PDIP, Mencari Posisi atau Menjadi Oposisi?

Dalam ranah politik, mendapat posisi dalam kabinet atau pemerintahan pastilah lebih menguntungkan dibanding sekedar menjadi pihak oposisi. Boleh dibilang, kalau dapat posisi, lumayan dapat porsi cipratan rejeki. Sedangkan oposisi, protes melulu tapi tak dapat apa-apa. Jadi, jelas-jelas beda meskipun masih sama-sama berkiprah untuk melayani masyarakat dan bangsa.

Nah, artikel bertajuk Sikap Oposan PDIP Dinilai Hanya Memanas-manasi Rakyat sungguh mengundang tanya. Sebenarnya apa sih maunya Si Banteng Moncong Putih ini? Katanya memilih untuk memperjuangkan aspirasi rakyat dengan cara menjadi oposan. Tapi kok ya masih bersemangat mencari kursi pemerintahan. Ada dua sisi yang berbeda.

Tentu aneh bila sebuah partai mengatakan dirinya akan menjadi oposan tetapi memiliki orang-orang partai yang sama duduk di dalam pemerintahan. Bukan, bukan autokritik. Justru, tekad menjadi oposan menjadi melemah. Apalagi mereka yang ‘ingin duduk di tampuk pemerintahan’ juga mereka yang tergolong elit partai. Tak mungkin, atau ‘tak etis’, bila para anggota partai mengkritik pemimpin-pemimpin partai mereka sendiri. Bisa-bisa ‘kualat’, pasti dianggap tak tahu diri. Bukan, begitu?

Jadi, bagaimana ini? Mencari posisi atau menjadi oposisi? Mungkin, ada kesepakatan tersendiri, bila tak dapat posisi maka langkah berikutnya menjadi oposisi. Bila mendapat kursi? Ngapain repot-repot menjadi oposisi. Masuk akal, kan?

Lumrah bila Si Banteng Moncong Putih goyah dan limbung menentukan arah, soalnya pemimpin utamanya juga sering berubah-ubah…

Turunnya Kemampuan Baca

Seberapa cepat Anda mampu membaca buku? Mungkin kecepatan tak lagi menjadi masalah. Tapi bagaimana dengan volume membaca Anda?

Pertanyaan tersebut muncul kala saya mendapati bahwa meskipun saya mampu membaca dengan cepat tapi tak lagi mampu mencerap volume baca sebanyak dulu.

Berbagai artikel bisa saya cerap dengan mudah. Sebaliknya, buku yang tebal tak lagi bisa saya nikmati. Tersengal-sengal rasanya. Baru bagian intro saja pun sudah tertatih-tatih.

Dugaan saya, hal ini dikarenakan tingkat konsentrasi berkurang banyak. Tak dipungkiri, kita terekspos dengan informasi pendek-pendek. SMS, email, artikel berita singkat dan tentu berbagai tayangan interaktif visual terpotong-potong.

Ya, sore ini saya mencoba membaca ebook Teori Darwin. Mulai membaca lalu minat tiba-tiba hilang. Sungguh, kebiasaan membaca buku sudah terabaikan. Bagaimana dengan Anda, apakah masih mampu menuntaskan buku bacaan?

Fetal Macrosomia

Istilah biologi di atas dipakai untuk menyebut ‘bayi raksasa’. Bayi yang terlahir dengan berat badan dan ukuran yang berlebih dibanding ukuran bayi yang terlahir pada umumnya.

Seperti yang baru saja diberitakan di artikel bertajuk "Giant Baby, Mengapa Terjadi? Tentu wajar bila operasi Caesar dilakukan. Jelas akan menjadi masalah tersendiri bila harus dilahirkan melalui ‘jalan yang biasa’.

Untungnya kemampuan kedokteran jaman sekarang sudah lebih maju. Hal abnormal seperti ini bisa dimengerti, dijelaskan dan diatasi secara klinis. Bayangkan apa yang terjadi puluhan tahun yang lalu bila ada ‘bayi raksasa’ seperti ini? Boleh jadi, bayi tersebut akan disangkutpautkan dengan hal-hal klenik gaib sebagai tanda datangnya berkah atau malah kutukan penguasa langit oleh warga sekitarnya.

Semoga para bayi yang tak mungil tersebut akan tumbuh dengan wajar, tanpa mengalami disfungsi fisik yang dianggap oleh keluarganya mempermalukan nama keluarga. Padahal sama seperti anak-anak lainnya, mereka terlahir polos dan tanpa dosa. Jadi tak perlu dianggap sebagai keanehan dan diolok-olok.

