Sudah jamak bahwa kereta komuter monorel menjadi pilihan yang bijak untuk masyarakat kota metropolitan. Begitu pula kota-kota besar di kawasan Asia Tenggara. Maklum, lintasan kereta yang efektif melintasi pusat kota dan daerah tempat tinggal mampu menghantar ratusan orang dengan cepat. Bayangkan bila semua penumpang bergantung pada kendaraan pribadi. Macet tentunya.
Di Negeri Merlion tempat saya mencari sesuap nasi, SMRT meskipun kerap dijejali penumpang, mampu memberikan kemudahan untuk pergi dari satu tempat ke tempat lainnya. Aman dan murah. Begitu juga saat melancong di Negeri Siam, BTS membuat saya mudah menjelajahi kota Bangkok. Bersih dan teratur fasilitasnya.
Negeri Jiran pun juga memiliki Monorails. Tak bagus memang. Saya kapok menaiki monorel di Kuala Lumpur tersebut. Tapi jelas bagi warganya, monorel tersebut bisa menjadi moda komuter masal. Manila pun saya dengar juga memiiki Metrostar Express.
Anehnya, saya tak menjumpai monorel di Jakarta, ibukota negara yang loh jinawi, kaya akan sumber daya alam dan manusia. Bagaimana ini? Masak tak ada sama sekali. Katanya memang ada. Tapi sebatas wacana. Semata rencana tanpa realitas.
Mengecewakan memang. Tapi mungkin sebaiknya begitu. Seyogyanya ibukota tak seharusnya dibangun lebih bagus karena hanya akan mendorong banjir urbanisasi. Lebih baik membangun kota sekitar dan kota skala menengah. Dengan demikian, pembangunan dan kesejahteraan menjadi merata di tanah air.