Film Sumpah Pocong di Sekolah rupanya menjadikan adegan striptease dalam film tersebut sebagai faktor melariskan film hantu. Trik klise semacam ini sudah pasti menuai hasil yang memuaskan. Penonton yang sudah jenuh melihat berbagai bentuk hantu-hantuan mungkin ikut tertarik menonton film ini karena ada ‘faktor plus’, yaitu adegan panas.
Coba saja lihat trailer Sumpah Pocong di Sekolah. Menuntun penonton, terutama yang muda-muda, memfokuskan perhatian pada adegan buka-bukaan daripada potongan adegan mengerikan yang sudah tak lagi menyeramkan.
Apakah film akan terkena cekal karena memperlihatkan adegan yang sepertinya ‘menuai kecaman’ dari masyarakat luas? Apalagi saat Detik melangsir artikel bertajuk Video Striptis ‘Sumpah Pocong di Sekolah’ Beredar.
Dapat dipastikan begitu banyak orang yang penasaran akan mencari video yang menampilkan lanjutan adegan panas tersebut. Entah ini sekedar rekayasa, memang ada yang iseng atau sejenis syuting film yang kebablasan. Ada berbagai versi, dua videonya dapat dilihat di video 1 dan video 2.
Publik yang akan menilai video-video yang tersebar tersebut. Entah menghakimi, menyukai, menyalahkan, memaklumi atau pun mengasumsikannya sebagai hal yang netral adanya. Bukankah kita hidup di era di mana berbagi konten, terlepas dari apa yang dibagi, sangatlah mudah. Ditambah dengan komunikasi masal ‘dari mulut ke mulut’.
25 Juni 2008 pada 1:47 PM
bisa aja kang munggur nih infonya
25 Juni 2008 pada 3:24 PM
Lho, kok bisa saja. Ini memang benar-benar terjadi. Lebih tepat berkomentar, di dunia ini apa pun bisa saja terjadi.
25 Juni 2008 pada 3:33 PM
Ouw…
25 Juni 2008 pada 4:30 PM
This video has been removed due to terms of use violation.
Kena UU ITE tuh sama si Google hehehe…
Sempat nonton sih sampe selesai tadi pagi… ternyata kacau banget ya… siapa sih sutradaranya? Kaya’nya bekas sutradara film porno deh
17 Oktober 2009 pada 6:12 PM
jjjjjjjj
6 November 2009 pada 4:27 PM
aduhh srem bngaz……
25 Juni 2008 pada 5:38 PM
ehm…
jd pengen liat,,
25 Juni 2008 pada 7:29 PM
Untung sumpah pocong, tergantung masyarakat menerimanya
dapat memilah mana yang bagus mana yang tidak perlu, ok dech…
25 Juni 2008 pada 8:29 PM
yah…gini ini orang Indonesia.gimana bisa maju, tiap waktu dicekoki tontonan-tontonan ga mutu. seneng ya kalo bikin orang Indonesia tambah bodoh?? udah makin miskin..makin bodoh lagi…ckk…ck..ck…kalo ga mampu bikin film bagus mending ga usah bikin deh, dari pada bikin pembelajaran yang makin buruk..dosa tau..nyeret orang ke arah keburukan…mikir..atuh..mikir…
25 Juni 2008 pada 8:39 PM
Pengangguran kok disuruh bikin film!? Ya pasti hasilnya gak jelas juntrungannya!
25 Juni 2008 pada 10:57 PM
wah…jadi penget liat juga ya…
26 Juni 2008 pada 12:01 AM
kayak apa sih pocongnya? serem ga ya?…
26 Juni 2008 pada 8:12 AM
[...] Tidak semua laki-laki libidonya naik bila melihat cewek bugil, apalagi berpakaian lengkap. Namun, memang syetan itu menjadi pihak ketiga (yang turut membangkitkan nafsu syahwat) bila sepasang cowok-cewek berduaan di tempat yang sepi tanpa terawasi. [...]
