Fenomena biasa kala harga sembako naik drastis justru saat bulan puasa berlangsung. Padahal tak seharusnya berbanding lurus seperti itu. Sepertinya ini menjadi anomali harga sembako yang dimaklumi semua lapisan masyarakat.
Coba berpikir logis. Puasa atau pun tak puasa, asupan makan lebih kurang sama. Hanya waktu mengudapnya yang berbeda. Biasanya tiga kali mulai dari pagi, siang dan malam. Lalu, sedikit berubah menjadi subuh sebelum matahari terbit dan sore hari.
Malahan, bulan puasa bisa menjadi salah satu cara efektif diet dan pembersihan saluran pencernaan. Belajar menahan nafsu dan makan secara teratur. Hanya saja malah cenderung salah kaprah. Mengapa?
Banyak yang kurang tepat memahami makna puasa. Berbuka dengan santapan lebih enak daripada biasanya. Maklum, kan sudah seharian tak makan, masak sih makanan berbukanya tak enak? Begitu pula makan Sahur yang jauh lebih banyak daripada biasanya. Rupanya tandon agar ‘selamat; hingga sore.
Bila memang hendak berpuasa, berpuasalah secara bijaksana. Dengan begitu, tak ada lagi kenaikan harga sembako di mana seharusnya orang lebih sadar urusan makan. Selamat Berpuasa bagi Anda yang sungguh-sungguh menunaikannya dengan ketulusan hati, bukan sekedar formalitas setahun sekali,