Tabung Gas dari Taiwan

Dengar Taiwan pastilah sebagian dari Anda teringat akan F4 atau Pulau Formosa yang berarti ‘cantik’. Tapi sebentar lagi pastilah Taiwan identik dengan tabung gas. Ya, tabung untuk menyimpan bahan bakar cair agar dapur tetap mengepul.

Rupanya Pertamina punya rencana. Seperti yang dilangsir oleh Antara, Pertamina Impor Dua Juta Tabung Gas dari Taiwan. Dengan alasan, negara kita tak mampu memproduksi tabung gas secara masal dan cepat.

Berita basi rupanya bahwa negara yang loh jinawi dengan kekayaan mineral bahan baku, deposit migas (minyak dan gas) dan tenaga kerja melimpah harus mendatangkan tabung gas dari negeri lain. Suatu bentuk ketergantungan. Tentu devisa pun akan melayang. Bayangkan berapa banyak tenaga kerja Indonesia yang bisa diserap untuk memenuhi kebutuhan tabung gas ini?

Mungkin juga merupakan salah satu ‘proyek’ yang basah. Coba bayangkan bila suatu badan usaha mengimpor 2 juta tabung gas sekaligus, tak mungkin bila ‘pipa air tak basah’.

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengelus dada sendiri. Mau apa lagi?

Siapa Curi Burung (Kakatua) Saya?

Sering di kampung-kampung atau pedesaan ada berita semacam ini. Burungnya Pak Amat dicuri orang lalu istrinya berteriak-teriak, “Burung suami saya dicuri! Tolong! Lontong!”. Soalnya, Pak Amat sedang meronda sawahnya apakah airnya meluap atau tidak. Jadi hanya istrinya yang menjaga burung di rumah.

Burung bagi beberapa lelaki dalam beberapa budaya memang merupakan properti amat penting. Kukilo, bahasa Jawanya. Artinya binatang peliharaan. Makin mahal harga dan unik, makin meningkat status pemiliknya. Oleh karena itu, burung menjadi salah satu komoditas yang diperdagangkan dan tentu obyek pencurian.

Sama dengan kasus lagu Burung Kakatua yang katanya diklaim (baca: dicuri atau dipakai tanpa ijin) oleh Negeri Jiran. Beritanya di Antara. Tentu Pak Menteri Jero Wacik jengkel karena ‘burungnya’ dicuri. Oleh karena itu Menbudpar Protes Keras ke Menteri Pelancongan Malaysia.

Untuk Anda yang ingin membaca lirik lagu Burung Kakatua. Bagi yang ingin beternak atau melatih Burung Kakatua. Ini penting karena bukti bahwa di tanah air masih banyak jenis burung ini. Tidak lucu kalau ada lagunya tapi burungnya sudah punah.

Kesimpulan saya, hal-hal yang menyangkut tentang burung pastilah sensitif. Oleh karena itu, jaga tuh burung sebaik-baiknya.

Skema Sejarah Distribusi Linux

Linux. Mendengar itu pastilah sebagian berpikir, “Ah, sulit! Masih mending Windows bajakan.” Pendapat tersebut tidaklah salah. Maklum, mayoritas pengguna memang sudah terbiasa menggunakan sistem operasi buatan Bill Gates tersebut.

Linux dianggap sulit karena memang dulu OS ini hadir tanpa user interface (UI) yang ramah yaitu graphic user interface (GUI). Hampir semua distribusi atau distro Linux memakai konsol. Tampak seperti jaman DOS. Masih ingat?

Namun seraya waktu, banyak kemajuan dicapai oleh Linux. Silakan lihat skema sejarah distribusi Linux. Linux makin ramah pengguna (user-friendly). Dengan begitu banyak orang kesengsem dan memakainya dalam kehidupan sehari-hari.

Linux juga dianggap mampu meningkatkan kemampuan komputasi penggunanya. Apalagi orang-orang yang mengembangkannya (baca: developer). Dengan Linux, siapa saja boleh mengkustomisasi dan memodifikasi OS masing-masing. Tidak seperti environment MS Windows yang memang tertutup (baca: proprietary).

