Latihan Berjalan Sebelum Melancong

Banyak pelancong mengeluh bahwa kaki mereka pegal-pegal karena berjalan terlalu jauh saat jalan-jalan. Terutama mereka yang backpacking. Tentu tidak berlaku bagi turis yang selalu diantar bis dari hotel ke tempat wisata.

Kaki yang tak biasa diajak jalan jauh tentu akan merepotkan saat jalan-jalan. Maklum, banyak orang yang tergantung dengan sarana transportasi pribadi seperti mobil dan motor. Kaki pun kurang terlatih untuk berjalan.

Oleh karena itu, ada baiknya latihan jalan sebelum melancong. Makin lama tentu otot kaki akan menigkat kekuatannya. Hingga bisa diajak jalan jauh. Latihan bisa dilakukan dengan jalan-jalan di kota sendiri.

Saat latihan cobalah untuk menggunakan rute yang berbeda-beda. Tujuannya untuk memperkuat ketajaman geo-lokasi. Dengan begitu, saat tiba di tempat tujuan yang sama sekali baru arah, pemandangan dan strukturnya, otak akan cepat beradaptasi. Meminimalkan resiko tersesat yang bisa memakan banyak waktu.

Saya pun sekarang juga berlatih jalan-jalan. Maklum, sebentar lagi akan ke Negeri Sakura yang kemana-mana harus jalan kaki dan naik transportasi publik. Kali pertama jalan, banyak keringatan, pegal-pegal dan capai. Namun, cepat atau lambat, kaki saya tentu bisa diajak jalan jauh.

Majunya Pramuka dan Studi Banding

Benar adanya bahwa pramuka tak lagi diminati meski masih diikuti. Terpaksa ikut karena memang kewajiban ekstrakurikuler sekolah. Toh, suka atau tidak suka, murid yang ikut pramuka masih tetap mendapat pembelajaran bertahan hidup, berorganisasi dan tetap bersenang-senang dalam prosesnya.

Tiba-tiba ada wacana untuk menggiatkan pramuka. Ada keinginan untuk memajukannya. Modernisasi. Dengan begitu banyak anak-anak generasi sekarang dan mendatang memiliki karakter yang kuat dan tangguh. Tak ada yang salah dengan ide itu.

Yang tak benar adalah cara memajukan kegiatan pramuka dengan studi banding yang berlebihan dan tak pada tempatnya. Berbondong-bondong ingin melihat dengan kepala sendiri pramuka di negara lain yang gagal pramukanya. Aneh tapi nyata.

Padahal studi banding bisa melalui korespondensi, riset literatur melalui internet dan media komunikasi lainnya. Memajukan pramuka juga tak melulu dari atas ke bawah. Toh, seharusnya tiap sel anggota pramuka di penjuru tanah air bisa memikirkan bersama-sama cara memajukan pramuka. Mereka kan perintis.

Justru biaya perjalanan bisa digunakan untuk mengadakan jambore lebih sering. Juga sosialisasi secara masal. Kelihatan dengan jelas bahwa ‘jalan-jalan’ tersebut hanya berfungsi sebagai kamuflase. Yang lebih buruk, ditambahi dengan embel-embel ingin meningkatkan karakter generasi anak muda bangsa.

Kualitas Kulit, Kecantikan dan Cinta

Banyak orang membilang bahwa kecantikan dilihat dari bentuk mata yang indah, hidung yang mancung, bibir yang seksi atau rambut yang menawan. Singkatnya seputar wajah. Tentu ada pula yang melihat pada tonjolan dada yang menggugah selera, lekuk pinggang yang enak dipeluk atau kaki yang mulus.

Namun, ada pula yang menganggap kecantikan dapat dilihat dari keseluruhan lapisan tipis pembungkus otot dan organ dalam, yaitu kulit. Kulit yang bersinar, sehat, tak keriput, kencang dan bersih. Tentu membikin yang melihatnya terpesona. Hingga akhirnya jatuh cinta.

Jadi tak selalu cinta datang berawal dari tatap mata lalu turun ke hati. Tapi bisa jadi mulai dari kulit yang terlihat (atau sengaja diperlihatkan). Tak percaya? Coba dengarkan kedua lagu di bawah ini, perhatikan dengan seksama liriknya. Radiohead melalui lagu Creep membilang "Your skin make me cry" dan A-HA dengan Velvet-nya mengungkapkan "Her skin is like velvet".

Terbukti bahwa kualitas kulit itu penting sebagai salah satu faktor kecantikan. Itu alasan mengapa pabrikan kosmetik, layanan perawatan kulit dan dokter kulit tak henti-hentinya mempromosikan produk kecantikan kulit yang tampaknya tambah lama makin laris. Sebanding dengan penjual pakaian yang serba minim dan tampilkan bidang kulit lebih luas ketimbang potongan baju dari jaman kakek dan nenek.

Creep oleh Radiohead

Velvet oleh A-HA

Pemblokiran Konten Porno

Ramai di dunia maya maupun di dunia nyata mengenai pemblokiran konten porno. Bahkan Menkominfo pun terlihat sibuk dengan urusan konten dewasa yang rupanya marak diasup oleh pengguna internet di tanah air. Baik melalui komputer dekstop atau pun piranti genggam. Wacana moralitas, hukum agama dan tata susila publik masuk dalam wilayah informasi dan hiburan elektronik. Melawan tingginya permintaan konten porno dan kebebasan mengasup informasi apapun itu.

Beberapa pertanyaan mengemuka. Perlukah blokir? Bagaimana menerapkan blokir? Siapa saja yang berhak memblokir? Konten yang bagaimanakah yang diblokir? Teknologi apa yang hendak dipakai untuk memblokir konten? Terlalu kompleks sepertinya.

Seketat apapun pemblokiran, tetap saja ada 1001 cara untuk mendapatkan konten porno tersebut. Sembunyi-sembunyi dan bahkan dengan terbuka. Intensitas pengguna menikmati konten porno mungkin berkurang sesaat tapi tetap saja akan meningkat sesuai dengan makin tingginya tingkat penetrasi internet dan piranti genggam di tanah air.

Justru yang lebih efektif adalah penggunaan internet dan piranti genggam yang bijak dan sehat. Tentu dari pihak pengguna sendiri. Toh, bukannya negara kita ini menganut banyak agama. Dengan asumsi imannya kuat dan bukan memeluk agama secara KTP, pasti pengguna dengan sendirinya tak akan mengakses konten yang sesat dan tak sehat.

Bebaskan saja konten porno. Namun, di sisi lain, kampanyekan internet sehat dengna lebih bijak dan lebih luas ke masyarakat pengguna internet. Kampanyekan yang positif dibanding menekan yang negatif.