Pria Paling Beruntung

Secarik artikel memberitakan bahwa Leonardo DiCaprio merupakan salah satu pria paling beruntung. Asumsi tersebut datang karena rupanya Leonardo kerap gonta-ganti pacar yang bila bukan model cantik pastilah penyanyi yang seksi. Playboy kelas kakap, singkatnya. Kok bisa seberuntung itu, ya?

Namun, tak semua mengamini kesimpulan itu. Benar bahwasannya tak semua lelaki sebegitu beruntung bisa menaklukkan hati wanita-wanita super tersebut. Bahkan, banyak yang susah mendapatkan jodoh. Hanya saja ada pertanyaan mengusik, ‘meski banyak pacar, kok ga ada yang pas?’. Pencarian yang tak pernah berakhir. What’s wrong? Tak bosan menjadi petualang cinta?

Saya justru mendapati beberapa orang yang mengalami ‘cinta pertama sekaligus cinta terakhir’. Tidak seromantis dongeng di mana Romeo dan Juliet saling jatuh hati hingga mati. Bukan pula sefantastis ala Cinderella dan pangerannya. Hanya laki-laki biasa saja yang menemukan tambatan hatinya dengan wanita biasa-biasa saja. Sama-sama biasa saja tapi saling menganggap pasangannya luar biasa.

Malah boleh dibilang si Leonardo bukanlah pria yang beruntung. Pasalnya dia memiliki segalanya, dari kekayaan hingga popularitas. Namun, justru semua yang dimilikinya tersebut menjauhkannya dari cinta sejati. Coba hitung, berapa banyak perempuan yang antri mendarat di pelukannya hanya untuk mendapatkan harta, ketampanan dan ketampanannya? Dan tidak sungguh-sungguh mendambakan cintanya.

Jadi, Anda yang merasa sebagai pria yang tak beruntung, tak perlu berkecil hati. Toh, Leonardo yang sebegitu terkenalnya pun susah mendapatkan jodoh. Apalagi Anda yang biasa-biasa saja. Halah… Semoga Anda tak tersinggung dengan postingan setengah melantur ini meski faktanya sungguh-sungguh terjadi.

Rasa Bosan dan Gairah Hidup

Sebuah kutipan singkat yang memikat baru saja saya temukan di Facebook. "Boredom: the desire for desires", yang berasal dari novel Anna Karenina, karangan Leo Tolstoy.

Ada benarnya. Kala seorang insan dilanda rasa bosan yang sangat, justru di titik itulah, dia menghendaki suatu hal yang menggairahkan. Rasa bosan menjadi indikator perlunya perubahan yang mendesak. Bila bosan tak muncul, artinya segalanya baik-baik saja dan menyenangkan. Bukan, begitu?

Yang paling menakutkan dari kebosanan adalah berkurangnya gairah hidup. Hidup serasa tak ‘hidup’. Kemarin begitu, hari ini begitu juga dan besok begitu-begitu lagi. Stagnan, garis mendatar tanpa gejolak naik dan turun.

Rasa bosan rupanya bisa berubah. Yang bagus tentunya mengubah hidup atau perspektif akan hidup sehingga menjadikan hidup lebih berwarna, lebih bergairah. Yang berbahaya, seseorang kehilangan rasa bosan dengan hidupnya yang membosankan, bukan karena berubah, tapi karena kebosanan menyatu dengan hidupnya. Menerima bahwa ‘beginilah hidup itu seharusnya’.

Bila bosan muncul, bersyukurlah bahwa itu berarti kita masih merindukan gairah hidup. Jadi tepat adanya bila "kebosanan adalah keinginan untuk (hidup yang) penuh gairah". Mari, hidup dengan lebih bersemangat biar tidak bosan hidup. Bikin hidup lebih hidup!

Sultan dan Kelaparan

Artikel bertajuk Sultan: 1.399 Anak DIY Bergizi Buruk jelas membuat saya gatal untuk berkomentar. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Sultan kala menyambut Hari Pangan Seduni ke-29. Pertanyaan yang timbul adalah ‘mengapa bisa timbul kelaparan’?

