Barang Lama dan Barang Baru

Mendekati pergantian baru, jamak bila pusat perbelanjaan menawarkan berbagai barang jualan yang disertai diskon besar-besaran. Dengan slogan klise sejenis dengan ‘sambut tahun baru dengan barang-barang baru’. Intinya, para penjual memanfaatkan momen khusus, sebaliknya para pembeli menggunakan kebiasaan ‘mumpung tahun baru ada obral di mana-mana’. Klop. Lagian, tak afdol bila tahun baru tak disertai barang baru.

Saya pun rupanya tak luput dari sukacita beli-beli barang jelang tahun baru. Ada promo dari salah satu gerai jins. Hanya dengan menyerahkan jins lama, pembeli berhak mendapatkan diskon beberapa dolar. Lumayan, harga jins baru dihitung-hitung hanya membayar setengah harga. Toh, celana jins saya yang dulunya tebal sudah berubah menjadi soft jeans. Tipis dan bentar lagi pasti bulukan dan berlubang. Jadilah saya memboyong satu potong jins. Lagian pas waktunya saat hendak mudik ke Kota Gudeg.

Hanya saja, agak berat rasanya saat menyerahkan jins lama tersebut. Barang lama meski kualitas sudah tak sebaik waktu dulu, malah makin nyaman dipakai. Sudah sedemikian pas dengan badan saya.

Namun, pembaharuan itu mutlak. Ada kesegaran kala ada sesuatu yang baru. Tak hanya penampilan baru tapi juga atmosfer yang baru. Betul, kan?

Bagaimana dengan Anda, ada baju baru, sepatu baru atau tas baru? Yang lebih penting, semangat hidup yang baru.

Bond Girl

Setiap kali film James Bond ditayangkan ke layar-layar bioskop, pastilah ikut ramai dibicarakan mengenai Bond Girl. Gadis-gadis yang terlibat dalam aksi 007 melawan musuh-musuhnya demi menjaga keamanan dunia, khususnya Inggris Raya. Mereka tak selalu berpihak ke Bond, terkadang juga ada yang ditugaskan untuk membunuh si agen yang memiliki license to kill tersebut.

Setiap gadis Bond mendapat pujian atau bahkan kritikan. Dan selalu saja ada pertanyaan yang muncul ‘siapakah gadis Bond yang paling menarik?’ Tentu setiap penonton memunyai versi mereka sendiri-sendiri. Bukankah selera pribadi tak sama dengan selera orang lain?

Menurut Anda, siapakah gadis Bond yang paling berkesan? Bila lupa, bisa melirik daftar gadis Bond.

Boleh jadi Anda pun menanyakan hal yang sama kepada saya. Hmm, menurut saya, dengan catatan saya belum pernah menonton film 007 tempo dulu, selama ini saya pikir Miranda Frost masih nomor satu. Wai Lin dan Strawberry Field juga menarik. Lainnya biasa-biasa saja.

Nama-nama Bond Girl cukup menarik untuk disimak. Selalu saja mewakili ciri khas karakter masing-masing gadis Bond. Dan Miranda Frost yang ditampilkan sedingin es dengan wajah minim perasaan namun tetap menawan dan menghanyutkan, memang memiliki personanya yang istimewa. Dingin-dingin empuk dan lain dari yang lain. Apalagi latar-belakang film juga digambarkan terjadi di hotel yang terbuat dari es. Cocok, kan?

Ada satu gadis Bond yang filmnya belum saya tonton tapi membuat saya penasaran. Kissy Suzuki yang ada di You Only Live Twice. Satu-satunya gadis Bond yang mengandung anak Bond. Mungkin karena terlalu seksi, James Bond lupa memakai sarung Latex. Hmm…

Pelayan, Bukan Pesuruh

Sering kita dapati beberapa pengunjung restoran tak berperasaan yang memperlakukan pelayan restoran dengan semena-mena. Sang pelayan pun tentu tak suka tapi mau tak mau harus tetap melayani. Bahkan dituntut untuk selalu tersenyum ramah agar pelanggan berkunjung lagi.

Padahal pelayan juga manusia. Punya kebutuhan untuk dihargai. Mereka melayani kita dan sebagai imbalannya pemilik restoran akan menggaji mereka. Oleh karena mereka membuat suasana makan-makan kita terbantu, sudah selayaknya kita memperlakukan mereka dengan sopan. Tak lupa mengucap terima kasih. Bila murah hati, tak perlu segan-segan memberi uang tips atau uang kembalian. Kedua pihak sama-sama senang.