Ricuh Bagi-bagi Sembako

Kesalahan yang fatal lagi-lagi diulang. Membagi sembako untuk orang miskin yang membutuhkannya tetapi prosedurnya tidak dipikirkan dengan matang hingga timbul korban jiwa. Tahun-tahun yang telah lalu terjadi kericuhan. Tak luput juga tahun ini. Bukan poin pahala yang didapat, justru hujatan dan makian dari keluarga yang menjadi korban tewas terinjak-injak atau sekedar luka-luka.

Kali ini giliran seorang pejabat negara, Fauzi Bowo, yang menjadi contoh ‘bagi-bagi rejeki secara tidak bijak’. Seorang pejabat seharusnya punya pikiran yang cerdas dalam mendistribusikan sembako. Hanya saja tak terbukti, buktinya warga yang tak punya saling rebutan membabi-buta. Lalu, jatuh korban. Maaf pun dilontarkan. Padahal bila direncanakan matang-matang, tak perlu menanggung malu karena tak becus ‘berbuat baik’.

Lagipula, tak perlu membagi sedekah hanya kala saat Hari Raya. Seperti juga bagi-bagi kala hendak pemilihan umum. Jelas motivasinya. Agar mendapat pahala, juga dipandang masyarakat. Bila memang tulus, berikan sedekah kala warga miskin membutuhkannya, tanpa pamrih. Benar, kan?

Jadi, bagaimana Lebaran tahun depan, 2010? Apakah kebodohan yang dilandasi ‘niat baik’ tetap akan terjadi? Bersedekah tak cukup hanya melibatkan niatan tulus tapi juga cara memberikannya. Agar bagi-bagi rejeki memang menjadi berkah bagi semua pihak.

Maria Ozawa dan Yusuf Mansyur

Terbahak-bahak saya tatkala membaca berita bertajuk Yusuf Mansyur Ingin Ceramahi Maria Ozawa. Rupanya Sang Ustad tahu mengenai Sang Bintang Film Biru dari Negeri Sakura tersebut. Bahkan ingin menyadarkan Miyabi. Tak salah memang. Hanya saja, ‘apa ga ada yang lebih penting daripada Miyabi?’

Masih banyak anak muda yang perlu bimbingan dalam hal moral, etika dan tentu saja agar mereka lebih kokoh, tidak mudah jatuh dalam godaan. Kalau kuat imamnya, toh, Miyabi telanjang di depan mata, juga tetap tak tergoda. *mungkinkah??*

Begitu pula para oknum pejabat yang masih berkeliaran menggerogoti harta rakyat banyak. Mereka ini perlu disadarkan. ‘Dicuci’ hingga bersih sehingga dapat melayani segenap warga negara dengan sebaik-baiknya. *mungkinkah??*

Ah, melantur pagi-pagi… Mari bekerja! Biarkan Miyabi datang dan bikin segenap lelaki di tanah air senang. Toh, hitung-hitung hiburan. Tapi ingat, jangan tergoda!

Disibukkan Dengan Gadget

Makin lama makin tak mudah mendapati manusia yang tak disibukkan dengan gadget. Baik itu blackberry, hape atau pun pemutar musik. Pikiran tertuju Pada alat elektronik yang dibawa ataupun disandang.

Ada earphone yang membekap telinga rapat-rapat. Mata tak bisa lekang dari tampilan LCD mungil. Dinka sekitar sirna.

Padahal bila tak terlalu tersita dengan gadget, ada sekian banyak hal yang dapat dinikmati. Menikmati keindahan Kota, berbicara dengan lebih banyak orang dan terlepas dari keterikatan gadget.

Sekali-kali tinggalkan gadget-gadget itu di rumah. Bila terasa sakaw itu artinya sudah kecanduan gadget. Ketergantungan.

Berbagai gadget diciptakan untuk manusia agar lebih mudah menikmati hidup. Bukan merampas nikmatnya kehidupan dari alam nyata.

Istirahat

Sudah malam. Apakah sudah lelah? Tak perlu dipaksakan untuk tetap menikmati malam. Masih ada hari esok.

Ya. Mungkin masih ada kerjaan yang belum selesai. Pembicaraan yang asyik dengan teman. Atau mungkin sedang menonton kotak kaca hingga lupa waktu.

Tapi sudah malam. Tengah malam tepatnya. Istirahatlah. Selamat tidur…