Artikel bertajuk Sultan: 1.399 Anak DIY Bergizi Buruk jelas membuat saya gatal untuk berkomentar. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Sultan kala menyambut Hari Pangan Seduni ke-29. Pertanyaan yang timbul adalah ‘mengapa bisa timbul kelaparan’?
Seribu lebih yang kelaparan. Pastilah itu hanya subyek data yang terhitung seperti halnya fenomena gunung es yang terbaca di permukaan. Persoalannya bukan data statistik yang dibutuhkan. Namun, solusi untuk menanggulanginya.
Tentu wajar bila pernyataannya dikembalikan ke Sultan, ‘apa saja yang selama ini Anda lakukan sebagai kepala pemerintahan Yogyakarta?’.
Boleh jadi sibuk mengurus penanaman investasi berskala mega seperti pusat perbelanjaan. Atau malah sibuk berpolitik untuk mengenyam tahta yang lebih besar. Coba bayangkan, di Yogya saja ditemui kelaparan saat beliau menjabat. Bila beliau sebagai presiden, berapa banyak lagi yang kelaparan.
Bila tak becus mengurusi kota Yogya, mungkin lebih baik bila mawas diri dan menyerahkan tahta kepada orang lain yang lebih mumpuni.
ck ck ck… makanya kamu sampe keluar dari yogya… biar gak kelaparan yak?
benar, dalam rangka agar tetap bisa mencari sesuap kwetiaw.
wah kl jaman mbah harto, sampeyan bs lgsg dicekel dibilang subpersip