AirAsia

Cukup unik upaya AirAsia, maskapai murah meriah, untuk menekan ongkos terbangnya. Ada jualan penganan di dalam kabin pesawat, stiker iklan di tiap kursi dan tentu saja tambahan biaya kecil-kecil untuk layanan tambahan.

Tentu tak perlu protes lagi bila layanannya tak sebagus maskapai lainnya. Penumpang harap maklum dengan segala yang ditawarkan di sana karena memang sudah sesuai dengan harga yang dibayarkan untuk setiap tiketnya. Jadi bila ada penumpang yang protes, itu salah penumpang sendiri. Masak murah kok layanan bagus.

AirAsia memberikan suatu pengalaman terbang tersendiri. Setingkat dengan kereta api dan bis. Boleh dibilang seperti angkot udara. Dan ya, baru saja saya menaiki maskapai berwarna merah menyala ini. Jadi inilah komentar yang bisa saya berikan. Lumayan.

Changi, 19 April 2009

Megan Fox, Hulk dan Pakaian

Tertawa saya saat membaca Megan Fox difavoritkan jadi Hulk perempuan. Pasalnya, cukup mengejutkan bila seorang wanita yang sungguh menawan dan seksi tiba-tiba bisa berubah menjadi makhluk hijau yang mengerikan saat emosinya memuncak. Siapa hayo yang berani menjadi kekasihnya? Males banget, deh.

Kemudian terlintas di benak bahwa ketika Hulk menjadi monster pastilah pakaiannya akan compang-camping. Maklum, ukuran baju tak lagi muat dengan badan raksasa. Terlebih bagian celana (dalam?). Tak masalah saat dalam monster mode: ON. Tapi bagaimana saat berubah kembali menjadi bentuk manusia biasa?

Aha. Benar apa yang mungkin sedang Anda pikirkan. Baju compang-camping atau boleh jadi terlepas seluruhnya. Bayangkan bila kelar mengamuk, Hulk wanita jadi tak berbaju. Malu, kan? Bisa jadi ditangkap polisi karena perilaku tak pantas di muka umum atau melanggar undang-undang pornografi.

Tapi dipikir-pikir bolehlah bila Hulk-nya parasnya secantik Megan Fox. Tentu para pemirsa film akan sangat menunggu-nunggu adegan kala si seksi Megan kelar mengamuk. Tak lagi besar mengerikan dan berwarna hijau lumut. Tapi…

Ah, bagaimanapun seksinya si Megan tapi demi keselamatan jiwa dan umur panjang, mungkin lebih baik tak perlu berpasangan dan berkasih-kasihan dengannya. Salah sedikit, bisa jadi nyawa melayang. Tamparannya mantap.

Pemilu 9 April 2009

Hari ini diadakan pemilihan umum di seantero dunia. Tentu memilih caleg dan parpol baik warga negara yang ada di dalam negeri maupun mereka yang berdomisili di luar negeri. Namun, yang pasti, banyak warga negara yang meramaikan pemilu legislatif yang berlangsung pada hari ini melalui postingan-postingan di blog masing-masing. Ya, warga negara yang sekaligus netizen tukang ngeblog.

Silakan ulik pencarian blog dengan kata kunci pemilu 2009 dan contreng. Cukup banyak tulisan-tulisan yang unik. Menggambarkan situasi, mengekspresikan opini dan juga turut serta berkomentar secara cerdas maupun asal-asalan. Bahkan, tak jarang ditemui blog yang menyuarakan partai dan kandidat tertentu. Toh, sudah jamak bila ada tokoh politik yang ngeblog.

Bagaimana dengan Anda, apakah turut serta mengisi lembaran-lembaran blog dengan warna-warni pemilu? Bila tak punya blog, tentu masih bisa berpendapat dengan meramaikan papan komentar yang ada di masing-masing postingan.

Selamat mengikuti pesta demokrasi! Contreng atau tak mencontreng, semoga demokrasi tetap tegak berdiri. Hmm, tegak seperti … Ah, jadinya malah melantur. Silakan pikir sendiri.

Ajakan untuk Mencoblos Kertas Suara

Sungguh mengherankan ajakan seorang tokoh politik untuk mencoblos, bukannya mencontreng. Boleh saja. Toh, hak masing-masing orang untuk mempergunakan lembaran kertas suara yang dimilikinya.

