Pelayan, Bukan Pesuruh

Sering kita dapati beberapa pengunjung restoran tak berperasaan yang memperlakukan pelayan restoran dengan semena-mena. Sang pelayan pun tentu tak suka tapi mau tak mau harus tetap melayani. Bahkan dituntut untuk selalu tersenyum ramah agar pelanggan berkunjung lagi.

Padahal pelayan juga manusia. Punya kebutuhan untuk dihargai. Mereka melayani kita dan sebagai imbalannya pemilik restoran akan menggaji mereka. Oleh karena mereka membuat suasana makan-makan kita terbantu, sudah selayaknya kita memperlakukan mereka dengan sopan. Tak lupa mengucap terima kasih. Bila murah hati, tak perlu segan-segan memberi uang tips atau uang kembalian. Kedua pihak sama-sama senang.

Hanya saja, ternyata tak bisa dipungkiri bahwa ada pelayan-pelayan yang bermental pesuruh. Pesuruh berarti orang yang disuruh-suruh. Bila tak disuruh tak mengerti juga. Menjengkelkan dan boleh jadi merusak kenikmatan menyantap sajian. Bahkan, ada pelayan yang suka menyuruh pelanggan untuk menuruti kehendak mereka. Edan, to?

Suatu sore saya makan di suatu restoran dan mendapati beberapa meja masih kosong. Hanya saja pelayan tersebut menyuruh saya untuk pindah ke meja lain. Alasannya, masih ada pelanggan lainnya yang hendak duduk di meja yang saya tempati. Faktanya tak ada orang lain yang datang. Tipu-tipu supaya saya mau pindah.

Saat saya mau pindah ke belakang restoran, itu pun juga ditolak dengan alasan bagian tersebut AC-nya mati. Hah? Restoran besar masak AC-nya mati. Sialan, mau menipu untuk kedua kalinya. Saya yang semula hendak setuju untuk kompromi memilih untuk konfrontasi.

Pindah tempat, saya tak menolak. Hanya saja alasannya masuk akal. Bukan dibuat-buat dan menipu. Jadi, kejengkelan saya memuncak dan saya memilih tak mau pindah. Dan benar saja, toh, pelayan tersebut tak berkutik. Saya bisa saja memanggil manajernya dan pasti akan memberikan ‘pelajaran tersendiri’ untuk si pelayan.

Kadang memang dilema tersendiri kala hendak memperlakukan pelayan. Dan saya sering mendapati bahwa banyak pelayan memang bisa melayani bila disuruh-suruh. Apa boleh buat, banyak dari mereka memang memiliki mental pesuruh.

Makin jarang saya mendapati pelayan yang bisa sungguh-sungguh melayani dan tetap memiliki harga diri mereka.

Kaitkata:,

Tentang munggur

Somebody that born in Yogya and live at Singapore. Love Yogya so much. Addicted to internet and blogging.

One response to “Pelayan, Bukan Pesuruh”

  1. Papanya Vania says :

    Ha3x, jd inget pengalaman saya sendiri, kl gak salah inget di IMM. Abis ngantri, pelayannya sendiri yg mengantar ke sebuah meja. Setelah order, eh dia minta kami pindah ke meja lain dg alasan mau dipakai pelanggan lain. Saya gak mau dg alasan saya bawa barang2. Eh dia panggilin supervisornya. Supervisornya minta saya untuk pindah ke meja lain. Saya tetap kekeuh gak mau pindah. Lha ngapain dia ngantarin ke meja ini kalo toh akhirnya disuruh pindah. Toh akhirnya mereka ngalah juga. Kalo brani ngeyel ya mending ta’ tinggal sisan :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: