Chomolungma

Hari ini pada beberapa puluh tahun yang lalu Edmund Hillary dan Tenzing Norgay berhasil menginjakkan kaki mereka untuk pertama kalinya di Chomolungma. Nama Mount Everest dalam bahasa Tibet.

Tentu kerja keras dan keberanian mereka sekaligus mewakili umat manusia dalam menembus batas. Mencapai titik tertinggi dunia. Bagi Anda yang memiliki minat untuk mengetahui puncak tertinggi di Planet Bumi ini.

Banyak orang bilang bahwa mereja berdua sungguh manusia hebat. Mampu mengalahkan tantangan alam dan diri mereka. Dengan tanpa menyerah mereka menaklukkan gunung yang berdiri di perbatasan Nepal dan Tibet tersebut. Tentu saja, mereka juga mampu menaklukkan rasa takut dan rasa ragu dalam pikiran mereka.

Namun, masing-masing dari kita memiliki gunung pikiran yang harus ditaklukkan. Pertanyaannya, apakah kita mampu menembus batas gunung yang menjulang tinggi di dalam benak?

Tentu memerlukan perjuangan dan waktu. Asalkan percaya diri dan benar-benar mewujudkannya, rasanya tak mungkin tak dapat mencapai puncak gunung di benak yang paling tinggi. Semoga…

Penasaran dengan Windows 7

Sehari-hari saya bekerja memakai Windows XP. Cukup memadai dan relatif mudah dipakai. Saya masih lebih menyukai Windows XP daripada Windows Vista yang fancy tapi membutuhkan spesifikasi komputer yang tinggi.

Hanya saja, saya sangsi dengan ramainya kabar burung menyoal bakal hadirnya Windows 7. Windows XP saja masih memiliki banyak cacat produksi tapi kok malah mau menghadirkan versi lebih baru. Bukankah lebih baik memperbaiki sistem operasi yang sekarang daripada terus-terusan membuat OS baru tapi alhasil banyak diprotes karena banyak kendala yang muncul.

Eniwei, meski saya memakai Windows XP untuk bekerja, saya masih merasa lebih nyaman menggunakan Apple OS yang saya pakai di rumah. Klangenan yang nyaman digunakan untuk menuliskan apa yang di benak dan berselancar di dunia maya.

Lalu, bagaimana dengan Windows 7? Tunggu saja tanggal mainnya. Kita lihat bersama bagaimana wujud dan fungsinya. Apakah Windows versi terbaru ini bisa menampilkan performa yang lebih bagus dari XP dan Vista?

Teknologi Perambah Bernama BrowserPlus

Saya masih menebak-nebak apa fungsi dari BrowserPlus yang baru saja diluncurkan. Sepintas membaca, sepertinya suatu tambahan pada perambah yang memungkinkan para developer membuat rich web application dengan kemampuan seperti aplikasi dekstop.

Hmm… Nanti saya tulis di sini bila saya sudah selesai memahami dan menjajal BrowserPlus ini. Tentu bila ada waktu luang dan tidak alpa menuliskannya.

Bila ada dari Anda yang sudah mencobanya, tak perlu ragu membagi pengalaman dan opini di bagian komentar di bawah ini.

Layanan Upcoming Bagi EO

EO, singkatan populer untuk event organizer, membutuhkan beragam media untuk mempromosikan event yang mereka buat. Entah itu media massa elektronik, non-elektronik maupun media luar ruang. Ada yang gratis dan juga ada yang berbayar.

Tentu saja, sekarang banyak EO yang melirik penggunaan dunia maya sebagai media mempromosikan kegiatan dan hajatan mereka. Media internet tentulah lebih murah meski media komunikasi ini belumlah terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Salah satu penyedia layanan papan pengumuman events-events menarik adalah Upcoming. Di situs tersebut, siapa saja bisa mencantumkan acara-acara yang hendak dilaksanakan dalam suatu kalender bersama.

Events yang bisa dicantumkan di sana pun beragam. Mulai dari Expo, konser musik, pameran seni, reuni atau pun perlombaan.

Tentu saja layanan ini tidak hanya berguna bagi EO, berguna juga bagi para pengguna (baca: masyarakat luas) yang suka mencari acara-acara yang menarik. Supaya hidup lebih hidup…

Jeeran.com, Blogging Platform dengan Aksara Arab

Sudah jamak kita mendengar blogging platform seperti WordPress, Blogger atau pun Xanga. Namun, baru kali ini saya menemukan penyedia layanan blogging yang mendukung penuh pemakaian aksara Arab. Namanya Jeeran.com.