Seribu lebih yang kelaparan. Pastilah itu hanya subyek data yang terhitung seperti halnya fenomena gunung es yang terbaca di permukaan. Persoalannya bukan data statistik yang dibutuhkan. Namun, solusi untuk menanggulanginya.

Tentu wajar bila pernyataannya dikembalikan ke Sultan, ‘apa saja yang selama ini Anda lakukan sebagai kepala pemerintahan Yogyakarta?’.

Boleh jadi sibuk mengurus penanaman investasi berskala mega seperti pusat perbelanjaan. Atau malah sibuk berpolitik untuk mengenyam tahta yang lebih besar. Coba bayangkan, di Yogya saja ditemui kelaparan saat beliau menjabat. Bila beliau sebagai presiden, berapa banyak lagi yang kelaparan.

Bila tak becus mengurusi kota Yogya, mungkin lebih baik bila mawas diri dan menyerahkan tahta kepada orang lain yang lebih mumpuni.

Orgasme dan Arisan Tante

Kali ini para tante kembali menggelar arisan. Topiknya cukup panas. Orgasme. Tentu pembicaraan kali ini bertajuk tak jauh-jauh dari aktivitas ranjang. ‘Mencapai puncak’ tentu diekspresikan dengan cara masing-masing individu. Paling tidak ada lima ekspresi ‘O’.

Tante 1 memprovokasi pergunjingan, "Eh jeng, kalau kalian-kalian pada mendapat Big O, terus mendesahnya bagaimana?" Langsung dijawab Tante 2 yang agak-agak religius, "Biasanya saya cuma bilang lirih ‘Oh My God‘ berulang-ulang".

Tante 3 yang selalu mengerjakan segalanya dengan benar nyeletuk, "Saya bisikkan ‘Oh, Yes! Oh, Yes! Oh! Yes!‘. "Kalau begitu kebalikannya dengan gue yang selalu bilang ‘Oh, No! Oh, No! Oh, No!‘ karena ga ketahan lagi asyiknya", aku Tante 4 sambil malu-malu.

Tante 5 pun ikut menyumbang suara, "Karena hubby gue agak-agak narsis, ya pas arrived to heaven, gue bilang namanya ‘Oh, Andy! Oh, Andy!‘ supaya hubby senang". Tante 5 pun lalu memandang ke arah Tante 1, "Kalau lu, gimana jeng?"

Ada keengganan dari Tante 1 untuk menjawab tapi rupanya tak tahan dengan para tante lainnya yang tak henti memandang penuh tanya. Tante 1 berkata lirih setengah berbisik sambil menunduk malu, "Hmm… saya sih sering bilang ‘Oh, oh, olala….. udah keluar to?‘. Soalnya laki gue terlalu cepet kelarnya, sih". Kontan, semua tante tertawa mendengar pengakuan lugu Tante 1 yang rupa-rupanya jarang ‘mencapai puncak’.

Bom Atom, Kematian dan Kemerdekaan

Sekarang masih Bulan Juli. Belum tampak hingar-bingar perayaan kemerdekaan yang terjadi di Bulan Agustus. Mengapa Agustus dan bukan bulan lainnya? Sederhana, ada hubungannya dengan bom atom yang dijatuhkan oleh Negeri Paman Sam di Nagasaki dan Hiroshima.

Tak ada bom atom, rasanya susah membayangkan kemerdekaan menjadi milik beberapa negara-negara di Asia. Bahkan China pun keok menghadapi Jepang. Jangan ditanya nasib Korea dan Filipina yang sangat dekat secara geografis dengan Kepulauan Jepang. Bahkan, pasukan gabungan milik sekutu masih harus susah payah menekan pasukan Kekaisaran Jepang dari segala arah.

Memang bom atom berakibat tragis. Bom yang kejam tersebut merenggut ribuan korban. Bila masih hidup pun, belum tentu selamat dari serangan radioaktif pemicu berbagai penyakit dan cacat yang sadis. Kita sepakat, bom atom tak seharusnya digunakan apa pun alasannya terhadap siapa pun jua.

