Menikahlah Denganku

Bagaimana bila suatu hari ada orang yang Anda sayangi menanyakan kalimat sederhana seperti judul postingan ini kepada Anda?

Ada tiga respon yang berbeda-beda. Pertama, langsung menjawab ‘Ya’ karena memang amat yakin dengan orang yang mengatakan hal tersebut. Sebaliknya, berkata ‘Tidak’ karena amat tidak yakin dengan lawan bicaranya.

Ada juga yang pusing tujuh keliling untuk mengambil keputusan. Tidak yakin apakah harus mengiyakan atau menolaknya. Beribu bayangan muncul menghantui. Bimbang dan rasanya mengambang. Hanya berkata lirih, “Bolehkah aku memikirkannya terlebih dahulu.”

Menikah memang tidak mudah. Ada banyak konsekuensi dalam keputusan, yang seyogyanya, sekali seumur hidup tersebut. Berbagai faktor bisa memberatkan atau meringankan. Yang pasti tidak semudah memilih sepatu atau baju.

Tidak semudah di film kartun. Seperti saat seorang Ksatria yang bertemu Putri Salju, keduanya langsung jatuh cinta dan berciuman. Lalu mereka hidup berdua bahagia selamanya. Menurut saya, justru film Shrek menjadi tontonan yang lebih jujur daripada Cinderella atau Beauty and the Beast.

Warnet Ubuntu dan Warnet Mac

Dulu saya termasuk pelanggan setia warung internet (warnet). Menyambangi warnet yang berbeda-beda untuk mencari yang canggih sekaligus nyaman. Terutama yang baru saja dibuka. Boleh dikata, Kota Gudeg memiliki banyak warnet. Jumlahnya tak terkira.

Sayangnya, hampir semua warnet tersebut memakai MS Windows sebagai sistem operasi komputer klien. Umumnya memakai Windows XP, entah bajakan atau yang legal.

Suatu kali saya senang karena warnet langganan saya beralih ke Linux Xandros. Pengalaman baru untuk saya. Tapi warnet itu jadi tak laris dan tak lagi beroperasi.

Ada rasa senang dan penasaran saat mendengar Tentang Warnet Ubuntu. Lebih heran lagi saat mendengar tentang Warnet Mac. Warnet yang memakai Mac juga dibahas di Warnet Mac? dan Mac buat Warnet. Maklum saya sendiri termasuk pemakai Mac OS.

Tentu ada tantangan untuk mewujudkan Warnet non-Windows. Yang jelas ide tersebut menarik meski secara bisnis beresiko tinggi. Bila ada info menyoal warnet dengan sistem operasi ‘tidak umum’, silakan berbagi di papan komentar.

Saya pun masih memiliki cita-cita membuka warnet sejak pertama kali berkenalan dengan internet. Sungguh, saya selalu kangen berinternet di warnet. Terutama warnet-warnet di Kota Gudeg.

Pakai Konten Blog Tanpa Ijin

Saya mengamati akhir-akhir ini bahwa ada peningkatan kualitas dan kuantitas di blogosphere Indonesia. Lebih matang dan lebih kompak. Saling merujuk artikel yang berguna. Juga saling membantu. Bahkan ide untuk berbagi konten berisi pengetahuan dan opini ke masyarakat luas semakin diterima dengan baik.

Konten yang bermanfaat seyogyanya dipakai bersama. Dengan begitu bangsa ini menjadi cerdas. Namun, dipakai bersama bukan berarti bahwa suatu konten berhak disalin, ditempelkan dan diedarkan dengan seenaknya. Ada sopan santun dan etika.

Seperti pagi ini, saya mendapati ada tautan balik ke blog saya. Ternyata tautan ini berasal dari postingan berjudul chatting yahoo messenger lewat firefox. Judul beda sedikit tapi isinya sama persis. Diambil mentah-mentah dari postingan saya dengan judul Chatting melalui m.yahoo.com dari Firefox.

