BBN

14 Juli 2008

Ini bukan salah ketik dari BBM. Tapi sungguh-sungguh BBN. Kepanjangan dari Bahan Bakar Nabati. Pertama kali saya melihat akronim ini dari artikel bertajuk Apindo: BBN untuk Industri Jangan Pakai Bahan Makanan.

BBN berasal dari olahan jarak pagar, ethanol dari ampas tebu, sawit mentah CPO atau pun jagung. Tentu saja masih ada material sulingan lainnya, hanya saja belum dapat diproses dalam skala produksi.

BBN tentu saja merupakan bahan bakar alternatif. Sebuah upaya untuk tak terlalu menggantungkan dari BBM. BBN bahkan diminati karena lebih ramah lingkungan dan dapat diperbarui.

Salut saya pada penggunaan BBN. Hanya saja di beberapa tempat di belahan bumi yang lain, penggunaan BBN secara masif malah menimbulkan krisis baru, yaitu kurangnya suplai bahan makanan seperti jagung.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Ah, rasanya tak baik bila selalu pesimis, kan? Tapi bila BBM saja menjadi permasalahan yang krusial meski jumlahnya melimpah-ruah, boleh jadi BBN akan ikut-ikutan menjadi bencana nasional. Semisal, kelaparan. Padahal jumlah lahan di negeri yang Loh Jinawi ini sangat luas.

Yang menjadi inti permasalahan di tanah air adalah salah sekaligus penyalahan (baca: dengan sengaja melakukan kesalahan) manajemen. BBM dan BBN akan menjadi polemik meski didapati dalam jumlah banyak. Lebih banyak dari apa yang dimiliki Negeri Sakura, Negeri Ginseng atau Negeri Merlion sekalipun. Apa boleh buat?

Tags:

Tinggalkan Balasan