Hari Tanpa Belanja
Tersenyum kecut saya saat menemukan artikel tentang Hari Tanpa Belanja dari postingan berjudul Kampanye Hari Tanpa Belanja 2006. Baru tahu bahwa tiap tanggal 26 November ada hari di mana beberapa orang pantang berbelanja. Soalnya, di Negeri Merlion tak ada tempat yang tak ada pusat perbelanjaannya. Bahkan, toko berderet memanjang saja bisa dinamakan mal, seperti Toa Payoh Mall.
Memang benar bahwa saya tak berbelanja tiap hari. Tapi, tak mudah bila ada hari tanpa belanja. Bahkan, saya termasuk orang yang salut bila ada orang yang peduli dengan ‘tenggang belanja’ sehingga bisa lebih mawas diri mengatur keuangan dan juga sedikit banyak mengerem perilaku hiper-konsumtif.
Silakan ulik lebih lanjut tentang latar-belakang Hari Tanpa Belanja (HTB) – Wikipedia dan ulasan dari Kunci tentang HTB ini. Cukup menarik saya pikir. Gerakan yang sederhana tapi ada manfaat dan meningkatkan kesadaran akan perilaku berbelanja.
Mengapa tersenyum kecut? Soalnya, akhir-akhir ini uang di dompet menipis. Tapi kok bisa-bisanya kemarin malam saya melihat, menawar dan kemudian langsung membayar, tanpa pikir panjang, sebuah barang antik berupa papan catur Tiongkok yang unik. Dan sekarang bergantung hanya pada uang recehan yang terkumpul untuk menukarnya dengan beberapa kerat bakpao dan buah-buahan.
Itulah contoh, perbuatan yang tak seyogyanya ditiru, seorang insan manusia yang pikirannya dangkal. Yang begitu mudah tergoda dengan barang-barang yang dipajang dengan embel-embel diskon, cuci gudang dan banting harga.
Makanya, hati-hati dan pikir dulu sebelum membuka dompet Anda? Apa? Gesek kartu kredit? Itu hutang namanya. Jauh lebih buruk daripada kehabisan uang. Minus.