Tahun Baru 2008
Iya. Tak diingatkan pun saya tahu bahwa sebentar lagi harus mengganti kalender. Dari lembaran bertuliskan 2007, ganti ke lembaran 2008. Saya sudah siap menjalani tahun baru. Sudah mulai menghitung hari. Membayangkan apa yang akan terjadi di tahun mendatang. Bisa jadi tambah Hoki (beruntung) atau dapat Ciong (buntung). Ah, bukankah jalan hidup sudah ada yang menatanya yaitu Sang Khalik.
Tahun Baru 2008 bisa diartikan sebagai tahun yang lebih baik atau pun kurang baik tergantung pribadi masing-masing. Bila tahun ini nasib Anda kurang baik, lebih baik bila berpikir tahun depan kondisi akan membaik. Bila sudah baik, berarti tahun berikutnya akan lebih baik. Optimis menyambut tahun baru.
Pergantian tahun sering dimanfaatkan sebagai momen untuk membuat resolusi. Haruskah? Ah, tergantung kita masing-masing. Resolusi bisa kapan saja. Hanya tahun baru kan datang sekali setahun, mungkin terasa lebih khusus.
Hmm… Tak sabar menunggu tahun baru. Ada horizon baru menyambut. Tantangan yang mungkin menarik. Tahun 2008 yang berarti menjadi tahun kedua di Negeri Merlion. Ya, mencari sesuap bakpao dan seporsi Dim Sum. Meski begitu, saya masih ingin lebih lama menikmati hari-hari penuh liburan di dusun Munggur, sebuah tempat hangat di Kota Gudeg. Paling tidak hingga hari kedua di tahun 2008.
Untuk Anda, saya ucapkan
Selamat Tahun Baru 2008!
Semoga Tahun Baru 2008 memberi lebih banyak makna bagi kita semua.
Dua Minggu di Kota Gudeg
Dua minggu menurut saya tak cukup lama untuk menikmati liburan di Kota Gudeg. Namun, rupanya bagi beberapa sanak keluarga dan teman yang berlibur di Yogya, 2 pekan termasuk istimewa. Banyak yang iri. Pasalnya, mereka hanya mendapat jatah cuti berkisar 3 hingga 5 hari saja. Itu pun dengan ijin yang tak mudah didapat.
Masih seminggu tersisa. Cukup untuk berwisata kuliner, bertemu teman lama dan juga menyambangi toko buku dan menyusuri jalanan di Yogyakarta. Semoga hujan berkurang agar saya tak lagi masuk angin dan flu berat. Liburan kok malah sakit. Ga asyik, kan?
Tentu liburan kali ini juga tak hanya bersantai dan bersenang-senang. Hari-hari ini juga ingin saya gunakan untuk mengurus beberapa hal yang belum selesai. Juga, untuk berpikir apa yang hendak saya lakukan di tahun 2008.
Dua minggu tak cukup lama. Semoga bermakna. Paling tidak rehat badan dan jiwa. Melepas rindu. Dan makan-makan sajian Kota Gudeg yang didominasi rasa manis. Uenak tenan!
Ngenet di Addicted
Selama liburan di Yogya, baru kali ini saya kembali berinternet. Kali ini menjajal koneksi internet gratis di Kafe Addicted di Jalan Effendi (yang dulunya bernama Jalan Gejayan). Tak benar gratis karena seyogyanya membeli minuman yang tak murah bagi saya.
Yang penting bisa ngenet. Meski tak secepat yang saya ingini, lumayanlah bisa membaca email dan blogging. Bersyukur bahwa kian banyak kedai minum yang menawarkan layanan internet cuma-cuma. Tentu, asalkan pesan makan atau minum.
Asyik, bisa ngenet sambil minum anget-anget dan makan cemilan.
Garuda Telat, Penumpang Marah-marah
Saat tulisan ini dibuat jam menunjukkan pukul 07.25 tanggal 20 Desember dan di layar televisi terlihat bahwa Sholat Ied baru saja kelar. Pada jam tersebut seharusnya saya sudah sampai di bandara Adisucipto Yogyakarta. Kenyataannya, saya masih nongkrong menunggu Garuda yang tak kunjung datang. Telah habis segelas Starbucks dan sepotong bun Rotiboy.
Para penumpang saya lihat sebagian marah-marah dan berkerumun di dekat petugas operator yang sedang bertugas di ruang boarding nomor F1. Segelintir orang yang kurang tata krama rupanya menumpahkan kemarahan mereka ke petugas yang hanya menyampaikan informasi dan memeriksa tiket.
Memang marah boleh saja, maklum penumpang sudah membayar mahal untuk tiket pesawat maskapai terbaik sekaligus termahal di negeri ini. Hanya saja tak perlu memaki-maki petugas yang juga kebingungan. Masalah terletak pada pesawat, bukan petugas. Apalagi petugas tersebut tak berhubungan langsung dengan teknis burung besi, hanya bagian yang menjaga pintu boarding.