Jeeran berasal dari Arab. Semua konten dan layanannya di-hosting dari sana. Banyak pemakainya yang menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa penyampaian ide, opini dan informasi. Jadi, tak perlu heran bila tulisan dalam posting mereka mulai dari sebelah kiri. Bukan sebelah kanan seperti huruf latin.

Namun, Jeeran tetap menyediakan pilihan navigasi dan pemakaian huruf latin. Dengan begitu, Jeeran masih bisa mengakomodasi blogger yang tak mampu membaca atau pun menulis dengan aksara Arab.

Sepertinya layanan Jeeran sesuai untuk Anda yang memang berniat mempelajari dan mengasah kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Arab melalui blogging. Siapa tahu, suatu hari ada yang bisa bersekolah di Arab dan menemukan jodohnya di sana seperti film Ayat-Ayat Cinta.

Selamat blogging dengan Jeeran. Bagi Anda yang sudah menjajalnya, sudilah untuk membagi kesan dan tips di bagian komentar di bawah ini. Dengan begitu, membantu para new blogger untuk membandingkan mana layanan blogging yang sesuai untuk mereka.

Catatan:
Blog Munggur ini masih setia dengan layanan WordPress.

Angguna

Angguna? Tak perlu mengerutkan kening. Angguna merupakan kepanjangan dari Angkutan Serba Guna. Penjelasannya dapat dilihat di postingan berjudul armada baru angguna biru.

Angguna, menurut hemat saya, merupakan akronim yang sejatinya tak perlu. Tapi ya mau bagaimana lagi. Mencipta akronim merupakan hak berbahasa. Tergantung kreativitas masing-masing penggunanya. Asal ada konvensi, tentu akronim itu baku untuk digunakan.

Jadi, bila Anda melihat angkutan dengan mobil yang bisa dipakai untuk keperluan banyak hal, sebut saja itu angguna.

BLT, Kebutuhan Hidup dan Rasa Malu

BLT mulai dibagikan. Itulah tajuk berita yang dilansir oleh BBC Indonesia. BLT diberikan sebagai wujud ‘kepedulian’ pemerintah karena suka atau tidak suka harus menaikkan harga BBM. Maklum, bahan bakar di dunia harganya naik dengan drastis dan tak terkendali.

Bagi rakyat jelata yang kemampuannya hidupnya rendah, tentu saja BLT mampu meringankan beban derita mereka. Paling tidak mereka bisa mendapatkan kebutuhan hidup minimal mereka. Bertahan hidup. Terhindar dari kelaparan.

Hanya saja, menerima BLT berarti mengaku diri sendiri sebagai ‘orang tak mampu’. Tak malukah? Mungkin ada benarnya bila berpikir ‘mengapa harus malu yang penting kan dapur bisa mengepul dan perut tak kosong’.

Tapi bagaimana bila orang-orang tersebut selalu saja menerima BLT sepanjang waktu? Memberi ikan dan bukannya kail? Melestarikan kemalasan secara masal? Bukankah seseorang bisa mengubah nasib mereka? Pulang ke kampung halaman dan tidak menjadi pengemis di ibukota?

Saya dari dulu-dulu tak pernah setuju dengan BLT. Bahkan di tengah naiknya harga BBM. BLT bukan solusi. Justru saya mendukung bila pemerintah, pihak swasta dan organisasi masyarakat mensosialisasikan program seperti yang dipunyai oleh Bangladesh dengan Grameen Bank-nya. Mendongkrak perekonomian rakyat kecil sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka. Bukan malah melestarikan budaya minta-minta dan tangan mengadah ke atas. Malu.

Usang dan Baru

Tak ada yang abadi di dunia ini. Kalimat bijak tersebut benar adanya. Termasuk menyoal baju yang kita pakai sehari-hari. Baju baru tentu suatu saat menjadi usang. Tak lagi nyaman dan laik dipakai. Mungkin karena ukurannya kekecilan, rusak berat atau pun warna bahannya sudah memudar.

