Seorang pahlawan tanpa tanda jasa yakin seyakin-yakinnya bahwa beberapa anak-anak didiknya nanti akan menjadi orang. Alasannya sepele, segelintir siswa-siswi di kelasnya menunjukkan bakat yang positif. Jadi, mereka pasti sukses menempuh garis nasib masing-masing. Coba saja lihat track-record mereka ketika masih ingusan dan hijau.
Si Ahmad menonjol sewaktu menjadi Pramuka, pintar membaca peta dan tak pernah tersesat. Si Bunga pandai mengolah makanan setiap ada tugas memasak. Si Cahya dikagumi karena selalu memenangi kompetisi silat. Si Desi cermat dalam hitung-menghitung. Si Eka selalu siap membantu temannya yang kesulitan. Si Fakhri memiliki sikap kritis dan berjiwa pemimpin. Si Gama yang gagah dan atletis selalu mendapat nilai sempurna dalam pelajaran olahraga. Juga ada Si Handoko yang lemah lembut dan menyayangi teman-temannya. Tak ketinggalan Si Inneke, siswi yang paling cantik, yang pintar menyanyi dan selalu menghibur temannya yang sedih.
Hanya saja, sang guru sangat terkejut tatkala mendengar cerita yang diutarakan anak didiknya saat reuni setelah bertahun-tahun tak saling bersua. Sang guru hanya bisa bengong. Sungguh tak dikira, bakat yang ada berseberangan dengan impian. Ada realitas yang pahit ternyata. Si Ahmad menjadi pemandu turis ilegal di tempat wisata. Si Bunga berkutat di dapur rumah makan pinggir jalan. Si Cahya menjadi tukang pukul dan kadang menjadi penjaga di pasar malam keliling. Si Desi menjadi ‘bankir’ bank plecit yang beroperasi di pasar-pasar sembari rentenir kecil-kecilan. Si Eka menjadi pembantu rumah tangga. Si Fakhri sekarang kepala demonstran yang memiliki pekerjaan serabutan. Si Gama yang menjadi kuli barang di stasiun kereta. Handoko yang menjadi ‘bantal’ para lelaki penyuka sejenis. Dan malang memang, Si Inneke yang menjadi wanita penghibur.
Bagaimana dengan murid-murid lainnya di kelas tersebut yang tak berbakat? Sang guru mendapati mereka yang sepertinya tak punya bakat malah memiliki suratan takdir yang sedikit lebih baik. Mereka semua, meski tak pintar tapi lumayan menurut dan gampang diatur, menjadi pahlawan devisa di Negeri Jiran, Hongkong dan Taiwan. Beberapa yang ada di Saudi Arabia bahkan sempat menunaikan ibadah haji. Dan ada satu anak didiknya yang hampir terlupa karena sulit dididik. Namanya Si Jamal, murid yang dulu selalu membuat sang guru kewalahan karena kenakalannya yang luar biasa. Yang dulunya bejat dan bangsat, tak dinyana mendapat hikmat saat hampir mati dikeroyok massa karena mencuri ayam. Sekarang Si Jamal jadi Ustad yang punya pesantren sendiri.
Bakat dan realita memang tak selalu di jalan yang sama. Lika-liku kehidupan memang selalu memiliki tanda tanya. Ada impian yang tak terwujud. Ada asa yang putus. Ada nasib yang membayang dalam langkah insan manusia. Kenyataan hidup mungkin tak sebagus rangkaian cerita Laskar Pelangi.
RSS