Garis Finish Nike+ 10K

Akhirnya, sampai juga saya mencapai garis penghujung hajatan lari-lari Nike+ 10K sore ini di Negeri Merlion. 1.5 jam untuk lomba lari pertama yang saya ikuti. Sekarang rileks sembari menikmati kopi panas di Starbucks. Menanti gadis baik hati menjemput raga saya yang serasa tak bertulang lagi sambil menuliskan postingan ini dari ponsel Samsung kesayangan saya. Cerita-cerita menarik seputar Nike+ 10K akan saya ceritakan nanti saat raga sudah kembali bugar.

Coklat Bisa Bikin Merem Melek

Seberapa enaknya sih sebuah coklat? Ada yang tak suka karena memang tak berselera dengan rasanya. Mungkin juga karena alasan tak mau gemuk. Namun, sudah diakui bahwa coklat merupakan salah satu kudapan yang enak dimakan. Disuka banyak orang.

Namun, rupanya ada coklat yang bisa membuat seorang gadis mengatupkan kelopak matanya karena keenakan mencicip makanan berwarna coklat kehitaman tersebut. Bisa merem melek sesaat. Tak percaya?

Coba lihat tayangan video Morinaga Chocolate ini.

Tags: ,

Tertabrak Pesawat?

Tertawa saya saat membaca Dua Korban Tertabrak Pesawat Masih DIrawat. Ada-ada saja dan sungguh-sungguh terjadi.

Wajar bila didapati terlalu banyak liputan berita mengenai orang yang tertabrak di jalanan di tanah air, baik di perkotaan maupun pedesaan. Sama-sama tertabrak mulai dari biasa saja hingga yang nasibnya fatal.

Tapi, tertabrak pesawat? Memangnya Superman atau Gatotkaca yang bisa terbang… Fenomena pesawat menabrak orang sungguh peristiwa lucu dan unik. Semoga korban yang ‘dicium’ hidung pesawat cepat sembuh dan tak trauma melihat pesawat.

Menyoal Dayana’s Blog

Tersebutlah Dayana Mendoza, kelahiran Venezuela, sebagai Sang Terpilih Miss Universe 2008. Bolehlah disebut bahwa salah satu kriteria finalis Miss Universe adalah Brain. Otak encer. Tentu selain body yang aduhai dan paras yang beautiful.

Tentu saja wajar bila orang menilainya sebagai makhluk sempurna luar dalam. Hanya saya terperangah saya saat melihat blognya yang dituliskannya di situs resmi Miss Universe. Coba lihat postingannya berjudul Indonesia yang ditulis pada 25 Agustus 2008. Apa yang terlintas di benak Anda?

Penulisan yang amburadul tak jelas apa yang ingin disampaikannya. Paragraf panjang yang membingungkan dan tak nyaman dibaca. Tak teliti memperhatikan nama tempat seperti Bodo Budur, Yakarta dan Palenbang. Apa sih susahnya bertanya bila tak yakin nama tempat? Toh, juga ada Wikipedia yang bisa diulik setiap saat. Sungguh berantakan. Berbeda jauh dengan penampilannya yang elegan dan cerdas.

Terlihat pola pikiran yang tak selaras. Bila tak punya waktu tak perlulah mempermalukan tingkat kecerdasan berkomunikasi, yang tentu pakai otak, kepada khalayak umum di situs resmi penyelenggara even ajang kecantikan tersebut.

Tulisan seseorang mencerminkan pribadinya. Sayang sekali, Dayana tak begitu peduli dengan blognya. Asal menulis. Tapi bisa dimaklumi karena mungkin saja selalu sibuk berhias diri dan mematut baju. Apa boleh buat?

Tags:

Ketika Negara Menelantarkan Atlit

Hingar-bingar Olimpiade Beijing 2008 masih terdengar jelas. Ramai diberitakan pemberian penghargaan, bonus materi, tambahan uang saku dan dana pelatihan serta pembinaan yang lebih serius dari atlit-atlit manca yang berprestasi.  Tak terkecuali bagi atlit dari Negeri Tirai Bambu yang diberi hadiah yang luar biasa banyaknya secara nominal karena berhasil mendapatkan medali. Padahal jumlahnya puluhan.

Pun dengan Negeri Merlion yang mengganjar atlet yang termasuk foreign talent, sebutan untuk atlet yang ‘diimpor’ dari negara lain dan bersedia berganti kewarganegaraan, dengan berbagai fasilitas terbaik. Semuanya ditujukan semata sebagai stimulus. Dengan begitu, atlit-atlit potensial dapat memfokuskan diri untuk meningkatkan kemampuan mereka. Tak lagi bingung lagi mencari penghidupan. Semua sudah diurus oleh pemerintah.

