Badmini

Badmini? Bukan salah ketik. Memang benar-benar ejaannya badmini. kata ini berasal dari istilah badminton mini. Jenis permainan badminton yang diperuntukkan untuk anak-anak kecil. Gagasannya berasal dari Ivana Lie, mantan pemain bulutangkis kenamaan Indonesia.

Coba lihat situs resmi Badmini dan ulik sejarahnya di artikel BADMINI, Jembatan Awal Mengakrabi Bulutangkis. Di sana akan dijelaskan mengapa badmini lebih sesuai untuk anak kecil daripada langsung bermain badminton versi standar.

Saya pikir badmini merupakan sarana yang tepat untuk makin mempopulerkan badminton sejak dini dan merangsang peningkatan kualitas pemain bulutangkis yang makin hari kurang bisa unjuk gigi akhir-akhir ini.

Semoga dengan adanya badmini, badminton di Indonesia kembali berjaya di tingkat internasional. Punya anak? Coba ikutkan mereka main badmini. Siapa tahu jadi Taufik berikutnya.

Sertijab

Bagus! Bila Anda langsung mengaitkan judul postingan ini dengan frasa serah terima jabatan. Memang benar adanya.

Kata sertijab saya dapatkan dari artikel Sertijab, Dirdik Baru Jalan Kaki. Sertijab berarti ada yang lengser dan ada seseorang yang mendapatkan kursi tanggungjawab.

Tentu sertijab memiliki kerepotannya tersendiri. Mulai dari upacara serah terimanya hingga alasan penggantian pemegang posisi tersebut.

Itu pun masih ditambahi dengan rasa iri atau tak suka bila seseorang menempati kedudukan yang baru diserahterimakan. Apalagi jika proses penunjukkannya tak sesuai dengan hati nurani.

Bagaimanapun, saat sertijab terjadi hendaknya ditanggapi dengan rasa suka dan tambahan semangat baru karena orang baru bisa jadi darah segar bagi organisasi atau institusi.

Jampidsus

Ini dia singkatan baru yang rupanya sering muncul di pelbagai surat kabar. Jampidsus. Coba tebak kepanjangannya? Susah?

Ternyata jampidsus merupakan akronim dari Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus. Singkatan ini mulai dikenal luas setelah adanya kasus seputar kejaksaan.

Bila tak ada Urip Tri Gunawan yang tersandung masalah suap-menyuap maka akronim jampidsus bakalan tak dikenal masa.

Satu pertanyaan muncul di benak saya. Bila ada yang ‘muda’, apakah ada Jaksa Agung Tua Tindak Pidana Khusus? Jatpidsus? Yang jelas, biasanya seorang jaksa sudahlah berumur meski tak selalu dewasa (baca: bertanggungjawab dan berlaku benar) mengemban tugasnya.

Maju Sekaligus Mundur

Soren Kierkegaard berkata

“Life must be understood backwards; but… it must be lived forward.”

Pepatah bijak tersebut saya ambil dari BrainyQuote Soren Kierkegaard. Sederhana. Lebih kurang seperti ‘belajar dari masa lalu namun hendaknya menapak maju ke depan’.

Hanya saja sebagian insan manusia seringkali terperangkap di masa lalu. Tak bisa atau enggan untuk mengarah ke masa yang akan datang. Lalu, hanya jalan di tempat dan entah pikirannya menghilang ke mana. Akhirnya, waktu terbuang percuma.

So, just move on. Tatap apa yang di depan. Ke sanalah kaki mengarah. New horizon, new opportunity, new experience!

Jadi, ke mana kaki Anda mengarah sekarang ini? Semoga ke depan, bukannya ke belakang. Itu mah namanya atret (alias mundur ke belakang).

Changi 23 Maret 2008

Saya sudah sampai di Changi ketika mengetikkan postingan ini. Sampai dari liburan selama sepekan lebih sedikit di Yogya, transit di Jakarta beberapa jam saja lalu sampailah di Negeri Merlion ini.

Liburan sudah selesai. Besok sudah harus mulai lagi mencari sesuap bakpao dan seporsi dim sum. Semangat seperti ponsel yang sudah diisi kembali baterainya.

Jadi, tinggal melewati imigrasi, naik MRT selama lebih kurang 45 menit lalu sampailah di apartemen (baca rumah susun yang disewakan). Mengeluarkan beberapa barang dari dalam koper, mandi lalu tidur.

Tentu saja ini berarti kehidupan sehari-hari pun mulai lagi. Termasuk mulai rutin blogging. Sudah lama saya tak menyajikan artikel baru.

Changi 15 Maret 2008

Saya sudah berada di Changi. Itu berarti saya hendak terbang. Kali ini untuk pulang kampung. Ke Kota Gudeg. Tak sabar tapi bagaimana pun harus menunggu Garuda yang ditunda keberangkatannya. Tak heran. Justru kesempatan bagus menikmati nyamannya Changi.

Rupanya layanan internet gratis bertambah banyak hingga saya bisa blogging di bandara ini sembari menunggu jam keberangkatan. Begitu pula tersedia kursi dengan alat pijat kaki OSIM yang bebas dipakai kapan saja.

