Guruguru, Guruguru

Baru saja saya menikmati makan siang dengan rekan sekantor. Masih sama muda, umur tak terpaut jauh. Ada yang sudah menikah, ada pula yang baru saja menyelesaikan kuliah.

Lalu cerita bergulir. Penggalan kisah pengalaman hidup pun terlontar. Ada yang sudah tinggal lama di Malaysia dan Singapura. Ada pula yang ternyata sudah lama menjadi world citizen. Dari Swiss, Amerika, pindah ke Inggris dan sekarang bekerja di Singapura. Sudah banyak pengalaman di umur yang relatif sama kiranya.

Saya pun bercermin ke diri saya sendiri. Apa saja yang sudah saya lakukan? Kurang, kurang berpengalaman meski menurut standar yang lain tentu saya lebih beruntung saat ini. Padahal ada potensi, ada pula kesempatan.

Saya pikir itu karena saya terlalu banyak bermain. Menghabiskan waktu untuk hal yang kurang esensial. Teringat saya istilah Guruguru, Guruguru dalam bahasa Jepang yang artinya “going around and around”. Istilah itu saya dapatkan saat menonton film berjudul Tokyo Tower: Mom and Me, and Sometimes Dad yang dimainkan oleh Joe Odagiri.

Terus terang, cerita yang didapat dari makan siang kali ini sungguh berguna. Memacu saya untuk tak hentinya memperbaiki diri. Terbang lebih tinggi dan lebih memaknai hidup yang hanya sekali.

Candu Elektronik

Lost in Electronica. Demikian judul artikel dari Newsweek yang saya baca tadi pagi. Sungguh menggugah karena relevan dengan pemandangan jamak di sekitar kita.

Ada yang selalu sibuk memandangi piranti genggam mereka untuk mengecek surel atau membalas BBM. Dengarkan musik yang menghentak telinga dari pemutar MP3 dan seketika menjadi tuli. Tenggelam dalam permainan PSP atau Nintento. Menarikan jari di atas lapisan kaca iPad. Juga mereka yang kemana-mana membawa laptop.

Bukan hanya di kantor kita melihat hal seperti itu. Juga di restoran, di jalan dan transportasi publik. Yang lebih mengenaskan, di rumah termasuk di tempat tidur. Tak aneh bila perangkat elektronik tersebut, apapun bentuknya, bisa selalu berada dalam genggaman. Bahkan, menjadi teman tidur.

Ada ‘keintiman’ di sana terhadap barang elektronika tersebut. Nilainya lebih dari sekedar butuh atau hanya dipakai bila diperlukan. Keterikatan yang tampak dengan jelas. Mungkin juga bisa disebut candu. Ketagihan rasanya bila tak menyentuh dan memakainya. Toh, candu memang menghibur. Membuat senang. Namun jenis kecanduan ini tak dianggap kecanduan seperti halnya kecanduan akan rokok, narkotika dan seks. Padahal jelas-jelas sudah ada tempat rehabilitasi untuk detox candu elektronika.

Bagaimana dengan Anda, sudah mulai kecanduan memakai piranti elektronika? Mungkin ada baiknya sungguh mengurangi pemakaiannya tanpa harus memakai alasan perlu dipakai atau 1001 argumen lainnya. Ah jadi ingat dengan bentuk kecanduan lainnya. Coba baca artikel Virtual farm games absorb real money, real lives.

Hampir 5 Tahun Menulis Blog

Wah, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Klise kedengarannya tapi begitulah rasanya. Hampir 5 tahun sudah saya menulis blog. Rentang waktu yang tak sedikit untuk torehkan kata-kata yang kadang-kadang bermakna, minimal untuk saya pribadi, dan yang kadang-kadang iseng semata. Pokoknya ngeblog jalan terus.

Saat menjelajah blog saya, postingan berjudul Akses cepat post di WP menjadi tulisan pertama kali di layanan blogging dari WordPress ini. Tertera disitu tanggal posting yang jatuh tepat pada tanggal 18 September 2006. Dan sekarang sudah bulan Agustus 2010. Satu bulan lagi dan genap 5 tahun setia menulis blog menggunakan WordPress. Selama itu pula tetap bisa memainkan kalimat dan menjejer paragraf dengan gratis.