Hanya saja, ternyata tak bisa dipungkiri bahwa ada pelayan-pelayan yang bermental pesuruh. Pesuruh berarti orang yang disuruh-suruh. Bila tak disuruh tak mengerti juga. Menjengkelkan dan boleh jadi merusak kenikmatan menyantap sajian. Bahkan, ada pelayan yang suka menyuruh pelanggan untuk menuruti kehendak mereka. Edan, to?

Suatu sore saya makan di suatu restoran dan mendapati beberapa meja masih kosong. Hanya saja pelayan tersebut menyuruh saya untuk pindah ke meja lain. Alasannya, masih ada pelanggan lainnya yang hendak duduk di meja yang saya tempati. Faktanya tak ada orang lain yang datang. Tipu-tipu supaya saya mau pindah.

Saat saya mau pindah ke belakang restoran, itu pun juga ditolak dengan alasan bagian tersebut AC-nya mati. Hah? Restoran besar masak AC-nya mati. Sialan, mau menipu untuk kedua kalinya. Saya yang semula hendak setuju untuk kompromi memilih untuk konfrontasi.

Pindah tempat, saya tak menolak. Hanya saja alasannya masuk akal. Bukan dibuat-buat dan menipu. Jadi, kejengkelan saya memuncak dan saya memilih tak mau pindah. Dan benar saja, toh, pelayan tersebut tak berkutik. Saya bisa saja memanggil manajernya dan pasti akan memberikan ‘pelajaran tersendiri’ untuk si pelayan.

Kadang memang dilema tersendiri kala hendak memperlakukan pelayan. Dan saya sering mendapati bahwa banyak pelayan memang bisa melayani bila disuruh-suruh. Apa boleh buat, banyak dari mereka memang memiliki mental pesuruh.

Makin jarang saya mendapati pelayan yang bisa sungguh-sungguh melayani dan tetap memiliki harga diri mereka.

The Season of Giving

Sudah bulan November rupanya. Mendekati perayaan Natal. Dan Natal, seperti hari raya lainnya, kerap dihubungkan dengan perihal saling memberi. Tidak salah bila memang hendak memberikan sesuatu yang istimewa untuk orang-orang yang dicintai atau minimal dikenal.

Seperti yang iklan yang terpajang di halaman koran dengan tulisan ‘the season of giving‘. Tentu dihubungkan dengan ‘silakan belanja hadiah yang banyak untuk sanak-keluarga dan handai-taulan’. Ada harapan, makin banyak yang ingin memberi, makin besar pula jumlahan belanja akhir tahun. Target penjualan pun tercapai. Tak salah juga karena berarti ikut memperbaiki mekanisme ekonomi yang berdasar kegiatan jual-beli.

Hanya saja pembelokan makna seperti ini bisa menjurus ke materialisme. Saya memberi maka saya ada. Logikanya, jika tak bagi-bagi hadiah boleh jadi eksistensi Anda sedikit berkurang. “Kok, kamu Natalan ga kasih-kasih hadiah, sih?” Bisa dijawab, “Memangnya saya Sinterklas, resesi gitu.”

Memang ada kesenangan tersendiri saat membagi hadiah. Juga kala menerima hadiah dari orang lain. Namun, ada beberapa hal yang lebih berharga untuk dibagi bersama. Waktu, perhatian dan kasih sayang.

Dan Natal kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya hendak ‘membeli waktu’. Mudik ke kampung halaman di Kota Gudeg yang rasanya sudah lama saya tak kunjungi. Tentu saja untuk membagi perhatian dan kasih sayang.

Oleh karena itu, saya harus mendapatkan tiket pesawat secepatnya. Tak boleh ditawar-tawar lagi. Harus! Bagaimana dengan Anda yang merayakan Natal dan sedang merantau, pulang juga tahun ini ke kampuang halaman? Semoga.

Dunia Laut

Pada mulanya hanya iseng. Saya menulis sebaris pesan pada status YM saya seperti ini. “Rumput laut, kuda laut, bintang laut. Adakah yang lainnya?”

Pertanyaan sederhana yang terlontar saat sedang bosan dengan tumpukan pekerjaan. Sekaligus penasaran hewan atau tumbuhan apa saja yang hidup di tanah tetapi memiliki padanan makhluk yang berada di laut.