Berbeda dengan di tanah air. Artikel berjudul Terlantar, Juara Dunia Catur Dijemput Depdiknas di Posko PIDP, menghadirkan wacana bahwa pemerintah kita tak pandai mengurus atlit-atlitnya. Masih susah payah berusaha mengembangkan kemampuan dengan fasilitas terbatas dan minim bantuan, masih juga tak dihargai. Padahal negeri-negeri lain aktif mencari atlit berbakat untuk memperbanyak jumlahan atlit berprestasi.

Ingat dengan pemain badminton Mia Audina yang pindah ke Negeri Kincir Angin. Bukan semata isu tak nasionalis. Tapi lebih pemenuhan kebutuhan pribadi. Untuk berkembang lebih baik lagi agar talenta tak sia-sia dan perut tak merana.

Dengan begitu, wajar bila negeri kita ini hanya mampu menargetkan segelintir medali di ajang Olimpiade. Itu pun bangganya setengah mati. Sayang…

Generasi Tuli

Suara hentakan musik itu meruak keluar dari earphone PSP seorang pemuda yang duduk disamping saya pagi itu di MRT (kereta komuter di Negeri Merlion). Bila hanya sayup-sayup tak apalah, toh, saya bisa ikut mendengarkan. Tapi rupanya bisingnya musik yang didengarnya membuat saya yang biasanya cukup sabar menjadi tak sabar lagi.

Tak bisa dibiarkan. Teguran halus saya haturkan agar dia mengecilkan suara musiknya. Tapi responnya sungguh menyebalkan. Tak benar-benar melihat saya yang disampingnya lalu kembali ke PSP kesayangannya. Suara bising tersebut tak berkurang sedikitpun. Wajarlah bila saya melayangkan teguran kedua. Responnya lebih singkat. Tanpa menatap yang mengajak bicara, membuka earphone sebentar lalu tetap saja cuek bebek.

Perlu ditempeleng supaya sadar. Itu pikir saya. Rasa panas menggelegak dari dalam diri. Tapi dipikir-pikir, bila dua kali ditegur tetap saja seperti itu, pastilah percuma saja. Membuang-buang waktu, pikiran dan tenaga untuk hal yang tak penting. Saya hanya mencoba berpikir mungkin dia benar-benar tuli. Terlintas juga untuk menyilahkan dia mendengarkan musik sekeras mungkin, bila sudah tuli total, barulah dia menyesal di kemudian hari.

Satu hal yang paling saya sesalkan adalah sikapnya yang ‘menulikan’ dirinya dari teguran, saran atau pun omongan orang lain di sekitarnya. Tak ada toleransi dengan sesama manusia. Bukan tuli karena fungsi telinga yang tak berfungsi. Tapi ‘tuli’ karena menumpulkan bela rasa. Tak ada harapan bagi orang ini.

Masih bisa saya maklumi bila pemuda ini memang sedang ingin ‘menenggelamkan dirinya’ dalam hentakan musik. Bisa jadi karena stres, memiliki masalah yang pelik atau pun galau dalam hidupnya. Tapi bila dia yang masih muda ini tetap melakukan hal yang sama, duh, bisa jadi termasuk dalam generasi tuli. Makin susah berempati dan berkomunikasi dengan sekitarnya.

Ya, saya sebut mereka generasi tuli. Tak hanya yang muda tapi juga yang sudah berumur. Baik memakai earphone atau tidak, toh, mereka sama-sama tak bisa mendengarkan lagi dengan baik.

Tags:

The Nike+ Human Race 10K

Ikut atau tidak? Seperti itulah pertanyaan yang saya lontarkan kepada diri saya sendiri. Pada akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti The Nike+ Human Race 10K yang diselenggarakan di beberapa kota di penjuru dunia. Saya mengikuti hajatan lari tersebut di Lion City, Negeri Merlion.

10 kilometer bukan main-main bagi saya yang jarang berolahraga. Mungkin mudah bagi yang gemar jogging a la marathon. Jelas bahwasannya saya tak akan sanggup terus-terusan berlari sejauh jarak yang ditetapkan tersebut. Kemungkinan besar, saya akan berlari-lari kecil terengah-engah, berjalan atau bahkan mungkin merangkak. Yang pasti saya harus bisa sampai di garis akhir.

Bagi saya, ini lari 10K yang pertama. Oleh karena itu saya mendapat wrist tag berwarna hijau yang memang diperuntukkan bagi peserta yang memang tidak yakin bisa berlari cepat atau baru pertama kalinya mengikuti hajatan seperti ini. Kebetulan juga, lari 10K yang dilakukan secara global ini baru pertama kalinya diselenggarakan di Negeri Merlion.

Saya baru mengetahui bahwa ada etiket berlari, beberapa panduan yang harus dipelajari dan sudah pasti mempersiapkan diri untuk mengayunkan kaki bersama-sama kumpulan banyak orang.