Bila sudah tak lagi pantas dipakai, lebih baik ‘dipensiunkan’ saja. Ganti dengan yang baru. Yang bisa jadi membuat yang memakainya mendapatkan nuansa, atmosfir dan semangat baru. Barang baru memang selalu menyenangkan, bukan?

Dipensiunkan tidak selalu dibuang. Justru, baju usang ini bisa memiliki nilai tambah. Diberikan kepada yang membutuhkannya (tukang luak atau pun orang tak mampu), dipakai untuk travelling lalu dibuang agar tak lagi memenuhi bagasi atau pun digunakan sebagai lap pembersih. Tergantung keadaan dan kreativitas.

Hanya saja tak perlu dipaksakan bila memang belum saatnya dan mampu. Terutama bila yang dianggarkan melebihi isi dompet. Namun, tak ada salahnya merencanakan untuk ‘memperbarui’ apa yang sehari-hari dipakai untuk melindungi tubuh dan menjaga kesopanan.

Hanya saja, tak semua baju usang bisa dibuang karena empunya teramat sayang dengan barang tersebut. Biasanya baju yang memiliki kenangan tersendiri meskipun baju tersebut sudah bulukan dan tak lagi bisa dikatakan baju yang laik pakai.

Menyoal Shania Twain dan Kuda

Sudah lama saya tak mendengar lantunan lembut serak-serak basah manja dan menonton video klip Shania Twain. Lagu-lagunya enak didengar. Klipnya juga enak ditatap.

Suatu saat saya menjelajahi dunia maya dan menemukan salah satu klip video penyanyi yang berbadan anggun dan seksi tersebut. Judul lagunya adalah Don’t. Inti lagunya adalah ‘memohon’ agar tak kekasihnya tak menyerah untuk mencintainya. Coba lirik saja lirik lagu Don’t.

Bagi Anda para kaum Adam, apa yang Anda rasakan saat seorang Shania Twain meminta dengan sangat kepada Anda untuk terus mencintainya? Sebuah hibah, bukan?
Hanya saja saat saya menonton video klipnya, saya tak berpikir tentang isi lagu tersebut. Saya, terus terang, terpana dengan adegan Shania Twain yang berbaju merah marun sedang menaiki kuda. Awesome, gitu!

Bisakah Anda membayangkan untuk menunggangi Shania Twain? Ups. *halah* Maksudnya menunggangi kuda bersama-sama Shania Twain sambil memeluknya mesra menikmati padang hijau sore-sore. Terserah siapa yang di depan atau di belakang.

Sayang, hanya bisa membayangkan sembari memainkan video klip tersebut berulang-ulang. Melamun… *hahaha, saya hanya bisa mentertawai benak saya yang sedang melayang-layang*

Sleeping In My Car dan Mobil Goyang

Saya menuliskan artikel ini begitu mendengarkan lagu yang dinyanyikan Roxette berjudul Sleeping In My Car. Ingin mengingatkan bahwa tak sebaiknya ‘tidur’ di mobil. Bahaya.

Mengapa? Coba simak kata-kata dalam lagu tersebut. Lirik lengkap silakan lihat di Sleeping In My Car.

Sleeping in my car – I will undress you
Sleeping in my car – I will caress you
Staying in the back seat of my car making up.

Kalau di tanah air, fenomena ini biasa disebut mobil goyang. Bahayanya bukan terletak pada “gitu-gituan di mobil terus kalau ketahuan orang terus diarak masal atau ditangkap polisi” atau “berduaan di mobil dan 9 bulan kemudian nambah yunior”.

Justru bahaya terbesar datang dari kematian yang mengancam yang tak disadari. Coba pikir betapa aliran oksigen tak lancar di ruangan kecil tertutup. Ditambah dengan adanya gas monoksida (dan karbondioksida) yang tak tampak tapi bisa membunuh pelan-pelan. apalagi aktivitas ‘tidur’ pasti membutuhkan udara bersih dan banyak layaknya karburator mobil yang dipacu kencang.

Kalau tidak mati berarti menikmati “kenikmatan surgawi” plus resikonya. Bila mati berarti menikmati “kenikmatan surgawi” sekaligus tak kembali di dunia fana ini lagi.

Pesan saya, just get a room! Daripada kelihatannya romantis tapi beresiko tinggi dan berujung maut.

Catatan. Baru saja diberitakan Asyik Kencan di Mobil, Mati yang dilangsir oleh Surya Online.