Menjajal Safari 4

Apple baru saja merilis browser Safari 4. Hadir dengan 150 fitur dan tentu inovasi dalam teknologi penjelajahan dunia maya. Langsung saja saya unduh untuk menjajalnya.

Untuk sementara ini, salut untuk fitur Top Sites dan History. Top Sites mirip dengan fitur Speed Dial Opera namun tampil lebih futuristik. Sedangkan fitur History mengadopsi pencarian file dari iTunes dan Finder yang baru. Memukau.

Mengenai kecepatan, cukup impresif. Dengan grafis yang memberi kenyamanan menjelajah. Mungkin yang agak berbeda adalah penempatan tab browser yang lain dari versi sebelumnya. Sepintas mirip dengan Google Chrome. Juga dengan menu bar yang harus dimunculkan dari tombol Settings.

Menarik. Menambah warna tersendiri dari pertarungan antar perambah internet. Tentu, pengguna internet makin diuntungkan karena kompetisi antar browser, tentu menghadirkan peningkatan kualitas para browser tersebut. Gratis lagi…

Memaknai Kata Tak Bermakna

Sebuah kutipan dari John Locke. “So difficult it is to show the various meanings and imperfections of words when we have nothing else but words to do it with.

Manusia berkata-kata. Lisan dan tulisan. Lebih pintar berbahasa daripada saudara dekatnya para kera, monyet dan simpanse. Bahkan ada manusia yang lebih mahir memelintir kata dari tak berarti apa-apa menjadi sangat bermakna. Hanya saja, rupanya manusia lebih sering terjebak pada bahasa verbal.

Salah paham, salah sangka atau salah berkata-kata sering terjadi. Mungkin kemampuan berkata-kata tak merata. Ada yang memakai kata yang muluk-muluk susah diketahui artinya. Ada yang terlalu sederhana hingga tak mampu menghantar apa yang benar-benar dimaksudkan.

Justru bahasa yang terwakili oleh gerak tubuh, mimik wajah dan perilaku dapat mengekspresikan makna yang jujur dan lebih mudah dipahami. Sayangnya, manusia terlanjur mengamini pemakaian kata-kata secara berlebihan hingga kemampuan bahasa alami tergerus seraya waktu.

Hidup hanya sebentar, tak lebih dari sebuah kedipan Sang Kala. Tak ada maknanya dihabiskan untuk memaknai kata-kata yang kehilangan maknanya. Tapi tanpa kata-kata, manusia berpikir hidup kurang bermakna. Dan hari ini, anehnya, saya mencoba menemukan pemaknaan kata-kata dan justru tak lagi mampu berkata-kata…

Manusia dan Taksonomi

Menurut Wikispecies mengenai Homo sapiens sapiens.

Cladus: Eukaryota
Supergroup: Opisthokonta
Regnum: Animalia
Subregnum: Eumetazoa
Cladus: Bilateria
Cladus: Deuterostomia
Phylum: Chordata
Subphylum: Vertebrata
Infraphylum: Gnathostomata
Superclassis: Tetrapoda
Classis: Mammalia
Subclassis: Theria
Infraclassis: Placentalia
Ordo: Primates
Subordo: Haplorrhini
Infraordo: Simiiformes
Parvordo: Catarrhini
Superfamilia: Hominoidea
Familia: Hominidae
Subfamilia: Homininae
Tribus: Hominini
Subtribus: Hominina
Genus: Homo
Species: Homo sapiens
Subspecies: Homo sapiens sapiens

Seperti itulah manusia menurut pengkategorian dalam Taksonomi Linnaeus. Dan tentu tak satu pun dari kita, yang mengganggap dirinya sebagai manusia, yang mau dikategorikan sebagai binatang. Bahkan, merasa ada perbedaan dengan Monyet, Kera atau Simpanse sekalipun.

Namun, mengapa masih ada pembantaian, pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan di masyarakat manusia sehingga “manusia yang baik” mengutuk “manusia yang jahat” sebagai binatang. Bukannya sering kita dengar caci-maki dengan nama binatang seperti babi dan anjing. Pun menganalogikan sifat manusia dengan ular atau buaya.

Padahal hewan-hewan tersebut memakan mangsanya untuk sekedar mengisi perutnya atau membunuh binatang lain bila diperlukan untuk mempertahankan diri mereka. Terlebih, ada anjing yang lebih ramah daripada manusia. Merpati yang tak pernah ingkar janji. Kucing yang imut. Juga pasangan Angsa yang setia sampai mati.

Ya, saya mengaku mungkin sedikit melantur kala menuliskan postingan ini sembari minum Kopi Luwak

Wikispecies

Tak sangka ada Wikispecies. Sebuah kumpulan laman Wiki dari Wikipedia yang mengkhususkan diri untuk mengoleksi pengetahuan kolektif berkenaan dengan spesies. Bahkan, sudah terdapat Wikispecies berbahasa Indonesia.

