Sepertinya kegiatan saling mengirim surat makin lama makin memudar. Maklum, sudah ada surat elektronik (email), pesan pendek (SMS), update status Facebook hingga menyebar serpihan kata di Twitter. Surat tak lagi dianggap punya nilai praktis. Bahkan, sampai sekarang pun Pos Indonesia masih kerap menghilangkan surat. Surat tak sampai tujuan.
Apalagi bila kita memperbincangkan surat cinta, rasa-rasanya terdengar jadoel. Secara waktu, itu tempoe doeloe. Kuno. Coba bayangkan bila seorang gadis ditaksir beberapa lelaki sekaligus di waktu yang sama. Boleh jadi, pesan berisi luapan cinta yang dikirim lewat MMS lebih cepat sampai dibanding datangnya surat. Dan, si buah hati pun terlanjur dimiliki sang Arjuna yang lebih canggih.
Hanya saja, berkirim surat cinta tetap saja lebih romantis. Ada yang terwakili dari amplop berisi lembaran kertas yang dihiasi dengan tulisan romantis. Ada usaha yang lebih dibanding mengetikkan jemari di papan kunci telepon selular. Lagipula, surat yang datang, diterima atau tidak cintanya, pastilah menimbulkan kesan tersendiri. Sesuatu yang terpegang oleh tangan, terlihat oleh mata. Ada rasa senang yang membuncah menerima secuil sesembahan tanda cinta.
Pesan cinta yang dihantar email atau pun sms eksis hanya sebatas belum dihapus. Tapi siapa sih yang tega membuang kata-kata yang tertuang rapi di lembaran surat yang dibungkus amplop khusus untuk mengekspresikan rasa sayang? Belum lagi bila surat tersebut tak sengaja ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian, pasti ada riak nostalgia yang tercipta…
Sudahkah atau pernahkah Anda mengirimkan surat cinta kepada pujaan hati Anda? Bila belum, kirimlah segera. Atau paling tidak mari kita dengarkan bersama lantunan lagu berjudul Love Letter dari BoA Kwan, penyanyi dari Negeri Ginseng.
19 November 2009 pada 7:05 PM
mmmm yup… surat meninggalkan jejak-jejak nostalgi yang dalam.. menggugah kenangan