Satu hal tentang Linux. Sesuai untuk mereka yang suka belajar dan bereksplorasi. Tapi ya itu, banyak orang malas untuk mencoba OS baru dan mempelajarinya. Paling tidak give a try to Linux. Siapa tahu ntar jadi suka dengan Si Penguin bernama Tux tersebut.

Leopard Bisa Jalan di PC

Sudah tradisi rupanya bahwa para hacker selalu mencoba menjalankan Mac OS di PC. Tentu dengan segala keruwetan dari segi teknis. Juga termasuk dalam pelanggaran kesepakatan pemakaian Mac OS. Lalu, bagaimana dengan Leopard, versi terbaru dari Mac OS?

Menurut PC World, sudah ada yang bisa mengutak-atik sehingga si kucing besar itu bisa main-main di PC. Beritanya ada di Leopard Hacked to Run on PCs. Meski tidak serta-merta orang awam bisa melakukannya, tapi paling tidak ada contoh nyata dan bukan sekedar teori belaka.

Persoalannya, bagaimana performance-nya? Tentu para fans Mac akan menjawab dengan spontan bahwa performance Mac OS yang tidak beroperasi di habitat aslinya pastilah tidak akan senormal dan secantik Mac OS yang ada di dalam komputer/laptop keluarga Apple, seperti Macbook, iMac atau pun Mac Mini. Masuk akal, kan?

Bagaimana pun juga Mac OS dan komputer/laptop Apple memang seperti jiwa dan raga. Sudah satu paket. Dua-duanya diciptakan memang untuk saling melengkapi satu sama lain. Sudah klop. OS yang sesuai DNA-nya dengan perangkat kerasnya. Begitu juga sebaliknya.

Jadi, akan lebih mantap bila menggunakan Leopard dengan Macbook. Bukannya komputer PC yang biasa diisi dengan MS Windows. Karena bakalan tidak sejiwa. Mengapa Leopard menarik bagi saya? Tak ada alasan teknis. Semata karena selera. Maklum, namanya juga switcher – orang yang berganti dari OS lain ke Mac OS.

Yahoo! Messenger 9.0 Beta

Internet menawarkan sarana komunikasi murah meriah cuma-cuma. Salah satu alat komunikasi yang baru saja muncul yaitu Yahoo! Messenger 9.0 Beta yang memiliki UI (User Interface) dalam berbagai bahasa. Termasuk Bahasa Indonesia.

Ada rasa berbeda saat mengunduh, menginstalnya dan segera menjajal messenger yang hadir dengan bahasa ibu tersebut. Maklum, biasanya hanya menggunakan bahasa yang dipakai Queen Elizabeth.

Ada beberapa fitur tambahan yang menarik seperti menonton video dan gambar langsung dari jendela chatting.

Namun, sebelum memasangnya di komputer Anda, cek terlebih dahulu apakah spesifikasi komputer Anda memadai. Bila kurang sesuai, mungkin ada baiknya tetap menggunakan versi lama yaitu versi 8.1 atau sebelumnya. Toh, yang penting tetap bisa mengobrol dengan lancar dan mudah.

Makan Udang dan Mata Berkaca-kaca

Biasanya orang mengeluarkan air mata saat makan sajian nan pedas. Contohnya seperti Rica-rica atau Rendang Padang dengan Sambal Hijau. Maklum, ada zat yang merangsang kran di sekitar hidung dan mata terbuka.

Namun, siang ini setelah saya makan udang Tempura sewaktu makan di Ichiban Boshi, Suntec City Mall, mata saya berkaca-kaca. Bukan karena kepedasan. Namun, melihat udang yang besar itu saya teringat sesuatu. Terjadi berkali-kali tiap kali saya makan udang.

Ingat bahwa ibu saya senang sekali makan udang yang besar. Dan saya belum sempat mentraktirnya. Selalu terlewat karena berbagai kesibukan dan domisili di tanah rantau, Negeri Merlion.

