Terus terang saya kurang memiliki minat menonton film Indonesia karena kadang kurang masuk akal dan dibuat-buat. Termasuk film Ayat-Ayat Cinta. Hanya saja saat banyak orang membicarakannya, saya pun jadi penasaran. Sungguh. Bagaimana sih ceritanya, setting-nya yang katanya kurang pas dan ada bumbu kontroversi di sana.
Ulasannya hanya saya baca dari 21Cineplex dan Ruang Film. Sepertinya biasa saja. Tapi mengapa film ini bisa menjadi berita heboh? Ini yang membuat saya ingin menontonnya kala saya mudik untuk libur Paskah. Penasaran.
Jadi alasan saya menonton film ini adalah untuk menjawab rasa penasaran itu. Bukan, bukan pada film itu sendiri. Jadi tak sabar untuk pulang ke Kota Gudeg lalu berkunjung di bioskop di Carrefour…
12 Maret 2008 pada 1:06 PM
wah wah wah…
sebenarnya bagusan novelnya kok
lebih mengharukan.
filemnya gak bisa menggambarkan keadaan yang sebenarnya, jadi klo mau lebih dapat “soul”nya baca novelnya aja mas :p
12 Maret 2008 pada 1:36 PM
wah..ada baiknya menengok hasil karya anak negeri..
btw selamat menengok rumah..
semoga bisa bertemu, sekedar berbagi cerita,
dan sedikit buah tangan dari manca…he..he :p
atau berminat untuk nonton bersama?
12 Maret 2008 pada 3:45 PM
Pasti bagus novelnya Mas…Imaginasi lebih kaya daripada produsernya yang terbatasi dana yang tersedia plus SDM perfilman kita juga masih sangat kurang. Anyway…bravo perfilman Indonesia!
12 Maret 2008 pada 3:51 PM
menarik ga bang?
12 Maret 2008 pada 8:26 PM
Kalo menurutku populer karena bawa-bawa agama bang.
13 Maret 2008 pada 8:42 AM
[...] dan menerbitkan postingan ini. banyak orang berpendapat tentang Ayat-Ayat Cinta ada, ada yang kurang berminat, ada yang mencatat jumlah penonton dan pendapatan film AAC, ada yang beranggapan film ini [...]
15 Maret 2008 pada 1:54 AM
mendingan jangan nonton lah mas.. heheh.. tapi ya monggo lah:)
film aneh nya gak karuan-padahal saya nonton belum baca bukunya-
pas udah nonton baru baca buku dan teteeep…. gakbagus-bagus amat..hehe.. apes
salam kenal…
15 Maret 2008 pada 10:08 AM
Kalau saya lebih suka dengan novelnya. Bnyak yang “melenceng” di filmnya. tapi, kalau mas munggur ingin lihat monggo aja
25 Maret 2008 pada 9:38 PM
Memang lebih bagus novelnya dibandingkan filmnya, tapi dari kesemuanya tergantung dari bagaimana orang menikmati filmnya saja…
Salam TBMR
http://www.thebestmoviereview.com
30 Maret 2008 pada 2:47 AM
Maaf, saya kok nggak bisa mengatakan filem ini bagus ya…mungkin lebih tepat cukup..Tetapi memang mengatakn film ini bagus, cukup, atau jelek juga tergantung dari sudut mana ngambilnya. Kalau novelnya baru bisa dikatakan bagus.
3 Mei 2008 pada 11:20 PM
seandainya saya jadi pemeran fahri