Underwater World Singapura dan Hiu

Kagum saya bahwasannya di Underwater World yang terletak di Pulau Sentosa, Singapura tersebut banyak terdapat aneka ragam ikan. Termasuk kepiting dan binatang laut lainnya. Artinya, Sang Khalik memang hebat dalam mencipta dunia ini. Bukan terkagum dengan arsitektur yang membuat kolam ikan raksasa ini.

Hanya saja, saya tertegun kala melihat ikan hiu. Betul, hiu yang besar dengan mulutnya yang menganga lebar. Bila tak ada kaca penghalang, pastilah saya lemas tak berdaya. Atau sudah masuk di perutnya.

Namun, sang predator ini hanya terbaring lemas di dasar kolam. Alasannya, sebagai perenang handal yang memiliki teritori luas, sekarang hanya menempati kolam yang tak seberapa besar. Mau berenang juga susah, sebentar-sebentar harus belok atau menabrak dinding akuarium. Patah arang karena siripnya yang kuat terasa dikebiri.

Itu pun masih dipandangi tiap hari oleh pengunjung dan dihujani kilatan cahaya blitz dari ratusan kamera.

Tak seyogyanya binatang buas yang bebas mengarungi samudera harus meringkuk dalam kandang air buatan manusia.

Pergaulan Bebas dan PSK

Tentu tak perlu bertanya apakah artinya pergaulan bebas. Yang pasti bebas untuk melakukan apa saja, termasuk hubungan intim.

Sedangkan PSK adalah kependekan dari Pekerja Seks Komersial. Lebih sering disebut pelacur. Atau kata yang lebih samar adalah kupu-kupu malam.

Ramai diberitakan bahwa keduanya sama-sama meningkat jumlahnya di hampir seluruh tempat di dunia ini, terutama kota besar.

Saya pikir keduanya ada hubungannya. Yaitu bahwa kebutuhan untuk mendapatkan pemenuhan seksual bertambah pesat. Seiring dengan ekspos media tentang seksualitas yang berlebihan, norma dasar yang mulai memudar atau pun pengaruh peer-pressure semata.

Tapi juga ada kontradiksinya. Coba pikir, masuk akalkah bila: jika mendapatkan pemenuhan seksual sekarang jauh lebih mudah dan gratis (baca: pergaulan bebas), lalu mengapa orang masih perlu mencari kepuasan yang tentu berbayar (baca: PSK).

Seharusnya bila pergaulan bebas makin merebak maka tidak ada lagi yang membutuhkan layanan seks berbayar. Betul, kan?

Tertangkap Basah

Sering kita dapati di harian surat kabar bahwa ada frasa tertangkap basah.

Dua pasang remaja itu sedang tertangkap basah saat melakukan hubungan intim di kamar kos di sebuah pinggiran Jakarta.

Kawanan pencopet yang sering beroperasi di lampu merah ditangkap basah oleh polisi yang menyamar.

Kepala sekolah menangkap basah tiga orang guru yang mengedarkan jawaban soal UAN – ujian akhir nasional.

Yang membuat saya bertanya-tanya bukanlah tentang perbuatan mereka yang melanggar norma. Justru, karena ada frasa tertangkap basah. Darimanakah asal kata tersebut?

Mungkin, kata tertangkap basah berasal dari pengertian bahwa orang yang hendak melakukan suatu tindak di luar norma akan berkeringat. Khawatir tindakannya akan diketahui orang lain. Jadi, keringat itulah yang membuatnya basah kuyup.

Tentu akan berbeda dengan tindak kriminal di bawah ini. Yang jelas-jelas basah kuyup.

Tiga orang pencuri kelas teri tertangkap basah kala sedang mencoba menjaring ikan Kakap di dalam tambak ikan kala sedang turun hujan kemarin malam.

Scribo, ergo sum

Pernah dengar pepatah kuno cogito, ergo sum? Jika ingat, maka Anda akan mengaitkannya dengan Rene Descartes. Benar, artinya lebih kurang

Saya berpikir, maka saya ada.

Saya terlintas kata-kata itu saat siang tadi berkesempatan chatting dengan seorang teman yang bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan nasional. Dari ceritanya, sungguh, saya terharu bahwa dia masih memiliki impian untuk memublikasikan buku obsesi pribadinya. Sama seperti saya. Semoga apinya tak padam karena kesibukan yang boleh jadi menumpulkan pena untuk menulis.

Dan dia pun memberi saya pepatah scribo, ergo sum.

Saya menulis, maka saya ada.

Menarik. Bahwasannya, dengan menulis maka eksistensi kita muncul dan diakui. Jadi teringat dengan Pramoedya Ananta Tour. Padahal keberadaan pengarang tersebut selalu ingin dilenyapkan oleh tiran penguasa.

Tentunya menulis tidak harus dalam bentuk buku cetakan. Anne Frank meninggalkan jejaknya di diari, para blogger menggoreskan pikirannya di blog mereka dan programer menulis barisan kode di aplikasi komputer yang mungkin sedang Anda pakai ini.

Suka menulis? Segeralah menulis. Tak usah menyebutkan 1001 alasan. Tulis saja apa yang ada di benak dan hati Anda. Maka keberadaan Anda akan disadari, minimal oleh diri Anda sendiri.

Video Porno

Apakah Anda sudah pernah melihat film biru? Atau mungkin Anda termasuk yang aktif menentang peredaran film perangsang syahwat yang sering dikambinghitamkan sebagai penyebab perkosaan? Video porno ramai dicari hingga ke mana-mana tapi juga dicaci sebagai media yang membuat turunnya moral masyarakat, terutama kaum muda.

