Ricuh Bagi-bagi Sembako

22 September 2009

Kesalahan yang fatal lagi-lagi diulang. Membagi sembako untuk orang miskin yang membutuhkannya tetapi prosedurnya tidak dipikirkan dengan matang hingga timbul korban jiwa. Tahun-tahun yang telah lalu terjadi kericuhan. Tak luput juga tahun ini. Bukan poin pahala yang didapat, justru hujatan dan makian dari keluarga yang menjadi korban tewas terinjak-injak atau sekedar luka-luka.

Kali ini giliran seorang pejabat negara, Fauzi Bowo, yang menjadi contoh ‘bagi-bagi rejeki secara tidak bijak’. Seorang pejabat seharusnya punya pikiran yang cerdas dalam mendistribusikan sembako. Hanya saja tak terbukti, buktinya warga yang tak punya saling rebutan membabi-buta. Lalu, jatuh korban. Maaf pun dilontarkan. Padahal bila direncanakan matang-matang, tak perlu menanggung malu karena tak becus ‘berbuat baik’.

Lagipula, tak perlu membagi sedekah hanya kala saat Hari Raya. Seperti juga bagi-bagi kala hendak pemilihan umum. Jelas motivasinya. Agar mendapat pahala, juga dipandang masyarakat. Bila memang tulus, berikan sedekah kala warga miskin membutuhkannya, tanpa pamrih. Benar, kan?

Jadi, bagaimana Lebaran tahun depan, 2010? Apakah kebodohan yang dilandasi ‘niat baik’ tetap akan terjadi? Bersedekah tak cukup hanya melibatkan niatan tulus tapi juga cara memberikannya. Agar bagi-bagi rejeki memang menjadi berkah bagi semua pihak.

2 Tanggapan ke “Ricuh Bagi-bagi Sembako”

  1. temenYahoo! Berkata

    setubuh…. eh setuju! kl memberi, jangan sampai tangan kiri tahu apa yg tangan kananmu beri.

  2. sembako online Berkata

    sembako oh sembako :-D , sering jadi objek permainan..huaa..moga2 kedepan nya pemerintah bisa mengatasi nya


Tinggalkan Balasan