Cukup menarik mempelajari barbagai macam makhluk hidup di planet biru ini. Digolongkan menurut hirarki secara vertikal dan macamnya secara horizontal. Jadi ingat dengan Darwin yang asyik mempelajari beragam spesies di Kepulauan Galapagos.

Mungkin sama menariknya dengan alkisah mengenai Adam dan Hawa, yang diyakini sebagai pasangan manusia pertama di dunia, sedang sibuk memberi nama pada tiap binatang. Begitu juga dengan Nabi Nuh, yang disebut juga sebagai zoologist jempolan, yang menyelamatkan banyak spesies di kapalnya dari air bah yang menenggelamkan daratan.

Ah, melantur saya. Tak ada kesengajaan menarik relasi antara Darwin dengan pasangan Adam Hawa sekaligus Nabi Nuh. Hanya terlintas bagaimana susahnya mereka mengingat-ingat berbagai spesies kala itu. Coba sudah ada Wikispecies. Kan, jadi lebih mudah kerjaan mereka.

Padahal pada mulanya saya hanya tertarik mencari informasi mengenai Panthera sondaica – Harimau Jawa dan Spizaetus bartelsi – Elang Jawa.

Sembako Murah dan Lapangan Kerja

Tersenyum geli saya saat membaca PDIP Janjikan Sembako Murah dan Lapangan Kerja. Tak salah memang dengan janji tersebut, toh, banyak warga negara yang kelaparan dan menjadi pengangguran. Partai politik lainnya pun juga memberi harapan yang relatif sama.

Hanya saja apa jadinya bila tugas pemerintah hanya memberi makan dan kerja. Tambal sulam semata. Lalu, arah bangsa mau di bawa ke mana? Menyoal perut memang krusial, bisa mati bila perut kosong. Tapi apakah sedangkal itu cita-cita bangsa?

Lebih bermutu bila memberikan dukungan terhadap pendidikan murah (gratis?) dan berkualitas, peningkatan mutu layanan kesehatan, perbaikan komunikasi transportasi dan merangsang industri kecil dan rumahan.

Sembako murah akan tercipta bila sistem cocok tanam dan peternakan sudah maju. Pekerjaan tak perlu dicari bila jutaan warga negara mampu memulai usaha mereka sendiri yang (semoga?) didukung oleh sistem perbankan nasional dan pemerintah daerah.

Saat negara yang lain sudah bisa menyandang status negara maju. Negara di Khatulistiwa yang loh jinawi ini kok masih saja berkutat dengan hal makan dan kerja. Negara tak berkembang? Dan itu pun masih berupa janji. Ingat, ingat, lidah tetap saja tak bertulang baik sebelum atau pun sesudah pemilu.

Sate

Sewaktu sedang mencari-cari kamu online Bahasa Indonesia mana yang terpercaya dan kualitasnya bagus, saya justru mendapati kata ‘sate‘ dari Wikipedia.

Dan langsung terbayang di benak gambaran dan rasa sate ayam dengan bumbu kacang dan kecap manis. Padahal di saat yang sama perut saya kosong dilanda kelaparan karena waktu makan siang belum tiba. Kangen jadinya dengan sate yang ada di Kota Gudeg. Sate yang rasanya manis, dagingnya empuk dan sedap dikudap dengan nasi putih.

Menyoal asal mula sate, laman Wikipedia menjelaskan bahwa “sate diciptakan oleh pedagang makanan jalanan di Jawa
sekitar awal abad ke-19, berdasarkan fakta bahwa sate mulai populer
sekitar awal abad ke-19 bersamaan dengan semakin banyaknya pendatang
dari Arab ke Indonesia
“. Penjelasan yang kurang memuaskan menurut saya.

Dulu saya pernah membaca mengenai pemilik ternak ayam di Negeri Tirai Bambu yang peternakannya terbakar. Malang memang tapi dia mencium aroma ayam terbakar yang sedap. Maka ada ayam bakar. Dan dipikir-pikir lebih praktis bila dibakar menggunakan tusukan bambu. Selain mudah dimakan.

Atau mungkin Anda tahu asal mula sate menurut orang lain atau Anda sendiri?

Sumir

Saya mengerutkan dahi kala membaca artikel Pembangunan Pabrik Nokia di Indonesia Masih Sumir. Bukan, bukan karena isi beritanya. Tapi istilah ‘sumir’ yang saya lupa maknanya.

Setelah menelusuri artikel tersebut barulah saya mendapati bahwa ‘sumir’ berarti ‘tak jelas’. Ditilik dari etimologi, saya belum ngeh bagaimana kata ini selayaknya dipakai dalam konteks sehari-hari.

Terlintas di benak contoh kalimat yang menggunakan kata ‘sumir’. “Saya merasa kata ‘sumir’ masih sumir penggunaannya.”

Anda masih merasa sumir? Tak mengapa. Toh, kata ‘sumir’ juga belum tercantum di deretan kata berawalan ‘s’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. Mungkin memang status ‘sumir’ masih sumir.

Sumir, oh, sumir…