Ekspresi Teatrikal Saat Valentin

17 Februari 2008

Hari Kasih Sayang sudah usai beberapa hari lalu. Ada banyak hal yang terjadi yang saya amati. Salah satunya adalah sepasang insan di Starbucks tepi Esplanade, Negeri Merlion.

Sang wanita yang bisa dibilang tak muda-muda amat duduk berhadapan dengan seorang pemuda yang usianya lebih muda dari pasangannya. Sang wanita memberikan sebuah bingkisan yang disambut dengan antusias oleh si pemuda. Sang wanita ini memandang penuh harap dan senyum kepada pemuda yang membuka hadiah valentinnya tersebut pelan-pelan. Bahkan terlalu pelan seakan-akan bingkisan itu bom waktu yang bisa meledak tiap saat.

Menit berikutnya adalah drama sesungguhnya. Si pemuda membuka kotak itu dengan mulut menganga lebar dan mata terbelalak seakan-akan melihat keajaiban dunia. Hmm, atau mungkin keajaiban cinta. Isinya ternyata hanyalah sebuah pemutar MP3.

Tapi ekspresi wajah si pemuda itu yang mengganggu benak saya. Terlalu dibuat-buat. Untuk sekedar menyenangkan sang pujaan hati di depannya, kah? Memang benar sang wanita di depannya menanti-nanti respon si pemuda. Untuk dihargai. Untuk memenangkan hati si pemuda. Tapi tak perlu memasang wajah teatrikal yang jelas artifisial.

Ada kesan yang muncul dalam pasangan itu. Bahwasannya cinta dapat ‘dibeli’ dengan hadiah berupa pemutar MP3. Eniwei, mereka berdua (kelihatannya) sama-sama menikmati momen itu dan sama-sama saling tersenyum dan melempar kata-kata indah yang membuai.

Ah, tapi saya tak berhak menilai seperti itu. Saya hanya pengamat. Bukan dokter atau ahli cinta. Hanya saja, ekspresi wajah tak selaiknya dibuat-buat. Yang terpancar keluar, seyogyanya, yang benar-benar muncul dari lubuk hati dan jiwa. Bukan topeng artifisial yang palsu dan memuakkan.

4 Tanggapan ke “Ekspresi Teatrikal Saat Valentin”


  1. orang kalau lagi jatuh cinta kayaknya memang inginnya selalu diperhatikan, pak, hehehehe :lol: kalau perlu bikin sensasi agar pasangannya makin kesengsem, hiks.

  2. munggur Berkata

    tapi kan tak perlu segitunya…

  3. kancutmerah Berkata

    mungkin memang itu bukan artifisial, nggur. mungkin memang sejelek itu wajah dan ekspresi alaminya.

  4. munggur Berkata

    ah, jelek atau tampan/cantik…
    pasti terlihat ekspresinya. jujur atau dibuat-buat…


Tinggalkan Balasan