Apakah ini bisa disebut pembajakan atau pencurian konten? Diubah sedikit lalu ditampilkan di blog lain. Tanpa memberi rujukan kepada pemilik konten blog tersebut. Perilaku seperti ini tidak elegan dan tidak etis. Fenomena yang klasik tapi kian hari tambah marak.

Berbagi tidak sama dengan mencuri. Berbagi itu sama-sama mendewasakan dan mencerdaskan melalui cara yang terpuji. Bukan mencuri untuk kepentingan pribadi.

Mbah Ronggo dan Gunung Kelud

Di Yogya, tentu Anda pernah mendengar Mbah Maridjan dan Gunung Merapi. Ternyata kota Kediri pun punya ‘mbah’ yang pintar membaca tingkah-polah gunung. Namanya Mbah Ronggo yang menjadi jusru kunci Gunung Kelud.

Poskota memberitakan bahwa SBY Bertemu Juru Kunci Gunung Kelud. Rupanya sang kepala negara juga ingin mengetahui ‘kondisi kesehatan’ gunung tersebut. Dengan begitu, bisa mengambil keputusan yang tepat bagi warga sekitar kaki gunung.

Semoga saja, Gunung Kelud cepat-cepat berubah pikiran untuk meletus kali ini. Sama seperti Gunung Merapi yang urung memuntahkan luapan laharnya. Semoga hanya batuk-batuk saja dan mengeluarkan lahar sedikit demi sedikit.

Dengan begitu warga sekitar tak jadi korban. Dan Gunung Kelud tetap menjadi ikon unik kota tersebut. Mari berharap agar Gunung Kelud keluar dari kemelut yang membuat kalut dan takut.

Megawati ke Negeri Merlion

Lucu juga saat baca berita di Antara bahwa Megawati Periksa Kesehatan ke Singapura. Benar bahwa fasilitas dan kualitas medis di sini memang modern dengan dokter dan perawat yang ditanggung bagus.

Hanya saja eks presiden tak perlu jauh-jauh memeriksakan kesehatan bila dulu berhasil mewujudkan sarana kesehatan yang berkualitas. Mungkin karena terlalu sibuk dengan kepentingan yang lain sehingga rumah sakit pun terbengkalai.

Jika rumah sakit saja tak beres, bagaimana pula dengan kondisi yang dialami masyarakat di pelosok, di daerah pinggiran, warga kurang sejahtera dan seluruh populasi secara keseluruhan. Apalagi yang hidupnya kurang mampu. Tidak sejahtera.

Mungkin hanya terima nasib. Menerima keadaan karena tak mampu berobat ke Negeri Merlion. Sayang sekali. Apa boleh buat? Semoga presiden yang sekarang dapat memperbaiki sistem kesehatan sehingga tak perlu pergi ke negara tetangga untuk sekedar check-up.

Kapan? Kapan-kapan.

Blogging dari Samsung U700

Pagi ini saya mencoba menulis posting dari Samsung U700 yang dilengkapi fasilitas 3G. Dengan kartu pasca bayar Starhub dan akses ke WordPress melalui m.wordpress.com yang memang untuk dibuat untuk perangkat bergerak. Lumayan, paling tidak bisa blogging secara alternatif. Meski kurang nyaman karena papan kunci kurang besar dan tidak murah ongkos 3G-nya. Paling tidak saya pernah menjajal blogging melalui gadget mobile.

Klaar en Annuleren

Artinya ‘kelar dan anulir’. Ternyata bahasa wong londo (baca: Belanda) itu diadopsi oleh bahasa Indonesia.

Pernah dengar ‘Skripsinya sudah kelar belum?’. Begitu juga dengan ‘Keputusan hakim baru saja dianulir.’

Ternyata tidak jauh-jauh amat dari kata ‘klaar’ dan ‘annuleren’. Tentu masih banyak kata serapan Bahasa Indonesia yang berasal dari Bahasa Belanda.

Anda tahu kata-kata yang lainnya?