Lionel Messi dikecam media Argentina. Thierry Herny disoraki pendukungnya. Sama-sama hebat tapi nasibnya tak berbeda. Dianggap tak memberikan kehebatan mereka di tim tanah air mereka sendiri. Messi membela Argentina yang menang tipis dari Jerman. Sedangkan Henry, Perancis kalah dari Spanyol. Adilkah?
Memang keduanya memiliki kemampuan mengolah bola di atas rata-rata. Wajar bila ekspetasi pendukung mereka kelewat besar. Terlebih nama harum negara dipertaruhkan. Hanya saja, tak disadari bahwa sepakbola dimainkan oleh sebelas orang. Namanya juga kesebelasan. Bukan satu orang saja yang berperan.
Jadi, bila Messi tak mampu mengeluarkan sepakbola indahnya yang manjur menjebol gawang lawan, boleh jadi karena rekan-rekannya tak sehebat dan sekompak di Barcelona FC. Bila biasanya sering-sering dapat bola, sekarang tidak, tentu Messi jadi melempem. Setali tiga uang dengan Henry yang tak bisa mengeluarkan manuver tinggi yang mampu menembus pertahanan lawan.
Ditambah lagi dengan kondisi badan mereka yang sudah lelah ‘bekerja’ di rumput klub mereka masing-masing. Tak adil bila mereka harus bisa bermain seperti permainan hebat mereka di liga yang mereka ikuti. Kondisi berbeda, tim bermain berbeda dan pelatihnya juga sama sekali beda.
Pemain bintang memang berkontribusi besar terhadap tim yang dibelanya. Namun, tim tersebut juga yang bisa membuat permainannya berkembang. Coba bila David Beckham bermain di Persebaya. Pasti tak bisa berbuat apa-apa. Malah mendapat jotos para bonek bila kalah atau minimal terkena lemparan botol minuman.