Harga Sembako dan Puasa

Fenomena biasa kala harga sembako naik drastis justru saat bulan puasa berlangsung. Padahal tak seharusnya berbanding lurus seperti itu. Sepertinya ini menjadi anomali harga sembako yang dimaklumi semua lapisan masyarakat.

Coba berpikir logis. Puasa atau pun tak puasa, asupan makan lebih kurang sama. Hanya waktu mengudapnya yang berbeda. Biasanya tiga kali mulai dari pagi, siang dan malam. Lalu, sedikit berubah menjadi subuh sebelum matahari terbit dan sore hari.

Malahan, bulan puasa bisa menjadi salah satu cara efektif diet dan pembersihan saluran pencernaan. Belajar menahan nafsu dan makan secara teratur. Hanya saja malah cenderung salah kaprah. Mengapa?

Banyak yang kurang tepat memahami makna puasa. Berbuka dengan santapan lebih enak daripada biasanya. Maklum, kan sudah seharian tak makan, masak sih makanan berbukanya tak enak? Begitu pula makan Sahur yang jauh lebih banyak daripada biasanya. Rupanya tandon agar ‘selamat; hingga sore.

Bila memang hendak berpuasa, berpuasalah secara bijaksana. Dengan begitu, tak ada lagi kenaikan harga sembako di mana seharusnya orang lebih sadar urusan makan. Selamat Berpuasa bagi Anda yang sungguh-sungguh menunaikannya dengan ketulusan hati, bukan sekedar formalitas setahun sekali,

Bandara Terbaik Dunia

Rupanya Bandara Incheon Korea Terbaik di Dunia, langsir sebuah pemberitaan. Mengalahkan Bandar Udara Internasional Hong Kong dan Bandar Udara Changi, Singapura. Padahal dua bandara tersebut tak kalah bersih, rapi dan memuaskan pelayanannya. Jadi penasaran saya sebagus apa bandar udara di Negara Ginseng tersebut.

Changi sering saya kunjungi, maklum saya memang berdomisili di Negeri Merlion ini. Bandar udara Hongkong juga sudah saya singgahi dua kali. Tak diragukan kualitasnya memang top. Pelayanan kelas dunia.

Klise memang bila kita mencoba membandingkannya dengan Bandara Cengkareng yang ketinggalan jauh dari segi manapun. Maklum, pengelolaannya belumlah maksimal. Padahal bandar udara utama adalah gerbang pertama di mana para pelancong akan masuki pertama kali.

Saya dan mungkin juga Anda mungkin harus cukup bersabar menunggu perbaikan dan perubahan kualitas bandara di tanah air.

Maklumlah, departemen pariwisata selalu disibukkan mengurus tarian, nyanyian atau hasil budaya yang diklaim negara tetangga. Yang membuatnya tak sempat mempromosikan turisme dengan maksimal. Begitu juga dengan departemen perhubungan yang sedang sibuk mengurus jembatan dan jalur mudik tiap tahunnya sehingga tak sempat memikirkan bandara.

Alat Komunikasi dan Komunikasi

Ponsel, surel (surat elektronik), messenger, tatap muka streaming video, Facebook dan yang terakhir Twitter. Banyak pilihan untuk bertukar pesan. Berkomunikasi. Lebih murah hingga mendekati gratis. Mudah, siapapun bisa menggunakannya. Pilihan berkomunikasi tersedia bebas dan makin lama makin canggih.

Hanya saja rupanya tak berbanding lurus dengan kemampuan manusia berkomunikasi. Segala perangkat tersebut, baik disadari atau tidak, mengurangi kemampuan manusia berkomunikasi. Ada yang dikurangi dari komunikasi tak langsung tersebut. Berbeda dengan komunikasi langsung dan secara tatap muka, ada ekspresi yang tampak di wajah, gerak tubuh yang menyiratkan suasana hati dan juga empati saat berbicara langsung. Ada tatapan mata yang saling membaca ‘banyak hal yang tak tersampaikan oleh kata-kata’.

Benar, ada yang kurang. Kurang lengkap. Melalui kecanggihan teknologi tetap saja ada yang terlewat. Paragraf tanpa konteks, deretan kata yang tertata tanpa tahu emosi penyampaiannya dan terasa asing. Untuk yang terakhir ini, coba saja camera chat, pasti agak tak nyaman.