Mereka yang menendang meja, menggebrak dan berteriak frustasi justru memperkeruh keadaan. Ada mulut untuk negoisasi. Tak perlu bertingkah sekasar tersebut. Naik pesawat itu perlu etika. Tak sama dengan naik angkut. Apalagi ada beberapa turis yang melihat kekasaran tersebut. Malu, sungguh malu.
Permasalahan rupanya terletak pada kru yang terlambat datang. Saat kru datang, para penumpang yang dilanda amarah mencaci-maki. Ah, sungguh kurang berbudaya. Ya, Garuda memang melakukan kesalahan yang fatal. Terlambat mengudara. Amat terlambat. Tapi, tak seharusnya para penumpang menjadi beringas. Memalukan.
Tulisan ini baru bisa diposting sekarang, maklum sekarang saya termasuk golongan blogger fakir bandwidth. Padahal tadinya hendak mencoba liputan langsung. Ya, gitu deh…
Changi 19 Desember 2007
Ya, untuk sekian kalinya saya menulis blog dari internet gratis di bandara Changi. Pasti saya sempatkan tiap kali bepergian dari bandara di Negeri Merlion ini.
Di Changi berarti memulai sebuah perjalanan. Kali ini perjalanan pulang ke kampung halaman. Menuju Jakarta untuk transit lalu ke Yogyakarta. Untuk pulang ke ‘home sweet home’ selama ini selalu memakai rute Changi – Cengkareng – Adisucipto.
Pulang untuk melepas rasa kangen, makan-makan daging kala Idul Adha, merayakan Natal dan juga menyambut tahun yang segera berganti, tahun 2008. Benar-benar liburan.
Pesawat Garuda yang saya tumpangi rupanya sudah siap untuk kami naiki. Selamat malam…
Pahitnya Kejujuran, Diari dan Cinta
Baru saja saya mendengarkan salah satu video lagu grup band Bread yang berjudul Diary. Nadanya pelan, enak didengar. Tapi segera saya tersenyum saat membaca sekaligus mendengar syair lagu Diary ini.
Rupanya bercerita tentang sebuah diari yang membuka sebuah rahasia. Ada suatu kejujuran yang tertulis tapi terasa pahit di hati. Hingga meneteskan airmata. Apa yang tampak di permukaan belum tentu menggambarkan apa yang ada di relung hati.
Sang gadis yang dicintai si jejaka ternyata menyimpan hati untuk lelaki lain. Si lelaki mengetahui hal ini saat tak sengaja menemukan diari sang gadis. Apa boleh di kata? Memang lega saat menyadari suatu rahasia. Namun, jelas sangat mengiris hati. Ada kecewa, ada rasa kehilangan. Ada harapan yang mulai padam.
Jujur itu tak gampang. Namun, lebih baik berterusterang daripada suatu hari kelak menyakiti hati orang lain.
Ah, lagu-lagu dari Bread memang mendalam. Bisa membuat pendengarnya terhanyut. Eniwei, hati-hati menyimpan diari. Siapa tahu ada yang membaca tak sengaja. Kecuali bila Anda menulis diari di blog. Nah, itu lain soal.
Liburan di Yogya, Akhirnya…
Sudah lama saya memendam rasa rindu pulang kampung halaman. Ya, Kota Gudeg. Dan kali ini tak tanggung-tanggung panjangnya yaitu 14 hari. Besok hingga tanggal 2 Januari tahun depan. Tahun 2008. Asyik! Liburan telah tiba.
Koper sudah terisi penuh dengan baju, buku titipan, Tau sar Piah Deli dan Bak Kwa untuk buah tangan. Tiket Garuda dan paspor sudah di tangan. Tinggal tunggu jam kantor berakhir lalu segera menuju ke Changi. Ah, saya menyukai bandara ini. Tiap kali saya berada di Changi, berarti ada perjalanan yang siap dinikmati. Kali ini perjalanan pulang.
Tak sabar lagi ingin segera memijakkan kaki di kota kecil dekat Gunung Merapi itu. Hanya saja, saya pasti tak akan bisa sering-sering menulisi blog Munggur ini. Maklum, koneksi internet di tanah air masih terbatas. Tak secepat internet di Negeri Merlion ini. Hal ini juga pasti membuat aktivitas blogwalking terkurangi drastis.
Yogya, tak sabar lagi aku pulang ke dekapan, keramahan dan kehangatanmu… Ya, aku pulang ke dusun Munggur.
Merenungi The Warlords
Film ini bukan untuk anak kecil dan mereka yang menghindar adegan kekerasan banjir darah dan sadis. Film The Warlords memang film perang. Namun, bukan film perang semata, ada banyak kisah manusia yang dihantar melalui tiap-tiap adegan melawan maut.
