Tak ada barang gratis. Hal ini pun sudah dketahui sejak jaman dulu. Dulu-dulu juga begitu. Oleh karena itu ada sistem barter. Lalu, dikembangkan lebih modern dengan alat tukar berupa uang.
Bahkan yang kelihatannya gratis pun tak selalu gratis. Contohnya seperti ini. Beberapa hari lalu, semua gerai Starbucks yang berjumlah 50 di seluruh pulau Negeri Merlion ini memberikan promosi satu hari minum kopi tanpa bayar kepada seluruh pengunjungnya.
Orang pun ramai berduyun-duyun. Jadilah antrian panjang untuk sekedar mendapatkan satu gelas kopi dari warung kopi waralaba yang terkenal laris manis itu. Hundreds of people joined the crowd at that day.
Bagi saya, bukankah lebih nyaman bila minum dengan membayar seperti hari-hari biasanya. Lebih nyaman daripada berjubel di keramaian untuk menengadahkan tangan minta kopi gratisan. Coba bayangkan trade off yang mereka tukarkan demi kopi itu. Yaitu, waktu dan emosi untuk ngantri.
Semua ada harganya. Tak perlu repot dan ‘mempermalukan diri’ cari-cari gratisan yang tak selalu gratis sepenuhnya. Lebih penting mencari bagaimana mendapatkan alat tukar yang bisa dipertukarkan dengan kebutuhan hidup.
9 Maret 2008 pada 5:48 PM
ternyata, semakmur makmurnya orang Singapore..masih suka ‘ mempermalukan diri ; untuk sebuah gratisan..
15 Maret 2008 pada 10:11 AM
siapa sih yang nggak suka gratisan. Sudah menjadi sifat manusia.
17 Maret 2008 pada 2:16 PM
gratis kopinnya….antrinya perlu perjuangan, pengorbanan….we keke…tapi yang namanya gratisan emang menggiurkan….