

Setelah penat sirna. Kembalilah ke kehidupan Anda. Tentu dengan jiwa yang tak lagi kering. Jiwa yang hidup.

Lalu, Anda akan lebih menikmati kehidupan ini…

Posisi

Mohon dibaca dengan baik sekali lagi. Ya, posisi. Bukan polisi. Posisi hadir dalam konteks. Kata ini identik dengan kata-kata berikut: atas, bawah, sebelah, samping, depan, belakang dan lain sebagainya.

Ada pepatah klise menyebutkan posisi menentukan prestasi. Benarkah? Mari kita buktikan bersama.

Seorang pejabat eselon berkata, “Wah, seandainya saya di bisa mendapat kursi di Departemen Agama, yang katanya termasuk basah dan pahalanya besar, pastilah posisi saya akan teramat nyaman.”

Seorang Schumacher menjelaskan, “Saya bisa melaju cepat karena posisi start saya saat itu sangat menguntungkan. Menang itu lumrah bagi saya karena saya selalu bisa mendapat posisi yang tepat.”

Seorang istri berkisah, “Bapaknya anak-anak memang hebat. Sudah berpuluh tahun kami mengarungi bahtera rumah tangga, dia tidak pernah sekalipun mati gaya. Dia selalu bergairah mencoba posisi yang berbeda-beda tiap kami memadu asmara di ranjang. Asyik, deh!”

Inzaghi bisa melesakkan bola ke dalam gawang lawan karena dia memang cukup mahir mengoper bola sekaligus saat itu dia berada dalam posisi tepat di sisi kanan gawang.

Seorang agen real-estate berhasil menjual sebuah rumah dengan harga yang kelewat tinggi. Alasannya, posisi rumah itu sangat strategis, dekat dengan pusat kota dan berada di area yang aman.

Mudah-mudahan Anda percaya. Maka dari itu lihat baik-baik di mana posisi Anda berada. Tentu sekarang Anda sedang di depan monitor. Bukan itu. Maksud saya di mana posisi Anda dalam kehidupan ini?

Jodoh

Jodoh di tangan Tuhan. Benarkah? Saya pun mengangguk tanda setuju. Mungkin pula Anda seiya-sekata dengan saya. Lalu, duduk manis dengan tenangnya menunggu hingga jodoh muncul sendiri di hadapan kita? Tentu tidak. Manusia harus tetap berusaha berjuang menemukan pasangan hidupnya.

101 satu cara dilakukan insan manusia agar dapat mendapatkan jodohnya. Minimal kesempatan bertemu. Ada beberapa cara (tentu tidak semuanya) yang sering dan umum dilakukan manusia, antara lain:

Komunitas. Mengikuti kelompok aktivitas tertentu memungkinkan seseorang memiliki circle pertemanan yang lebih luas. Baik itu berdasar kumpulan hobi, organisasi nirlaba, klub olahraga mau pun click minat yang sama. Tentu yang paling sering dan mudah adalah organisasi berlatarbelakang agama.

Sosialita. Bertandang ke tempat-tempat di mana banyak manusia berkumpul dengan tujuan mencari teman atau bahkan pasangan hidup semisal: bar, kafe atau karaoke.

Temannya teman temannya. Bermula dari satu teman, seseorang bisa mengenal orang lain yang merupakan teman yang lainnya pula. Anaknya teman bapak rekanan teman saya. Nah, bingung, kan?

Makcomblang. Cari teman yang suka menjodohkan teman yang satu dengan yang lainnya. Siapa tahu cocok di hati? Asal makcomblangnya jangan yang juga jomblo. Soalya, bisa jadi dia tak terbukti sukses atau boleh jadi pagar makan tanaman.

Biro jodoh. Ini dia solusi bagi yang setengah menyerah. Baik itu biro jodoh online atau pun offline. Siapa tahu dari beratus jomblo yang lain ada yang sama-sama mendamba dan akhirnya jadian.

Orang tua. Bila sudah mengibarkan bendera putih, bolehlah minta bapak atau ibu untuk menjodohkan dirinya dengan orang lain (yang kebetulan juga dijodohkan karena tak laku-laku). Ortu pun turun tangan.

Dukun. Kalau yang ini lebih baik jangan. Meskipun gadis cantik atau pemuda ganteng terpikat, toh tak sepenuhnya mereka memberikan perasaan mereka. Seperti zombie yang terpaksa mencintai.

Bila teramat sukar dan tak berpengharapan, coba deh tanyakan dan mintalah pada Sang Khalik. Namun, jangan lupa untuk membuka mata hati, siapa tahu jodoh sebenarnya sudah di depan mata. Hanya saja tak menyadarinya.

Saat Kehabisan Inspirasi

Hampir kebanyakan blogger pernah merasa kehabisan inspirasi. Menanyakan pada diri sendiri, “mau nulis apa, ya?” Bagaimana dengan Anda? Apakah pernah mengalaminya? Saya sudah sering mengalami itu.

Ada beberapa cara supaya kita bisa terus-menerus menyuplai otak sehingga tak pernah kehabisan ide. Seperti berikut:

Pakai panca indera Anda. Mata untuk melihat sekeliling. Telinga untuk mendengar percakapan. Hidung untuk mencium. Mulut untuk berdiskusi tentang banyak hal. Dan rabaan untuk menganalisis suatu barang berwujud. Ada banyak hal menarik yang dapat Anda serap dari segala aspek kehidupan di dekat Anda.

Buka dan baca koran online. Banyak memberi wacana dan pemikiran. Tidak harus berita paling gres. Namun, berita yang menggelitik benak Anda.

Bila tak berhasil juga mendapat suntikan inspirasi. Berhentilah menulis sesaat. Lupakan untuk mengisi lembaran-lembaran blog Anda. Lakukan hal lain. Cepat atau lambat, jari-jemari Anda tak kuasa untuk segera kembali menari-nari di atas papan kunci (keyboard). Saat itulah posting demi posting akan bermunculan dengan sendirinya.

Keep blogging!

Menikah dan Sepatu

Baiklah, pasti ada yang bertanya ‘apa hubungan antara menikah dengan sepatu’. Tentu bila melangsungkan upacara pernikahan lebih pantas jika memakai sepatu yang terbaik. Namun, bukan itu yang akan kita bicarakan.

Ada suatu pepatah yang saya dapatkan dari film Korea berjudul Bride from Hanoi yaitu:

Menikah itu sama seperti memilih sepatu. Meskipun sepatu tersebut dipandang sangat bagus oleh orang lain, namun bila tak nyaman dipakai tentu percuma.

Benar juga. Nyaman menjadi prasyarat utama. Sedangkan untuk orang lain dianggap baik atau tidak, itu soal lain.

Apakah Anda sudah menemukan ‘sepatu’ nyaman yang akan Anda gunakan hingga ajal menjemput?