Saya selalu bilang ke beberapa teman yang perempuan, “Cepat-cepat melamar pekerjaan sebelum kedahuluan dilamar”. Soalnya kalau sudah terlalu asyik menjadi ibu rumah tangga, bisa jadi ijazah bangku kuliah jadi tak berguna lagi. Menjadi sekedar pajangan yang dulu dibayar mahal dengan uang jerih payah orang tua yang penuh harapan.
Menyoal ‘melamar’ ternyata berarti dua. Melamar pasangan hati dan melamar pekerjaan. Untuk Anda, mana yang lebih mudah? Mungkin Anda termasuk yang sepakat dengan saya bahwa melamar pekerjaan jauh lebih mudah.
Pasalnya bila saat wawancara kerja paling-paling ditanya pertanyaan klise seperti “Lulusan S1 memangnya punya pengalaman apa?”, “Anda sudah siap dengan resiko pekerjaan ini?” atau “Apa saja yang bisa Anda lakukan untuk kami?”. Lalu, saat ditolak dengan 1001 alasan, lebih mudah menerimanya. Namanya juga saringan. Kalau berhasil ya syukurlah. Kalau sebaliknya, ya besok coba lagi di kantor yang lain.
Sedangkan melamar anak gadis dari orangtuanya membuat adrenalin mengalir lebih cepat ke sel-sel tubuh dan darah mengalir deras di jantung yang dag-dig-dug. Pertanyaannya boleh jadi menakutkan semacam, “Kamu yakin bisa memberi hidup yang baik untuk putriku?”, “Omong-omong gajimu berapa? Sekarang di rumah kontrakan atau rumah cicilan?” atau yang lebih menohok “Cinta? Makan tuh cinta. Ekonomi masih senin-kamis kok ngajak anak orang nikah. Kamu serius?”
Dan kalau ditolak mentah-mentah, pasti hati akan teriris karena pada saat yang sama pertanda bahwa Anda kehilangan ‘istri masa depan’ Anda. Untunglah, tak banyak calon mertua yang mengerikan. Buktinya banyak orang menikah. Terus terang, belum pernah saya melamar anak orang untuk diajak menikah. Hanya terlintas dan itu pun sudah cukup membuat pikiran menerawang terlalu jauh.
5 November 2007 pada 2:38 AM
wah apa? cewek melamar? apa skrg tradisinya gitu yah?
atau ini lagi di ranah minang?
5 November 2007 pada 8:14 AM
ini namanya kalah sebelum perang… belum pernah nyoba melamar tapi udah takut duluan.. peace mas !!
5 November 2007 pada 2:52 PM
Menerawangnya jangan terlalu jauh Bung, nanti sulit kembali,
5 November 2007 pada 9:11 PM
@grak:
ralat. yang benar ‘melamar pekerjaan’. ternyata ada ya cewek melamar? mau dong…
@sayap ku:
siapa bilang takut duluan. ini kan wacana semata. tapi meski demikian ada saja yang tanpa bekal apa pun nekat melamar. hasilnya ya hanya gigit jari. tapi dilamar juga bisa membuat orang deg-deg-an kan?
@smartnwise:
makasih sudah mengingatkan. benar. nanti sulit kembali.
16 November 2007 pada 10:38 AM
melamar untuk nikah, kalo udah siap mental dan batin biasanya sich, lancar-lancar aja. apalagi kalo keluarga wanita udah seneng… aman deh.
16 November 2007 pada 10:36 PM
sip! jadi sudah punya pengalaman melamar ya? so, bagaimana? oke-oke aja, kan?