Sebelumnya memang saya sudah ngeblog dengan berbagai layanan blog gratisan lainnya. Tapi tak begitu terpesona, kurang tertarik. Hanya WordPress yang sampai hari ini tetap saya gunakan untuk blogging. Terima kasih saya haturkan untuk Matt Mullenweg yang membangun layanan blogging ini.

Tentu saya pun harus ucapkan terima kasih untuk Anda yang masih tetap luangkan waktu untuk menengok dan berkomentar di blog Munggur ini. Silakan tetap menikmati bila suka mampir di sini. Semoga saya masih tetap bisa ngeblog di sini untuk waktu-waktu mendatang. Dengan cerita yang baru, pengalaman yang lebih menarik dan juga candaan yang renyah.

Sudah hampir 5 tahun rupanya…

Menghitung Kekuatan Gempa

Rupanya akhir-akhir ini banyak diberitakan mengenai gempa yang menggoyang tanah air maupun negeri manca. Tentu liputan menyoal lindu tak pernah lepas dari besaran skala yang ditimbulkannya. Pada umumnya kita mengenal Skala Richter. SR singkatannya. Makin besar, makin heboh kepanikan yang melanda. Maklum, hutan beton di perkotaan pun bisa porak-poranda. Apalagi perumahan penduduk yang asal bangun.

Namun, tak selalu SR yang besar timbulkan bencana hebat. Begitu pula SR yang imut, bisa jadi tewaskan lebih banyak orang. Kedalaman sumber gempa, struktur tanah dan demografi menentukan seberapa dahsyat efek gempat tersebut pada suatu wilayah. Ada besaran lain untuk mengukur kekuatan gempa. Terdapat Magnitudo Gempa, Skala Mercalli dan Skala Kekuatan Moment.

Saat dulu saya tinggal di Yogyakarta, yang relatif sering digoyang gempa sehingga menganggapnya sebagai hal biasa, saya merasa gempa bukan merupakan ancaman. Toh, rumah masih berdiri kokoh. Barulah pada saat terjadi Gempa Tektonik 27 Mei 2006 berkekuatan 6,2 pada Skala Richter, saya menyadari dahsyatnya efek gempa yang meluluhlantakan separuh kota kelahiran saya tersebut. Beruntung daerah saya tak dirambati energi dashyatnya sehingga selamat. Tapi banyak teman dan keluarga yang rumahnya rusak bahkan hancur.

Namun, lupakan hitung-hitungan besaran gempa saat gempa melanda. Yang terpenting segera selamatkan diri dan keluarga. Sesudah itu bila memungkinkan selamatkan aset berharga Anda. Segera hubungi sanak-keluarga untuk koordinasi. Terkadang bukan gempa yang membahayakan nyawa tapi justru rasa panik yang timbul saat tanah berpijak bergoyang tak beraturan.

Gempa bukan bahan bercandaan. Bencana yang bisa mengambil korban nyawa dan harta. Tapi tak seyogyanya gempa ditakuti tapi hal menarik untuk dipelajar, diwaspadai. Dan untuk mereka yang pernah atau sedang menderita karena gempa, simpati saya untuk mereka.

Girl Power atau Sekedar Komoditas?

Makin sering diekspos di televisi atau pun di internet berbagai grup penyanyi perempuan dari Negeri Ginseng. Tak banyak yang mengerti lirik dalam Bahasa Korea, toh, tetap saja mereka digemari, dipuja bahkan diidolakan di tanah air juga di belahan dunia yang lain. Terlontar ide Girl Power. Mereka ini mampu menyanyi, menari dan menghibur. Tenar pula. Lihat saja nama grup mereka, Wonder Girl dan Girl’s Generation. Sungguh meyakinkan. Coba lihat video mereka.

