Membuang Makanan
Kata orang tua, pantang untuk membuang makanan. Bahkan, terkadang dibumbui dengan takhayul bahwa menyia-nyiakan makanan sama saja menolak rejeki. Lagipula, mendapatkan atau pun mengolah makanan juga tak selalu mudah.
Masih teringat dalam benak saya, ada masa-masa di mana makan sekali sehari saja susahnya minta ampun. Tidak separah penduduk Darfur tentunya. Tapi makanan menjadi sesuatu yang berarti oleh karena jumlahnya yang tak berlimpah.
Namun, rupanya sedikit demi sedikit saya alpa dengan masa lalu tersebut. Buktinya, saya membeli makanan dan terkadang lupa menikmatinya. Busuk karena kadaluarsa dan mau tak mau saya harus membuangnya. Ditambah lagi dengan kebiasaan baru memesan porsi terlalu banyak di rumah makan. Perut tak mampu lagi menampung sajian. Akhirnya, saya kerap mendapati sisa makanan di piring saya.
Padahal saya sering mengomentari siapa saja yang menyisakan makanan saat makan bersama. Ironi jadinya. Agaknya saya harus mawas diri dengan makanan yang saya beli. Menghindari hyper-consumption dan lebih menghargai makanan yang tersedia untuk saya setiap harinya.
Menjadi lebih green atau ramah lingkungan dengan mengasup makanan secara bijak? Bukan. Alasannya sepele, saya masih percaya petuah lama. Membuang makanan, menolak rejeki. Local wisdom, katanya.
sama banget, koh! kadang jadi suka buang makanan karena ngerasa udah mampu beli…
tobat! tobat!
aku pecinta makanan! harus lebih bijak memakannya!
hehehe