Ya, liburan Natal nanti saya harus membawa ibu saya ke salah satu restoran sea food di Kota Gudeg. Harus makan udang yang besar. Ada yang tahu di mana? Tak sabar rasanya menunggu bulan Desember datang. Aku pasti pulang dan ingin melihatnya tersenyum puas saat makan udang.

Saya berjanji dalam hati.

Kawin itu Tidak Mudah

Bukan, bukan nikah yang saya maksudkan. Sungguh-sungguh saya hendak menyoal tentang kawin. Dengan kata lain menyoal aktivitas ‘gituan‘. Masak Anda masih bingung juga.

Mungkin sebagian besar dari Anda berpikir bahwa untuk melakukan hubungan intim itu perkara mudah. Buka baju dan langsung melesat ke surga dunia. Benarkah begitu mudahnya? Ternyata tidak. Ada banyak faktor yang membuatnya relatif rumit.

Faktor fisik. Bila Anda terlalu capai karena bekerja hingga larut malam setelah seharian membanting tulang memeras keringat, apakah masih ingin membakar kalori setara dengan jogging di malam harinya? Itu pun jika Anda tak punya embel-embel penyakit gula, jantung atau ginjal. Terlebih yang memiliki kasus impotensi atau frigiditas.

Faktor psikologis. Saat stres dan persoalan pribadi, kantor dan sosial Anda sedang ruwet-ruwetnya apakah cukup nyaman menyalurkan hasrat bercinta? Apalagi bila ditambahi dengan penyakit mental kronis karena depresi.

Faktor relijius dan moral. Bertemu orang lalu langsung ‘main ranjang’. Rasanya tidak semua orang melakukan apa yang bisa kita lihat di Sex and the City. Itu lho serial yang ada adegan ‘kumpul kebo’. Sebagian orang masih menganut prosesi agama dan kesepakatan tradisi. Yang sakral dan yang legal.

Faktor finansial. Memang ada hubungannya antara ngeseks dan uang? Satu tetangga saya rasanya tak punya cukup uang untuk membeli ‘latex pelindung’ bernama kondom. Alhasil, saban tahun anaknya bertambah. Bahkan, orang yang suka ‘jajan‘ pun perlu uang untuk mendapatkan pelepasan nafsunya.

Faktor wawasan. Tidak semua pasangan mengalami orgasme. Mungkin sama-sama tidak punya ‘kecerdasan seksual’ atau SQ – Sex Quotient. Tahunya ya sekedar masuk-keluar-selesai. Tak ada seni sama sekali. Atau malah yang aneh-aneh seperti di film bokep tapi hasilnya patah tulang. Coba bayangkan adegan ‘monyet naik pohon’ tapi pohonnya ambruk karena tak kuat menahan monyet yang celakanya obesitas.

Faktor keamanan. Pernah membayangkan bagaimana kawin di tempat pengungsian karena bencana alam atau situasi huru-hara padahal tinggal sama-sama dengan puluhan orang di satu tenda? Begitu pula dengan tinggal di Rumah Mertua Indah yang dindingnya teramat tipis dan mampu menghantarkan suara rintihan tertahan dan desahan? Apalagi yang coba-coba ‘gituan’ di tempat kos-kosan yang rawan razia warga dan resiko diarak bugil.

Jadi jangan dipikir kawin itu mudah. Ada sih yang bilang Just Do It dan ga usah pake mikir. Mungkin itu pula yang membuat gelar ‘MBA’ sekarang ini makin mudah didapat anak-anak tanggung usia bangku SMU atau kuliahan.

Perkara kawin-mawin memang tidak semudah kala manusia belum berevolusi. Saat masih dikategorikan sebagai mamalia primata yang bertulang belakang. Dulu, begitu ada hasrat bisa asal tubruk. Kalau sekarang mungkin asal tubruk bisa membuat Anda masuk penjara atau dipukuli oleh massa.