Terbukti saat banyak orang tak pandai mengucap kata yang sudah ada di dalam kepala. Ekspresi kaku, responnya pun malu-malu. Kemampuan manusia berkomunikasi makin menurut. Bahkan ada yang cacat. Bisa berbuih-buih di surel mau pun status Facebook, tapi diam seribu diam kala bertermu langsung.

Kata tercekat saat bertatapmuka secara langsung. Namun, lancar bertukar-kata kala ngobrol-ngobrol terjadi melalui alat komunikasi. Sebuah ironi bahwa manusia menemukan alat komunikasi yang menurunkan kemampuan komunikasi meski sejatinya untuk membantu kelancaran komunikasi. Komunikasi jaman sekarang merupakan komunikasi yang interaktif tapi tak lagi komunikatif…

Up

Baru saja menonton film Up. Film yang dibesut oleh Pixar – Disney. Film ini memang membikin Up. Mengingatkan untuk meraih impian yang hampir terlupa. Mengangkat semangat untuk menjalani kehidupan.

Film ini memang membuat penontonnya Up.

Hibernasi dan Segelas Coklat Hangat

Kehidupan terasa berjalan begitu cepat. Bukan, bukan berjalan. Berlari tepatnya. Nafas tersengal-sengal, jantung berdetak lebih kerap. Itu yang saya rasakan akhir-akhir ini. Rasanya kehidupan begitu melelahkan. Ada rasa pegal di sekujur badan. Tentu saja disertai dengan bad mood yang tak kunjung reda.

Lalu, saya membilang pada diri saya. Stop! Penat seperti ini harus diakhiri. Setelah berucap TGIF, pulanglah saya, mandi dan hibernasi dari sore hingga hampir siang. Lalu bersauna yang bukan karena pergi ke spa tapi menyetrika baju hingga berkeringat. Hitung-hitung bakar lemak.

Malam ini pun dipungkasi dengan meminum segelas coklat hangat Ghirardelli favorit saya. Jelas, mood pun membaik. One reason that I am writing the blog on this nite.

Sederhana saja untuk menghadirkan keseimbangan kosmos dalam kehidupan yang melelahkan. Hibernasi dan segelas coklat hangat. Tak lebih dan tak kurang.

Hidup itu indah. Tentu dengan syarat bila kita menyempatkan untuk menikmatinya…

Nothing To Lose

Terus terang saya kurang ngeh dengan lagu yang dibawakan oleh Michael Learns To Rock ini. Maksudnya apa dengan frasa Nothing To Lose? Ga ada ruginya? Atau malahan, rugi juga tidak apa-apa? Jadi kalau seseorang menyanyikan lagu ini untuk Anda, kira-kira apa yang Anda tangkap?

Teori pertama, lagu ini berarti ‘aku akan lakukan apa pun untuk mendapatkanmu, apa pun harganya‘. Naik ke gunung, menyeberangi lautan pun kulakukan. Nothing to lose karena aku perbuat ini untukmu. Mengutip lirik Mbah Surip, I love you full… Kebanyakan orang pasti condong arti yang ini. Bahkan kalau cinta ditolak pun, tetap saja rela melakukan segalanya tersebut.

Teori kedua, ‘memang kamu segalanya bagiku tapi ga dapat kamu nothing to lose, kok’. Kamu memang cantik, pintar dan seksi. Tapi bukan berarti, menyunting lirik lagunya Dewa19, kamulah satu-satunya di dunia ini. Kata kakek, "masih banyak ikan di laut." Jadi semua yang kulakukan tempo hari, anggap aja itu investasi. Resikonya sudah diperhitungkan masak-masak.

Teori lainnya, yang agak-agak kacau, ya seperti ini. ‘Kita memang sudah putus padahal aku sudah beri kamu banyak hadiah dan lain-lainnya. Tapi ga rugi juga, kok. Aku juga dah dapat banyak darimu, baik yang materil, imateril atau hal-hal yang ehem-ehem. Sama-sama untung, gitu.’ Cukup fair, kan?