Hanya saja, coba kita bayangkan, berapa ratus juta orang akan tewas sia-sia dalam korban berkepanjangan antara pasukan Jepang melawan negara sekutu ditambah dengan perlawanan negara-negara jajahan Jepang. 3,5 tahun Jepang di Indonesia saja mampu menyengsarakan dan membinasakan lebih banyak manusia berlipat-lipat dibanding kisaran waktu yang sama dalam era Kolonial Belanda. Lebih brutal, lebih kejam.

Tak akan pernah selesai diskusi semacam ini. Namun, Sang Kala sudah membuktikan. Tanpa bom atom yang mematikan, tak ada pula kemerdekaan. Membunuh segelintir insan manusia untuk menyelamatkan lebih banyak jiwa. Kejam memang. Itulah dunia.

Sejarah, Kolonialisasi dan Berandai-andai

Tadi sore bersama beberapa kawan ramai membicarakan dan berandai-andai tentang sejarah negara-negara di Asia Tenggara. Inti pembicaraannya sepele. Apa yang terjadi bila para kolonial atau interaksi dengan bangsa lain tak pernah datang ke Asia Tenggara?

Bila pedagang Arab tak pernah berdagang hingga ke Asia, tentu Kerajaan Sriwijaya yang berdasar Hindu – Buddha akan tetap berjaya. Menguasai wilayah luas dari ujung Thailand hingga setengah Filipina. Lain cerita pula bila para penjelajah Eropa tak hendak mencari India yang akhirnya malah berebutan menjajah negara-negara Asia. Tak ada Spanish East Indies (sekarang Filipina), tak muncul istilah Netherlands East Indies(dulunya Indonesia), Malaysia sebagai negara anggota Persemakmuran Inggris dan French Indochina (Vietnam kini).

Bila pun penjajahan koloni masih terjadi, serangan Negara Matahari Terbit sanggup mengubah sejarah secara besar-besaran. Asia Tenggara bakal disebut sebagai wilayah Kekaisaran Jepang Raya. Tentu bila bom atom tak pernah jatuh di negeri tersebut.

Sekarang? Negara-negara Asia Tenggara sudah merdeka. Hanya saja mungkin belum terbebas dari kolonialisasi ekonomi negara Barat, Jepang atau bahkan China. Lihat, berapa banyak penguasaan asing terhadap sumber daya bangsa tanpa harus mengambil dengan paksa secara militer. Bahkan, negara tetangga pun mulai mengambil alih aset bangsa sedikit demi sedikit.

Memang sejarah yang sudah tertoreh di lembaran waktu tak mungkin diulang lagi dan kemudian diubah. Sudah terjadi. Justru yang penting adalah masa depan yang belum ditapaki. Masih ada kesempatan untuk mengubah keberadaan bangsa ini. Dimanakah kita akan melangkah? Itu yang penting kita pikirkan. Mari bangun bangsa ini agar tak terjajah negara lain.

Gus Dur Tolak Pilpres 2009

Ada-ada saja Gur Dur ini. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala saat membaca artikel bertajuk Gus Dur Serukan Tolak Pilpres 2009. Duh, apa lagi ini?

Kecurangan itu selalu ada, kecil atau pun besar. Selalu ada. Bahkan, tak bisa dipungkiri, tiga pasang kandidat maupun masing-masing pendukungnya bisa jadi melakukan kecurangan, entah disengaja maupun tidak.

Bila pun tak ada kecurangan, masih banyak yang harus dilakukan untuk melanjutkan pembangunan bangsa. Tak peduli siapa yang menang, tetap saja ada yang tak puas dengan proses pemilihan presiden.

Justru penolakan seperti ini bisa memicu pro-kontra yang membelah bangsa. Ada kekacauan merebak dan ujung-ujungnya tanah air terpuruk kembali. Sedangkan negara-negara tetangga maju dengan pesat. Coba lihat apa yang terjadi dengan Iran. Bila terjadi revolusi boleh jadi makin banyak korban dari warga negara. Kemiskinan marak dan kesengsaraan belaka.

Bukan, bukan berarti curang itu tidak apa-apa, menjadi sebuah permakluman. Setiap kecurangan haruslah tetap ditindak. Hanya saja, jalannya pembangunan menjadi hal di atas segalanya. Agar segenap warga negara tak malu dengan negara yang susah maju ini.