Saya menantikan Hari Minggu tanggal 31 di Bulan Agustus 2008 untuk mengikuti lomba lari yang pertama bagi saya…

Tags:

Sore Hari, Blogging dan Kopi Aroma

Santai hari ini. Setelah bepergian siang hari sembari diwarnai dengan hujan lebat yang membawa aromanya yang menyejukkan, tentu saya ingin melewatkan sore dengan santai.

Lalu, saya pun menghidupkan Macbook untuk segera mengisi blog dengan berbagai macam pikiran yang terlintas di benak dan tak lupa menyeruput Kopi Aroma yang menghangatkan badan.

Sore hari, blogging dan Kopi Aroma. Sesuatu yang sederhana untuk menghadirkan suasana santai. Dan saya pun sudah berjanji untuk segera menutup Macbook kala batereinya sudah habis. Dengan begitu mencegah saya menggunakan internet terlalu lama.

Sudah 6 persen tanda baterainya. Sampai besok lagi…

Komersialisasi Kloning

Akhirnya kloning mulai menjadi sebuah industri. Itu yang tersirat dari artikel singkat berjudul Kloning Komersial Pertama.

Perdebatan masih saja memanas tapi usaha mensosialisasikan kloning terus berjalan. Dan kali ini seekor anjing ‘hidup kembali’, boleh disebut juga ‘kelahiran yang kedua’, setelah upaya kloning berhasil dilakukan.

Pemilik anjing tentu gembira. Anjing kesayangannya didapat kembali untuk dipeluk, disayang-sayang dan dicintai. Yang dulu duka karena kehilangan anjing peliharaan kesayangan menjadi suka cita. Ada bahagia tak terkira.

Hanya saja, terlintas di benak saya, bila yang hilang dapat ‘dimunculkan’ kembali, lalu bagaimana manusia bisa menerima sebuah kehilangan. Bukankah suatu kehilangan memberikan suatu rasa tersendiri dalam hidup.

‘Fotokopi’ anjing menurut saya pribadi jauh dari kewajaran dalam hidup ini, yaitu segala sesuatunya bisa datang dan bisa pergi. Datang patut disyukuri, pergi ya tentu harus ikhlas meski tak mudah. Lagipula, meski secara susunan DNA memang sama, tapi apakah anjing tersebut memiliki perasaan yang sama seperti anjing versi aslinya?

Bila anjing sudah bisa dikloning, apakah kloning berikutnya adalah manusia? Sekali lagi ada patokan di sini bahwa susunan DNA bisa persis sama tapi apakah perasaannya sama? Sudahlah, relakan saja. Yang datang pastilah suatu saat pergi pada saatnya. Tak perlu ‘merekonstruksi’ binatang kesayangan maupun orang yang kita sayangi.

Tags:

Jakarta dan Bogota

Sama-sama kota yang memiliki jumlah penduduk yang besar dengan transportasi masal yang amburadul. Meskipun sama tapi bukan twin city atau sister city. Justru keduanya disandingkan dalam artikel Menuju Kebangkrutan Transportasi Jakarta sebagai perbandingan.

Kondisi menjadi berkebalikan 180 derajat saat Bogota mampu merealisasikan transportasi kota yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Seperti yang dilangsir oleh artikel di atas, rupanya pemerintah Bogota bergotongroyong memperbaiki salah satu aspek penting kehidupan yaitu sistem lalu-lintas dan mobilitas warga Bogota setiap hari.

Sedangkan Jakarta masih saja berkutat dengan malfungsi jalanan dan seperti biasa selalu menyalahkan jumlah penduduk yang terus bertambah dan menambah jumlah moda angkutan pribadinya. Padahal bila pemerintah daerah mampu menyediakan transportasi yang humanis, praktis dan ekonomis; pastilah warga kota tidak akan lagi memiih mobil dan motor pribadi sebagai pilihan pertama transportasi.

Lalu, saya pun teringat dengan Kota Gudeg, kota kelahiran saya. Kota itu kecil, Jakarta maupun Bogota bukan pembanding yang tepat untuk Yogya. Skalanya sungguh berbeda. Anehnya, saat ini Yogya dipadati dengan kendaraan yang bersliweran kemana-mana. Macet mulai merebak dan menjadi pemandangan biasa.

Jadi bisa ditarik kesimpulan, ketidakmampuan pemerintah kota mengatur sistem transportasi bukan  terletak pada skala besar atau kecil luasan daerah dan banyaknya jumlah penduduk. Tapi terletak pada rendahnya kemampuan pengaturan kota. Dengan begitu, bisa dimaklumi Yogya bisa menjadi macet. Lalu, pertanyaan berikutnya muncul, bagaimana kinerja Sultan sebagai Gubernur dan segenap pejabat pemerintah daerah di bawahnya? Kok, bisa-bisanya Yogya macet?

Tags: , , , ,