Kita sepakat bahwa mereka cantik, menarik, menggoda, sekaligus menghibur. Seksi dan boleh jadi merangsang syahwat. Mulus-mulus dan goyangannya asyik dilihat, jauh lebih nikmat daripada goyangan Inul yang sebenarnya lebih dahsyat. Meski vokal pas-pasan yang penting tetap bergaya. Girl Power? Atau justru sebaliknya, menjadi sebuah komoditas belaka. Eksploitasi gadis muda yang masih ranum demi mengeruk keuntungan.

Dan tentu banyak gadis belia penggemar mereka yang percaya bahwa grup penyanyi ini benar sempurna. Menjadi idaman banyak lelaki juga perempuan. Tak ada yang tak enak dilihat. Too good to be true? Banyak gadis belia yang ingin memiliki penampilan yang sama dengan mereka. Menjadi mahkluk cute yang imut. Padahal konon para gadis Korea itu terkenal memiliki wajah dan tubuh cantik dan ramping karena operasi plastik. Yang sudah tersohor bahwa permak wajah dan tubuh menjadi suatu yang jamak di sana.

Tataran cantik menarik pun berubah. Pengaruhnya begitu kuat pada gadis belia yang menjadi korban. Cara pikir yang salah bahwa girl power sama dengan memiliki wajah dan tubuh cantik dan seksi. Bukan, bukan itu. Ada yang memborong produk kecantikan secara berlebihan, ada juga yang terkena Anorexia karena diet berlebihan, ikutan operasi plastik tak sesuai standar hingga terjadi malpraktek. Bahkan kecantikan ragawi tak bertahan lama. Memudar.

Sangat disayangkan. Salah kaprah mengenai girl power malah menjadi bumerang bagi para gadis belia. Justru kehilangan identitas, juga percaya diri yang sejati, bukan semu. Penampilan memang perlu. Tapi tak seyogyanya seperti itu. Lagipula banyak bintang-bintang tersebut yang akhirnya merasa kehilangan dirinya sendiri meski tampil jauh lebih menawan. Pernah dengan istilah inner beauty, kan?

Ngong Ping Cable Car

Bila Anda menikmati perjalanan dengan kereta gantung, menyukai ketinggian dan kebetulan berencana ke Hong Kong, seyogyanya Anda menaiki Ngong Ping Cable Car di Lantau, dekat dengan Hong Kong International Airport.

Kereta gantung ini betul-betul kereta gantung yang serius. Sungguh tinggi, jalurnya panjang sekitar 5,7 km dan pemandangannya sungguh mengagumkan. Maklum, kereta gantung ini memang didirikan di perbukitan. Lokasinya lebih tinggi daripada Genting Skyway di Malaysia. Sedangkan jaraknya berlipat kali dibanding Cable Car di Sentosa Island, Singapura.

Ada baiknya membeli tiket pergi pulang. Lebih ekonomis, terlebih kereta gantung tersebut merupakan transportasi yang paling mudah dan mengasyikkan untuk mengunjungi daerah Ngong Ping. Sempatkan waktu yang cukup untuk mengunjungi Tian Tan Buddha dan Po Lin Monastery.

Jalan-jalan ke Ngong Ping sebaiknya dilakukan pagi hari atau siang hari karena kereta gantung tak beroperasi lagi setelah jam 6 sore. Lagipula kabut juga akan menyambut kala sore hari. Siang hari lebih tepat bila Anda ingin hasil foto yang jernih meski harus berpeluh karena temperatur yang lumayan panas.

Silakan baca informasinya mengenai Lantau di Wikitravel. Supaya tak tersesat di Ngong Ping.

Sebatas Memandang, Hanya Memimpikan

Seperti itulah nuansa yang terhantar melalui alunan lagu berjudul Creep yang dilantunkan oleh Radiohead. Sebatas memandang, hanya memimpikan. Kilasan momen yang indah tapi tak berlanjut. Tak ada sapa tersampaikan karena ada jarak di sana, ada ragu, ada rasa takut hinggap. Meski justru jarak itu yang membuat pesona yang diidaamkan menjadi lebih spesial. "Very fucking special", begitulah kata Radiohead.

Sudah lama saya menyukai lagu Creep ini, nadanya menyayat penuh penghayatan. Rupanya lagu ini kembali terkenal karena digunakan sebagai soundtrack film The Social Network.