Benar adanya bahwa pramuka tak lagi diminati meski masih diikuti. Terpaksa ikut karena memang kewajiban ekstrakurikuler sekolah. Toh, suka atau tidak suka, murid yang ikut pramuka masih tetap mendapat pembelajaran bertahan hidup, berorganisasi dan tetap bersenang-senang dalam prosesnya.
Tiba-tiba ada wacana untuk menggiatkan pramuka. Ada keinginan untuk memajukannya. Modernisasi. Dengan begitu banyak anak-anak generasi sekarang dan mendatang memiliki karakter yang kuat dan tangguh. Tak ada yang salah dengan ide itu.
Yang tak benar adalah cara memajukan kegiatan pramuka dengan studi banding yang berlebihan dan tak pada tempatnya. Berbondong-bondong ingin melihat dengan kepala sendiri pramuka di negara lain yang gagal pramukanya. Aneh tapi nyata.
Padahal studi banding bisa melalui korespondensi, riset literatur melalui internet dan media komunikasi lainnya. Memajukan pramuka juga tak melulu dari atas ke bawah. Toh, seharusnya tiap sel anggota pramuka di penjuru tanah air bisa memikirkan bersama-sama cara memajukan pramuka. Mereka kan perintis.
Justru biaya perjalanan bisa digunakan untuk mengadakan jambore lebih sering. Juga sosialisasi secara masal. Kelihatan dengan jelas bahwa ‘jalan-jalan’ tersebut hanya berfungsi sebagai kamuflase. Yang lebih buruk, ditambahi dengan embel-embel ingin meningkatkan karakter generasi anak muda bangsa.