Archive | 22 Januari 2008

Tolak Masakan Sirip Hiu

Sup sirip hiu. Hmm, kelihatannya santapan yang menggiurkan. Pada kenyataannya, memang sajian tersebut menjadi menu spesial, terutama menjelang perayaan besar semacam pernikahan, perjamuan bisnis atau pun tahun baru. Meski mahal, peminatnya juga tak sedikit. Pernah makan?

Hanya saja, sirip hiu kebanyakan didapat dengan cara paling menyakitkan. Hiu dipotong siripnya saja lalu tubuhnya dibuang ke laut hidup-hidup. Ya, sirip semata. Tanpa sirip, hiu tersebut akan tenggelam ke dasar laut dan mati perlahan-lahan. Sekarat dengan cara paling menyiksa. Kesakitan dan kelaparan tanpa bisa berbuat apa pun untuk menyelamatkan dirinya.

Hari ini sebuah e-mail masuk ke kotak e-mail saya. Isinya tentang keberatan untuk menghadirkan menu sup sirip hiu di suatu acara makan-makan. Dua tautan tentang sadisnya manusia juga disertakan, yaitu Sharks: Stewards of the Reef dan Shark Finning Report. Mengingatkan agar tak lagi memutilasi Hiu untuk sekedar mengunyah sedikit kenikmatan. Salut dan setuju saya pada ajakannya yang mulia. E-mail itulah yang membuat saya merenung. What I’ve done?

Jadi, tugas saya juga untuk mengedarkan ajakan ini. Bukankah blog merupakan sarana komunikasi efektif untuk menyebarkan wawasan seperti ini?

Bila Anda, saya dan orang lain mulai bergabung untuk menolak memakan sirip Hiu, pasti populasi Hiu tak akan punah. Mati sia-sia hanya untuk dimakan siripnya. Coba bayangkan, apa jadinya bila seseorang dimutilasi lengan dan kakinya, lalu dibiarkan di tengah jalan? Tegakah kita?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.