Film kolosal ini menyuguhkan beragam permaknaan di balik banyaknya adegan perang dan silat yang benar-benar menggambarkan kebuasan, kekerasan dan kebiadaban manusia kala dihadapkan pada momen hidup mati. Bahwa ada tujuan mulia, moralitas manusia dan kesetiaan yang masih terdapat di medan perang paling tak manusiawi sekali pun.
Namun, ada pertanyaan sederhana ‘mengapa harus berperang antar satu sama lain?’. Saya lebih suka memberi alasan bahwa semuanya kembali ke sumber daya. Bisa jadi itu berupa makanan, teritori, orang-orang dan termasuk wanita yang dianggap sebagai hak milik pada konteks waktu saat peperangan itu terjadi.
Lalu, bila seseorang sudah memiliki sumber daya, apakah dia sudah cukup? Kata ‘cukup’ memang relatif. Bukankah waktu kecil kita makan sedikit, setelah makin besar kita mengasup makanan yang jumlahnya lebih banyak. Itu termasuk kebutuhan akan sumber daya lainnya. Dan ‘tak cukup’ bisa membuat orang tega merebutnya dari tangan orang lain.
Film ini, yang diangkat dari sejarah di Negeri Tiongkok pada masa kekaisaran Dowager, juga memberikan betapa manusia akan berjuang mati-matian demi menyelamatkan nyawa mereka sekaligus mencapai tujuan masing-masing. Bahkan, berjuang demi nyawa orang lain.
Banyak yang bisa dipelajari dari sebuah perang. Namun, pelajaran paling penting adalah ‘bagaimana cara menghindarkan kejamnya perang?’. Entahlah. Film ini masih menyisakan banyak tanya di benak saya. Silakan menonton film ini.
Selamat Idul Adha
Sebentar lagi tanggal 20 Desember. Tepat pada saat itu pasti banyak kambing dan sapi yang meregang nyawa. Tak perlu khawatir, bukan karena wabah. Namun, karena hewan-hewan tersebut dipotong untuk kemudian dibagi-bagikan kepada semua orang yang membutuhkannya. Sebagai korban.
Selama ini saya selalu berasumsi bahwa daging korban merupakan bentuk distribusi kekayaan yang nyata. Daging sebagai simbol sekaligus bahan pangan yang penting diberikan oleh si kaya kepada si kurang mampu. Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan yaitu bahwa memberi harus ikhlas. Bukan sekedar sarana mengumpulkan pahala semata.
Seorang teman di seberang bertanya, kalau Idul Adha mengucapkan apa ya? Hmm… Saya berpikir sejenak lalu berkata “Selamat Makan Daging”. Ah, saya bercanda. Sungguh saya tak tahu. Omong-omong, adakah ucapan khusus kala Idul Adha?
Menyoal Idul Adha, mungkin ada yang kurang paham ngapain sih hari itu dan untuk apa. Coba silakan ulik Idul Adha – Wikipedia. Tapi memang ada pertanyaan mengenai tahun berapakah tanggal 20 Desember 2007 pada Kalender Hijriyah – Wikipedia. Tahun 1427, 1428 atau 1429? Menurut salah seorang teman tahun ini tahun 1428. Semoga benar.
Untuk Anda yang memeluk agama Islam, bolehlah saya berucap:
Respon Blogger pada Suatu Wacana dan Momen
Boleh dikata bila banyak blogger selalu rajin mengikuti perkembangan terkini. Dari tulisan-tulisan mereka, kita para pembaca atau sesama blogger dapat mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini. Semisal, ada bencana tanah longsor, gempa bumi, perang, perayaan agama, peringatan peristiwa penting atau pun kejadian biasa yang dilihat dari kacamata tak biasa.
Bila pada hari ini ada kehebohan karena harga bensin turun 50 persen, pastilah secepat kilat ada saja blogger yang meresponnya dan menuliskannya saat ini juga. Memang ada yang menyangsikan keakuratan data. Namun, itu kemudian dibantah dengan argumen bahwa blog memang lebih menekankan aspek opininya. Yang pasti, saat peristiwa terjadi maka saat itu juga terlahirlah sebuah postingan baru.
Blogger boleh jadi bisa memberikan sebuah gambaran yang luas bila konteksnya tepat. Ambil contoh, blogger yang berada di Sulawesi tentu bisa menulis dengan lebih jelas apa yang terjadi di Poso daripada rekan blogger yang berdiam di Sumatera.
Yang menarik adalah fenomena blogger yang merangkum tulisan-tulisan yang membahas topik sama. Dengan begitu para pembaca mendapat informasi berlebih.
Salah satu contohnya adalah artikel Terima Kasih, dari blog Itik Kecil, yang masih berkaitan dengan HIV/Aids dan peringatannya. Artikel rangkuman seperti inilah yang layak diapresiasi. Memudahkan para pembaca mengikuti wacana paling hangat saat tersebut.