The Season of Giving

Sudah bulan November rupanya. Mendekati perayaan Natal. Dan Natal, seperti hari raya lainnya, kerap dihubungkan dengan perihal saling memberi. Tidak salah bila memang hendak memberikan sesuatu yang istimewa untuk orang-orang yang dicintai atau minimal dikenal.

Seperti yang iklan yang terpajang di halaman koran dengan tulisan ‘the season of giving‘. Tentu dihubungkan dengan ‘silakan belanja hadiah yang banyak untuk sanak-keluarga dan handai-taulan’. Ada harapan, makin banyak yang ingin memberi, makin besar pula jumlahan belanja akhir tahun. Target penjualan pun tercapai. Tak salah juga karena berarti ikut memperbaiki mekanisme ekonomi yang berdasar kegiatan jual-beli.

Hanya saja pembelokan makna seperti ini bisa menjurus ke materialisme. Saya memberi maka saya ada. Logikanya, jika tak bagi-bagi hadiah boleh jadi eksistensi Anda sedikit berkurang. “Kok, kamu Natalan ga kasih-kasih hadiah, sih?” Bisa dijawab, “Memangnya saya Sinterklas, resesi gitu.”

Memang ada kesenangan tersendiri saat membagi hadiah. Juga kala menerima hadiah dari orang lain. Namun, ada beberapa hal yang lebih berharga untuk dibagi bersama. Waktu, perhatian dan kasih sayang.

Dan Natal kali ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, saya hendak ‘membeli waktu’. Mudik ke kampung halaman di Kota Gudeg yang rasanya sudah lama saya tak kunjungi. Tentu saja untuk membagi perhatian dan kasih sayang.

Oleh karena itu, saya harus mendapatkan tiket pesawat secepatnya. Tak boleh ditawar-tawar lagi. Harus! Bagaimana dengan Anda yang merayakan Natal dan sedang merantau, pulang juga tahun ini ke kampuang halaman? Semoga.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s