Pernah kita mengalami era di mana warga negara memanggil presidennya dengan “Ibu Presiden”. Sesuatu yang khas dibanding “Bapak Presiden”. Maklum, presidennya berjenis kelamin wanita dan ibu-ibu. Lucu kalau masih mbak-mbak. Mbak Presiden?
Tentu kita juga sudah familiar menyebut nama presiden dengan akronim seperti “Bapak SBY” atau “Presiden SBY”. Andai saja Jusuf Kalla keluar sebagai pemenang, mungkin bisa disebut “Presiden JK”.
Baru saja terlintas apa jadinya bila Sri Sultan menjadi presiden. Bagaimana menyebut dan menuliskannya? “Bapak Sri Sultan”, “Presiden Sri Sultan”, “Presiden Sri Sultan Hamengku Buwono X ” atau mungkin nama asli Sri Sultan. Adakah yang tahu?
Ini dilematis karena mengapa harus memanggilnya dengan embel-embel “presiden” bila bisa menyebutnya dengan lebih praktis “sultan”. Hanya saja ini membingungkan karena negeri kita dipimpin oleh seorang presiden atau sultan. Republik atau kerajaan. Jadi, mungkin lebih baik jika Sri Sultan tak perlu menjadi presiden agar tak repot memikirkan penyebutan namanya.
Negeri ini memang pencinta akronim. Dari nama jalan hingga nama departemen pemerintahan. Tak luput penamaan presiden. Mari kita lihat saja penyebutan presiden masa depan negeri ini. Menarik, kan?
Tags: akronim, jk, megawati, sby, sri sultan
5 Februari 2009 pada 5:36 PM
P.SSHB-X…