26 Juni 2008 pada 8:24 AM
wah.. parah tu pilm..
26 Juni 2008 pada 10:06 AM
jelek
26 Juni 2008 pada 10:27 AM
gimana Indonesia mau maju,,, generasi mudanya aja dikasih dicekokin film2 yang ga bermanfaat….kasian gw…..
Pemerintahnya juga sich yg ga tegas….
26 Juni 2008 pada 10:34 AM
Saya dari doeloe nggak suka pilem Endonesiah. Paling kalo ga tentang hantu ya tentang cinta. Bosen.
26 Juni 2008 pada 11:53 AM
Lembaga sensor gimna nih
26 Juni 2008 pada 1:12 PM
pocong striptis??
apa menariknya????
26 Juni 2008 pada 1:19 PM
saya sependapat dengan saudara yanznoer,
sudah sejak lama orang2 perfilm-an Indonesia memang kurang memperhatikan hal semacam ini ( walaupun tidak semua). Yang terpenting profit. Industri mas. namanya juga “Industri” Perfilman. coba simak film (misal) 40 hari bangkitnya pocong atau apa lah itu judulnya. sutradaranya lumayan beken, artisnya jempolan meski kelas sinetron, serem? enggak, pesan moral? klise, ampang… ga mutu.
ya begitulah, sampai seterusnya akan tetap begitu. sudah sistem.
26 Juni 2008 pada 2:01 PM
Ga papa. Silakan seniman berekspresi…Biar masyarakat yang menilai…
26 Juni 2008 pada 2:31 PM
Tapi ingat, ini di Indonesia. kebebasan berkespresi terbatasi oleh aturan, serta hal2 lain yg bersifat budaya dan agama. Mereka juga punya hak untuk dihormati. toleran dong.
26 Juni 2008 pada 2:56 PM
sepertinya kalo gak nyerempet ke hal-hal masalah umbar sex, film indonesia masih juga belum bisa laris,…
katanya sih mas, tuntutan selera masyarakat,….
26 Juni 2008 pada 3:15 PM
menarik untuk ditarik kesimpulan dari komentar-komentar di atas. bahwasannya, komentar-komentar di atas pun sudah menunjukkan opini mereka masing-masing. ada yang setuj. ada yang tak setuju.
@yuhendrablog:
memang benar bila tak ada mengumbar seks maka tak laris. maklum, bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan seks memang laris manis.
26 Juni 2008 pada 3:17 PM
Sepertinya kembali ke film-film hantu di era tahun 80′an dimana ceritanya dibumbui dengan adegan panas, perkosaan, dsb. dan trik ini ternyata berhasil menyedot penonton terutama kawula muda yang memang sedang “bergairah”, namun efeknya adalah terjadinya dekadensi moral yang memprihatinkan. Bagaimana tindakan yang akan dilakukan Pemerintah untuk menghindari hal ini ?
26 Juni 2008 pada 6:30 PM
ada2 aja. demi bikin film ‘laris’ …
26 Juni 2008 pada 6:40 PM
[...] Sumpah Pocong dan Video Striptis [...]
26 Juni 2008 pada 6:43 PM
@orido:
menyoal pocong striptis,
belum copot-copot saja sudah serem,
apalagi kalo sudah striptis pocongnya.
ada-ada saja
26 Juni 2008 pada 9:41 PM
Kenapa adegan panas pada film horror ? Karena film yang sudah “panas” sejak diedarkan lewat poster pasti akan menuai kecaman besar (Ingat “ML” ?). Makanya mereka “menempuh jalur kedua”.
27 Juni 2008 pada 1:33 AM
info : yg video1 dah di haous oleh youtube.
cmiiw
27 Juni 2008 pada 12:23 PM
sereeeeeeeem dan panas
30 Agustus 2008 pada 4:38 PM
ehmmmmmmmm……………..
terserah lo deh mw ngmg pa’an