Disleksia

5 Agustus 2007

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang disleksia, silakan baca Disleksia – Wikipedia. Intinya, otak tidak berhasil mengenali huruf dengan sempurna dalam konteks membaca dan menulis. BBC juga membahasnya di Dyslexia.

Sebenarnya tidaklah susah benar dengan adanya ketidakmampuan otak ini. Yang memberatkan adalah perlakuan orang lain terhadap penyandang disleksia. Entah itu ejekan semacam ‘bodoh’ atau pun celaan akan kekecewaan guru dan orang tua pada nilai ujian yang buruk. Maklum, membaca saja sulit apalagi menulis.

Seberapa frustasi mereka dalam belajar? Sulit untuk menerkanya. Sebagai kiasan, silakan baca paragraf berikut.

Sungghu tak makmpu saay membcca tlsn guru di papan lutis. Saay menretdi disklesia sehingg tka datap membcca degnan semprna. Milunes jagu sulit sakali. Rasya sptsri membcca tlsn di sms tolpen. Tapi ini hebil sulit sakali. Sulti. Dan tamen-tamen mengejak saay. Maul sakali. Mrah saya.

Kasihan, kan? Ada rasa iba yang melanda. Yang pasti, seseorang yang menyandang disleksia akan memiliki tantangan tersendiri (alih-alih menyebutnya ‘halangan’) untuk blogging. Kecuali vlog atau phlog. Namun, tak ada istilah menyerah. Disleksia pun layak mendapat tempat di blogosphere, baik yang teks maupun non-teks.

Soalnya beberapa penulis blogger kedapatan salah eja. Salut untuk mereka. Bisa jadi, mungkin malas mengeja semata atau tergesa karena ongkos warnet yang mahal.

protego blogo munggur

2 Tanggapan ke “Disleksia”

  1. .\Goio Berkata

    Bagaimana dengan yang ini, bung Munggur? Apakah seorang penderita disleksia akan membaca seperti ini?

    Aku setuju, beban berat justru lebih sering datang dari lingkungan-yang-cacat, dan bukan cacat-diri.

  2. Dhany si Pipit Berkata

    Dah ada kok bukunya dalam bahasa Indonesia.
    Qanita
    Living with Dyslexia
    segera terbit
    OK
    thanks


Tinggalkan Balasan