Mempersoalkan Umur

11 Mei 2008

Sepertinya perihal umur selalu menjadi pembicaraan yang tiada habisnya diperbincangkan. Untuk yang muda, pastilah mempersoalkan diri mereka yang masih di bawah umur. Sedangkan yang sudah tua selalu mempermasalahkan usia yang mau tak mau bertambah setiap tahunnya. Tak beda dengan yang paruh baya, selalu terpikir banyak hal antara masa muda dan masa tua.

Umur berkaitan dengan 101 aspek kehidupan. Entah itu berkaitan dengan pernikahan, sekolah, pekerjaan hingga ke hal sepele seperti kapan usia minimal bisa mendapatkan SIM.

Padahal umur berapa pun itu jumlahnya, patut dihargai. Umur bisa dibayangkan seperti nomor bab pada sebuah buku cerita. Sebuah alur linear yang semestinya ditulisi dengan macam-macam warna kehidupan. Setiap bab dalam cerita pastilah memiliki maknanya tersendiri.

Joan Collins pernah berujar perihal umur. Dia berkata bahwa “Age is just a number. Its totally irrelevant unless, of course, you happen to be a bottle of wine.”

Tak penting berapa umur Anda. Jauh lebih esensial memikirkan apa yang sudah, sedang atau pun akan Anda lakukan di umur Anda. Dulu, sekarang atau pun di masa mendatang. Umur tak perlu diributkan. Toh, hanyalah penanda waktu.

2 Tanggapan ke “Mempersoalkan Umur”


  1. setuju! mm … bagaimana kalau kita membincangkan usia sembari minum wine, kang? cocik to? (saking cocok-e, dadi cocik …)


Tinggalkan Balasan