Setelah usai mengirim postingan kali ini, nanti saya akan menuju Coffee Bean menikmati suguhan kopi di sana. Ah, banyak hal yang membuat orang nyaman berada di bandara ini. Saya menyukai bandara ini. Sungguh.

Menanti pesawat tak membosankan bila kita bisa menikmati layanan nyaman, membawa buku yang menarik, berbincang dengan teman perjalanan (bila ada) atau pun sambil melamunkan banyak hal.

Sudah dulu ya…

Pulang Kampung

Setiap perantau pastilah merindukan kampung halamannya. Termasuk saya. Sudah betah saya tinggal di Negeri Merlion. Tapi tetap saja rindu kota asal. Yogyakarta. Kota di mana penjual Gudegnya ramah-ramah. Manis seperti rasa masakan dari buah nangka itu.

Sudah tak sabar. Ya, besok siang ke Changi. Transit Cengkareng. Lalu ke Adisutjipto. Sampai malam hari.

Lumayan, pulang kampung kali ini sekitar sepekan. Bukan, bukan hanya liburan. Tapi juga merayakan ulang tahun ibunda, membereskan renovasi rumah dan juga mengurus beberapa hal.

Hanya saja, setiap pulang pastilah blogging tersendat. Maklum, koneksi internet kurang bagus di Yogya dan tentu sibuk main dengan keluarga dan teman.

Sudah rindu. Tak sabar lagi…

Ayat-Ayat Cinta

Terus terang saya kurang memiliki minat menonton film Indonesia karena kadang kurang masuk akal dan dibuat-buat. Termasuk film Ayat-Ayat Cinta. Hanya saja saat banyak orang membicarakannya, saya pun jadi penasaran. Sungguh. Bagaimana sih ceritanya, setting-nya yang katanya kurang pas dan ada bumbu kontroversi di sana.

Ulasannya hanya saya baca dari 21Cineplex dan Ruang Film. Sepertinya biasa saja. Tapi mengapa film ini bisa menjadi berita heboh? Ini yang membuat saya ingin menontonnya kala saya mudik untuk libur Paskah. Penasaran.

Jadi alasan saya menonton film ini adalah untuk menjawab rasa penasaran itu. Bukan, bukan pada film itu sendiri. Jadi tak sabar untuk pulang ke Kota Gudeg lalu berkunjung di bioskop di Carrefour…

Semua Ada Harganya

Tak ada barang gratis. Hal ini pun sudah dketahui sejak jaman dulu. Dulu-dulu juga begitu. Oleh karena itu ada sistem barter. Lalu, dikembangkan lebih modern dengan alat tukar berupa uang.

Bahkan yang kelihatannya gratis pun tak selalu gratis. Contohnya seperti ini. Beberapa hari lalu, semua gerai Starbucks yang berjumlah 50 di seluruh pulau Negeri Merlion ini memberikan promosi satu hari minum kopi tanpa bayar kepada seluruh pengunjungnya.

Orang pun ramai berduyun-duyun. Jadilah antrian panjang untuk sekedar mendapatkan satu gelas kopi dari warung kopi waralaba yang terkenal laris manis itu. Hundreds of people joined the crowd at that day.

Bagi saya, bukankah lebih nyaman bila minum dengan membayar seperti hari-hari biasanya. Lebih nyaman daripada berjubel di keramaian untuk menengadahkan tangan minta kopi gratisan. Coba bayangkan trade off yang mereka tukarkan demi kopi itu. Yaitu, waktu dan emosi untuk ngantri.

Semua ada harganya. Tak perlu repot dan ‘mempermalukan diri’ cari-cari gratisan yang tak selalu gratis sepenuhnya. Lebih penting mencari bagaimana mendapatkan alat tukar yang bisa dipertukarkan dengan kebutuhan hidup.

Negeri Es itu Bernama Islandia

Seorang kolega baru saja muncul setelah berhari-hari tak kelihatan. Pertanyaan standar pun terucap, “Darimana saja kok lama tak kelihatan?” Dia menjawab dari Islandia.

Saya pun lanjut bertanya apakah Islandia yang dia katakan itu berada di wilayah Eropa Utara. Dia menjawab tak tahu tentang letaknya. Hanya memastikan bahwa tempatnya amat dingin. Lucu, pikir saya. Geleng-geleng kepala saya masak pergi jauh-jauh tapi tak tahu letak geografinya. Pasti tak merencanakan dan pergi sendiri.

Bagaimana dengan Anda, adakah yang belum mendengar tentang keberadaan Negeri Es tersebut. Belum? Tak perlu khawatir, coba lihat Islandia – Wikipedia dan situs resmi Islandia yang berdomain .is. Jarang-jarang kan menemui domain .is?

Tertarik untuk menjelajahi Islandia? Simak Islandia – Wikitravel, Iceland – Yahoo! Travel dan Islandia – Lonely Planet.

Lalu saya tanya lagi ke kolega saya tersebut apakah dia makan es krim di sana. Ya, itu jawabnya. Saya heran. Maklum, saya berasal dari negeri di lintasan Khatulistiwa yang panas menyengat. Jadi mendengar kata Islandia, saya hanya bisa berekspresi brrr… Dingin.