Tak disangka ada banyak teman yang terdaftar di YM mencoba menjawab dengan cerdas atau pun sekenanya. Semacam tebak-tebak buah manggis. Meski ada pula yang memakai analisis cukup kritis. Kebanyakan mencoba memberikan jawaban yang cukup dekat dengan yang dimaksud tapi juga tak bisa dibilang tepat.

Mari kita lihat bersama. Ternyata ada binatang laut yang memiliki sebutan singa laut, anjing laut, elang laut, ular laut, cacing laut, kuda laut, bintang laut, bandeng laut, landak laut, babi laut, landak laut, belut laut, bekicot laut, kalajengking laut dan kelinci laut. Terdapat pula tetumbuhan laut yang mempunyai nama rumput laut, kelapa laut, kacang laut dan timun laut. Tak menyangka bila terdapat “… laut”.

Ada yang saya sangsikan. Mungkin Anda pun tak yakin benar dengan keberadaan beberapa makhluk laut di atas. Jadi ada baiknya mulai mencari kebenaran di Wikipedia atau pun Wapedia (bagi yang memiliki koneksi internet tersendat-sendat).

Menyoal jawaban yang cukup berkaitan yaitu orang laut dan bajak laut. Baiklah, mereka memang hidup di laut meski tak termasuk makhluk laut yang memiliki gabungan kata dengan kata ‘laut’. Yang membikin saya tersenyum meringis adalah mabuk laut. Bisa sih dikaitkan tetapi terlalu jauh…

Dunia laut memang menarik untuk diselami lebih dalam lagi. Ada banyak yang kita tak tahu. Negara kita pun negara berbasis kelautan. Hanya sayangnya para nelayan menjadi jarang melaut karena naiknya bahan bakar solar untuk kapal mereka. Banyak pula kapal di negeri yang katanya ‘nenek moyangnya orang pelaut’ yang tak layak lagi melaut. Bila dipaksakan, tentu kapal-kapal ini akan menjadi hak milik laut alias tenggelam.   

Yuk, pergi ke laut…

 

 

Flock 2.0

Baru saja saya memperbarui Flock yang terpasang di Macbook dan PC saya dengan Flock versi terbaru, yaitu Version 2.0. Lebih banyak layanan internet yang terintegrasi dengan fitur-fitur Flock. Untuk melihatnya cukup ketik “about:flock” di address bar.

Flock sekarang juga tersedia dalam 2 versi khusus. Flock Gloss Edition Browser untuk mereka penyuka dunia fesyen, mode dan hiburan. Sedangkan penggiat gerakan hijau dapat memilih Flock Browser: Eco-Edition.

Meskipun saya selalu menggunakan Firefox sebagai default perambah internet dan mengagumi kecanggihan Opera, Flock rupanya sudah melekat di hati untuk ngeblog. Saya paling suka dengan fitur blogging di browser yang memang diperuntukkan untuk Web 2.0 ini.

Terima Kasih

Apakah benar-benar susah untuk membilang terima kasih?

Ada yang bilang itu sesuatu yang mudah dilakukan. Dengan tulus mengucapkan rasa syukur karena orang lain telah memberikan atau mengusahakan sesuatu untuk diri kita. Tak ada pretensi. Tak lebih dan tak kurang dari apresiasi yang santun. Umumnya terjadi secara spontan dan lepas. Tak ada rikuh dan jauh dari kesan dibuat-buat.

Namun, ternyata berterimakasih juga tak mudah bagi beberapa orang. Entah itu pelayan restoran yang mau tak mau harus mengucapkan thank you kepada semua pelanggan, orang yang suka berbasa-basi penuh kepura-puraan dan mereka yang berucap kata sederhana tersebut sekedar untuk memanipulasi orang lain. Singkatnya, kata terima kasih dilontarkan berkali-kali tapi tanpa ketulusan sedikitpun.

Terima kasih yang lebih tulus, kalau boleh membilang, adalah yang tersiratkan dari mimik wajah dan gerak-gerik tubuh. Tanpa harus dalam bentuk verbal yang kadang sudah ditambahi ‘pemanis’.

Mengucap terima kasih itu baik adanya. Hanya saja akan lebih baik lagi bila didasari ketulusan. Bukan basa-basi yang memuakkan atau hanya sekedar ‘memutar kaset kata-kata’ atas nama etika berkomunikasi.

Saya menuliskan ini karena hari-hari terakhir ini merasa mual dengan ‘terima kasih’ yang palsu dan terlalu berlebihan.