Banyak orang mengeluh bahwa mereka memiliki kedudukan. Namun, hampa tak berarti. Sebatas simbol dan minus otoritas.
Ya, seperti Samurai tanpa Katana. Berdiri tegak namun sebenarnya memilih membuang muka. Apalah artinya memiliki hal yang membanggakan yang tampak dari luar namun hanya kekosongan belaka. Oleh karena itu barulah saya paham mengapa banyak orang memilih melepas jabatannya untuk memulai usaha mereka sendiri. Begitu juga dengan artis yang membanting setir ke bidang baru sama sekali.
Samurai seperti itu memang merasa bahwa mereka tak ubahnya boneka yang digerakkan oleh tali-temali (puppet doll). Digerakkan oleh sang pengendali di atas mereka. Bergoyang ke kanan atau ke kiri karena kehendak orang lain. Tak bebas. Tak ada rasa puas.
Namun, apakah menjadi Ronin dengan pedang biasa juga lebih baik?
6 Agustus 2007 pada 7:01 PM
hmmm… kayaknya semua tergantung pilihan, kadang pilihan yang kita jalani tidak sesuai dengan kita bayangkan “samurai tanpa katana”…. jika pada saat realita berkata lain maka mamposlah kita hehehehe… banting stir seperti mas munggur bilang, mencari celah lain… menyakitkan sekali jika berhadapan dengan kenyataan seperti itu..
waduh aku lupa cerita tentang ronin jadi bbelom bisa jawab nih mas.. tapi kalo ga salah sih ronin tak akan bisa hidup dengan pedang biasa, harakiri dengan terhormat dari pada jiwa ronin harus dihina seperti itu
*
*kalo ga salah lho mas
6 Agustus 2007 pada 9:43 PM
kurang tepat. justru Ronin itu pendekar tanpa tuan. dia mati pun gak ada yang perhatiin. Ronin itu tak ubahnya tukang pukul freelance. berkelahi untuk uang semata. dan tak punya tatanan jelas. tapi berjiwa bebas.
justru yang samurai yang seppuku/harakiri (sebenarnya agak beda) bila malu dengan hasil kerjanya atau kalau berbuat kesalahan).
beda lagi dengan mushashi, dia pernah jadi dua-duanya. tapi memilih untuk menjadi guru pedang.
benar, semuanya kembali pada pilihan.