Saya juga menanyakan arti lagu ini kepada seorang teman. Katanya dengan yakin, ini lagu ‘cinta bertepuk sebelah tangan’. Menggantung, belum ada kejelasannya. Boleh juga, teorinya. Omong-omong, apa dong pendapat Anda mengenai lagu ini. Ini lagu sebenarnya ingin menyampaikan maksud apa?

Mbah Surip dan Eksploitasi Seniman

Ramai dibicarakan bahwasannya Mbah Surip meninggal karena kecapaian pentas di mana-mana. Ada dugaan eksploitasi. Masih juga disisipi dengan keuntungan royalti yang katanya persentasenya lebih kecil dibanding yang ‘dimakan’ oleh operator selular. Ada kesimpulan dangkal bahwa Mbah Surip menjadi korban eksploitasi kapitalisme. Benarkah?

Mbah Surip memang musisi yang mencengangkan, patut dihargai. Hanya saja sebagai seorang musisi seharusnya dia membaca kontrak dengan seksama. Juga menjadi haknya untuk meminta istirahat bila dirasa terlalu capai. Semua sudah tertuang di surat perjanjian, hitam di atas putih, sudah pula ditandangani. Ada kesepakatan di sana. Toh, tanpa adanya pihak yang mengorbitkan popularitasnya, mungkin kita tak akan mengenal sosok Mbah Surip dan karya-karyanya yang menghibur dan jenaka.

Saya tak hendak membela pihak yang menjadi partner Mbah Surip. Hanya saja saya menyayangkan apabila para musisi menjadikan dirinya ‘budak’ hanya karena tak mau menyempatkan waktu memahami isi kontrak. Toh, sesuai kesepakatan para musisi mendapat imbalan material dan popularitas.

Mungkin juga, Mbah Surip terkenal terlalu cepat. Tak sempat menyesesuaikan dirinya dengan ekspos infotainment dan jurnalis dunia hiburan. Tak pula siap dengan elu-elu dari banyak penggemarnya. Boleh jadi, penggemar Mbah Suriplah yang ‘membunuhnya’. Mengharapkannya tampil menghibur mereka di tengah kerasnya kehidupan.

Tapi apa lacur, Mbah Surip, Michael Jackson dan musisi populer lainnya bisa kandas karena tak siap secara mental. Hancur karena kesuksesan yang mereka raih. What a waste… Kesia-siaan semata. Tapi paling tidak, "Sekali berarti sesudah itu mati!", kata Chairil Anwar. Terima kasih Mbah Surip, karyamu sudah sempat menghibur jiwa para pendengarmu. Selamat jalan, Mbah Surip!

Oposisi, Harga Diri dan PDI-P

Wacana yang tak lagi baru bila sebuah partai politik yang kalah mengumandangkan hendak menjadi oposisi. Sayang, definisi oposisi tersebut rancu di tanah air, tak sejelas apa yang terjadi di negara lain. Kesannya hanya memperkeruh tiap keputusan yang dibuat oleh pemerintah agar kelihatan memihak pada kepentingan rakyat semata.

Saat banyak elit partai berlambang Banteng pimpinan Megawati mencoba untuk memposisikan partainya sebagai oposisi, di waktu yang sama ada elit-elit yang tampaknya masih menginginkan porsi jabatan di kabinet SBY-Boediono yang sedang dibentuk. Bisa dimaklumi. Soalnya, meski membilang menjadi oposisi merupakan bentuk harga diri, toh, tak ada gajinya.

Lagipula, tak semestinya PDI-P berkehendak menjadi oposisi. Coba lihat, betapa sengitnya perjuangan Ibu Mega untuk menggagalkan keputusan hasil final Pilpres 2009. Masih ada usaha untuk mengadakan Pilpres ulang. Jadi, langkahnya menjadi bias. Coba kalau Pilpres diulang lalu Megawati menang, apakah PDI-P akan menjadi oposisi? Tentu tidak.

Tak penting menjadi oposisi atau bukan. Lebih penting untuk dilakukan adalah mencoba membantu masyarakat menjadi lebih mandiri dengan program kemasyarakatan partai dan memberikan pendidikan berpolitik yang santun. Kecuali kalau janji-janji kemarin hanya omong kosong, tentu lain jadinya.

Jadi bagaimana, masih mencoba sisa-sisa kursi jabatan atau seratus persen yakin menjadi oposisi? Buktikan!