Hanya saja ajakan tersebut cukup membingungkan. Bila dicoblos dan kemudian hasilnya kertas suara berlubang, bagaimana jadinya? Akankah kertas suara tersebut dinyatakan sah? Atau sebaliknya, yaitu tak sah sama sekali karena rusak. Aturan sudah dijelaskan dengan gamblang. Contreng. Bukan coblos.

Bayangkan bila kertas suara tersebut dianggap tak sah. Terlebih bila pemilih partai tersebut cukup besar. Itu sama saja dengan golput besar-besaran. Sia-sia belaka menghadiri bilik pemilu dan memberikan suaranya. Apa gunanya?

Pilihlah sesuai aturan. Bila aturannya mencontreng, ya contrenglah kertas suara. Memang proses contreng-mencontreng agak membingungkan masyarakat luas. Tapi bila sebuah partai tak mampu untuk ‘mengajarkan cara mencontreng’ bagi pemilih setianya, bagaimana bisa mengelola negara dan menyejahterakan rakyatnya.

Jadi tak boleh protes bila seorang pemimpin ‘menggembosi’ peraihan suaranya sendiri dengan ‘merusak secara sengaja’ kartu suara yang sejatinya mewakili suara masyarakat.

Kampanye dan Lagu

Iklan produk konsumen mengusung lagu tema. Slogan berupa lagu pun sering diputar oleh pusat perbelanjaan. Lumrah juga bila ditemukan lagu hymne sekolah-sekolah. Begitu juga dengan instansi pemerintahan dan korporasi. Ada ‘lagu wajib’ yang rupanya menjadi ciri khas masing-masing. Laiknya lagu kebangsaan yang dimiliki setiap negara di dunia.

Namun, sungguh menggelikan bila ternyata ada ‘lagu wajib dalam kampanye. Masing-masing partai memiliki lagu kesukaan yang didendangkan sebelum, di tengah-tengah atau sesudah orasi politik. Malah mungkin alunan lagu-lagu tersebut lebih diminati dibanding orasi basi dan janji kosong yang diulang-ulang dengan monoton.

Seperti yang diberitakan di artikel Sempurna dan Munajat Cita Berjaya, Dangdut ‘Tersingkir’. Lagu Sempurna yang dilantunkan Andra and The Backbone dan Munajat Cinta yang disajikan oleh The Rock, menghiasi panggung kampanye di seantero negeri.

Tentu lumrah bila lagu-lagu tersebut dimodifikasi sesuai kebutuhan pengumpulan massa untuk tujuan pemilu. Syairnya dipelintir agar ‘memuja partai atau pemimpinnya’. Tak perlu ijin penggubah aslinya meski jelas-jelas melanggar hak cipta.

Tak perlu diperdebatkan lagi bahwa live music memang manjur mengumpulkan massa, baik dalam konteks kampanye atau kegiatan lainnya. Pokoknya kumpul-kumpul mendengarkan musik dan berjoget sama-sama. Syukur-syukur kalau masih ada pembagian doorprize dan bingkisan sembako. Orasi? Ah, itu ga penting. Kecuali kalau calegnya artis yang manis dan cantik.

Contreng

Kata yang muncul untuk keperluan pemilihan umum ini memang memancing perdebatan yang panjang. Padahal bisa diganti dengan kata ‘centang’ yang sudah jamak penggunaannya.

Rancu dan membingungkan bila kita bertanya pada banyak orang tentang mencontreng di pemilu kali ini. Banyak yang tak mengerti. Bahkan, tak sedikit yang masih memiliki asumsi untuk mencoblos kertas suara. Jelas hal ini bisa mengakibatkan banyaknya kertas suara yang dianggap tak sah lantaran rusak.

Artikel Kompas bertajuk Kata ‘Contreng’ dari Planet Mana? jelas-jelas mempertanyakan kata contreng yang tak dapat ditemukan di khasanah bahasa Indonesia. Tak sekalipun didapatkan di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Contreng? Ada-ada saja. Entah dengan mencoblos, mencentang atau mencontreng, pastikan saat memilih, Anda pakai nurani dan akal sehat. Bukan karena menerima bingkisan sembako di pagi hari atau nikmatnya goyangan dangdut partai tertentu kala kampanye.