Karya dijital esek-esek ini memang sering dimanfaatkan sebagai sumber jawaban keingintahuan mengenai salah satu misteri dunia “bagaimana sih rasanya gituan?”. Meskipun lebih banyak biasnya daripada benarnya. Coba bayangkan, sepasang insan beda jenis bisa asyik masyuk dengan intim selama berjam-jam tanpa jeda. Selain itu fungsinya juga untuk mendapatkan ‘kepuasan semu’.

Lepas dari ajaran agama dan politisasi pornografi dalam RUU, video bokep membawa dampak yang membahayakan bagi kesehatan mental. Bahwasannya, apa yang terjadi di dalam film tersebut beda teramat jauh dengan kenyataan. Bila batasnya menjadi tak jelas dalam benak seseorang, boleh jadi yang dikira normal menjadi tidak normal.

Bagaimana bila seorang laki-laki (yang sebenarnya) normal (tapi terlalu banyak menikmati video porno) melakukan malam pertamanya dengan berasumsi bahwa seharusnya ‘proses penyatuan dua tubuh’ berlangsung 2 jam (seperti adegan rekaan di film). Dan pada prakteknya, burungnya sanggup ‘bertempur’ hanya dalam belasan menit (selayaknya orang lain pada umumnya).

Dia akan berpikir dirinya mati pucuk (bahasa Malaysia untuk impoten). Nah, kalau sudah begini kita hanya bisa berkata reality bites.

Terikat

Kita tak berbicara napi yang kebebasannya terikat hukuman penjara. Begitu pula laki-laki dan perempuan yang terikat janji pelaminan.

Yang akan dibahas saat ini adalah insan yang terikat dengan benda nyata. Begitu lekatnya diri mereka ke suatu benda  sehingga boleh dikata jiwa mereka sudah menyatu ke benda yang dimaksud.

Seorang Samurai bisa jadi patah arang bila Katana-nya patah.  Pedang bukan hanya sebilah besi, tapi juga merupakan senjata, ego dan jati diri.

Seorang kolektor lukisan tidak akan mau melepaskan lukisan koleksinya walau diiming-imingi uang jutaan rupiah.

Seorang ibu rumah tangga tidak akan rela orang lain menyentuh perabotan masaknya. Apalagi banyak yang meminjam tapi tak kembali.

Tukang becak akan gelap mata bisa becaknya disita dan hanya untuk dijadikan ‘rumah’ untuk ikan di muara sungai.

Programer terlampau sering mengutak-atik dan mengelap komputer kesayangannya, bagaikan pengendara moge (motor gede) dengan Harley Davidson-nya.

Penggemar gadget dengan barang elektronik kesayangannya. Pernah membaca bahwa pengguna ponsel Siemens tetap setia memakai ponsel tersebut meski perusahaannya sudah gulung tikar.

Kapten kapal Titanic yang memilih tenggelam bersama kapal yang tercabik gunung es.

Penulis buku kawakan yang tetap mengetik menggunakan Brother. Meski laptop sudah tersedia dihadapannya.

Apa boleh dikata? Saat jiwa sudah erat melekat pada barang mati, tak perlu lagi ada debat. Namun, apa benar hal tersebut baik adanya. Bagaimana bila barang tersebut hilang? Susah, kan?

Seyogyanyalah, jiwa itu bebas tak terikat. Kecuali melekat pada raga. Bila tidak, tentu badan sudah terbujur kaku di lubang tanah dengan diameter dua kali empat.

Blog, Blogger dan Komputer

Apapun blognya dan siapa pun penulis blognya, boleh jadi perihal komputer kerap tertuang di halaman blog mereka.

Apa pasal? Mungkin karena aktivitas blogging terkait dengan ketersediaan perangkat komputasi. Erat hubungannya. Oleh karena itu wajar bila menjadi salah satu topik bahasan para blogger di blog mereka.

Mari kita lihat contohnya.

Pemilik blog menceritakan tipe dan spesifikasi komputernya. “Saya ngeblog memakai Macbook dan rasanya puas sekali.”

Blogger curhat mengenai kendala yang dialami komputer yang dipakainya. “Maaf, beberapa hari ini tidak bisa posting gara-gara cakram keras macet dan prosesor mogok kerja.”

Gerilyawan blog terkena imbas mahalnya ongkos pemakaian komputer (dan koneksi internetnya). “Blog jarang saya update maklum tarif warnet naik drastis.”

Nasib naas yang menimpa blogger yang menjalankan blognya dari server komputer sendiri. “Aduh, posting selama 2 tahun hilang percuma saat komputer terkena virus. Padahal saya malas back-up.”

Bagi blogger yang nebeng (pinjam) komputer orang lain. “Wah, update biasanya langsung online. Kalau pakai blog writer dekstop kan harus instal dulu, ga enak sama yang punya.”

Gue baru jalan-jalan di mal saat menulis posting ini.” Nah, ini mereka-mereka yang menggunakan laptop ber-wifi dan suka menikmati koneksi hotspot gratisan.

“Sudah lama tak ada update. Maklumlah, di kantor sedang ada pengawasan pemakaian komputer.” Adakah yang tersenyum pahit? Mungkin, bagi Anda yang blogging dari komputer dinas. Namanya juga working hours, bukan blogging hours.

Tentu itu belum termasuk para blogger yang memang hendak membahas hal-hal yang berkaitan dengan komputer. Itu lain lagi.