Obituari

Bila seseorang dianggap memiliki pengaruh terhadap orang banyak, biasanya ada obituari. Sebuah pengumuman akan kematian seseorang dan biasanya disertai dengan biografi singkat. Tentu biografi tersebut ditulisi dengan saat kelahiran, prestasi dan lika-liku hidup. Bila dianggap berjasa, dikenanglah seluruh kontribusinya terhadap keluarga, perusahaan atau pun negara. Yang pasti, obituari berkaitan dengan kronologi kehidupan seseorang.

Dulu obituari ditulis saat orang baru saja meninggal. Hanya saja, sekarang ini obituari kadang disiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Biasanya, obituari sebelum ‘jatuh tempo’ dibuat oleh media massa. Dengan begitu, obituari bisa dilangsir kala sang nafas meninggalkan raga orang yang dimaksud.

Obituari yang baru-baru ini menggegerkan adalah obituari untuk Britney Spears. Maklum, dia dikabarkan hendak bunuh diri. Hanya saja dia masih baik-baik saja hari ini. Sedangkan obituari yang masih panas-panasnya adalah Perjalanan Hidup Suharto dan obituari Soeharto. Maklum, beliau baru saja wafat pada hari Minggu kemarin. Berbagai beritanya dapat diikuti di Soeharto Wafat.

Obituari biasanya diisi dengan hal-hal yang relatif baik. Bila ada, tentu ditambahkan hal mulia yang dilakukan seseorang. Obituari tentulah merupakan penghormatan sendiri bagi yang wafat. Ada bukti bahwa dia diingat oleh banyak orang.

Beda dengan orang miskin yang termajinalisasi. Bila meninggal tak ada obituari. Justru ada sebagian orang yang ‘senang’ karena ‘sampah masyarakat’ makin berkurang. Padahal jumlah mereka amat banyak. Banyak yang meninggal tanpa ada catatan sama sekali. Jadi teringat saya dengan Bunda Teresa. Bunda yang merawat jenazah orang miskin yang terlupakan dengan kasih sayang.

Untuk kita yang masih bernyawa, mungkin ada baiknya memperbaiki hidup kita. Dengan begitu, seandainya ada semacam obituari, tak memalukan diri sendiri. Soalnya ada pepatah ‘gajah mati meninggalkan belalai, macan mati meninggalkan belang‘. Seperti itulah…