Coba Anda perhatikan sekeliling Anda. Temukan landmark, penanda lokasi yang mencolok dan menjadi identik dengan tempat tersebut. Semisal, Tugu Monas yang menjulang di Jakarta Pusat. Mungkin indah. Fungsinya? Mungkin sebagai monumen pengingat momen yang bersejarah. Ada gunanya?
Jelas ada gunanya. Sebagai tanda kebanggaan. Toh, membangunnya tak mudah, butuh dana besar dan juga diprotes sana-sini. Hanya ketika dihadapkan pada fungsi yang mendasar, sebenarnya tak memberikan pengaruh sebesar membikin sarana publik. Boleh dikata, bangunan seperti ini bisa dikategorikan sebagai proyek mercusuar. Bangga semata tapi tak berguna bagi banyak orang.
Terbersit ide untuk mendirikan menara yang mampu menyaingi menara Petronas di Kuala Lumpur, di Negeri Jiran oleh 3 BUMN besar di tanah air. Begitulah kabar yang dihantar media masa. Bijakkah?
Untuk apa? Bukankah masih banyak yang harus dibenahi. Sarana publik belum memadai. Pembangunan tak merata di berbagai tempat. Tapi ingin membangun sebuah mimpi di siang bolong? Itu pun dengan catatan bahwa BUMN di tanah air masih juga tak memberikan kualitas pelayanan dan pembangunan yang memuaskan. Masih merugi, masih dikorupsi.
Mengapa tak membangun lebih banyak jembatan, rel kereta yang lebih modern, angkutan perkotaan yang sistematis? Alasannya, hal-hal seperti itu tak terlalu kelihatan sehingga tak mudah dibanggakan. Ironi, bukan? Hentikan proyek-proyek mercusuar yang hanya bikin anggaran membengkak dan kebutuhan rakyat diabaikan.
jadi inget ama tembok china, dulu kaisar shi huang ti bikin gituan emang seh heboh ampe skrg, tp berapa byk yg jadi korban, ogah gw jadi korban gituan.
Bung, tembok china dibangun sebagai upaya membatasi serangan bangsa-bangsa di Utara yang nomaden dan kemana2 berkuda. Sebaik apa pun kuda tentu ga mungkin melompat tembok 2 meteran.
Lagipula, fungsi tembok itu untuk mempermudah logistik dan rotasi tentara2 penjaga perbatasan yang luasnya memang minta ampun.
jadi ada beda antara membangun untuk fungsi dengan membangun untuk kebanggaan dan gaya2an. bahkan, di jaman Revolusi Budaya, tembok itu malah dilupakan dan dihancurkan. jadi kalau skg dibanggakan itu sekedar untuk objek pariwisata.
Seharusnya kalau Indonesia mau membangun gedung yg melampaui gedung Petronas
Harus mendata dahulu siapa yg mau kontrak di gedung tersebut
Jangan membangun ntar banyak ruang kantornya yang nganggur gara-gara gak ada yg nyewa
Kan mubazir itu
hehehe