Rencana dan Hasil

Merencanakan sesuatu merupakan hal yang lumrah. Sepertinya semua orang bisa melakukannya dengan mudah. Bahkan sehari-hari kita terbiasa untuk membuat rencana. Otak kita terbiasa menerima perintah ‘apa yang harus dilakukan saat ini’. Bisa juga rencana untuk hari ini, minggu ini atau rentang waktu yang lebih panjang.

Namun rencana hanya berupa omong kosong bila tak terwujud. Rencana seyogyanya terealisasikan. Mewujud. Memang mudah untuk membuat rencana. Tapi tak semua orang mampu menjadikannya nyata. Hanya sebatas rencana tanpa hasil.

Mengapa begitu banyak rencana yang tak mewujud? Tentu pertanyaan tersebut harus dijawab oleh mereka yang membuat rencana. Ada banyak alasan yang bisa digunakan untuk memaklumi gagalnya sebuah rencana.

Lalu, mengapa ada orang-orang yang mampu menjadikan rencana mereka menjadi kenyataan? Jawaban tersebut tentu dibutuhkan oleh banyak orang. Mengapa?

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda lebih banyak mewujudkan rencana-rencana Anda?

Menuliskan Perjalanan

Beberapa negara sudah saya kunjungi. Jalan-jalan. Hanya saja saya masih belum menyempatkan tuliskan cerita, sematkan foto dan berikan informasi di blog ini.

Masih merasa seperti berhutang. Namun senang karena ada begitu banyak topik yang ada di kepala untuk selalu mengisi lembaran-lembaran kosong di blog ini.

Bebersih di Hari Minggu

Malas sebenarnya tapi tak tahan melihat kamar yang berantakan. Lagipula saya sudah jenuh dengan kamar yang tak lagi lenggang namun terasa sesak karena banyak barang yang tak berguna di dalam.

Ingin saya saat akhir tahun, kamar bersih dan tampak minimalis. Hingga tahun depan bisa dimulai dengan semangat karena kamar yang bersih dan rapi.

Tentu bukan berarti semua barang dibuang. Hanya barang yang kurang berarti yang bagaimana pun caranya harus keluar dari kamar. Bila ada yang bisa didonasikan, tentu akan lebih berguna dipakai oleh orang lain.

Sedikit demi sedikit barang-barang diatur, dibersihkan, disisihkan. Juga ada yang dipikirkan bagaimana melegonya.

Semoga di akhir tahun 2010, kamar dan urusan yang belum selesai dapat dibereskan. Cita-cita yang tidak muluk-muluk tapi tak mudah untuk direalisasikan.

Sakura no Ame, Itsuka

Iseng mengulik beberapa lagu yang dilantunkan oleh Matsu Takako. Penasaran seperti apa lagu-lagunya juga liriknya. Tak sengaja mendengarkan lagu berjudul Sakura no Ame, Itsuka. Hujan bunga Sakura.

Video klip-biasa saja, enak dilihat karena tampilkan ekspresi Matsu Takako yang selalu menawan. Namun iramanya yang sendu dan beberapa kata-katanya yang gloomy membuat terharu. Lagu sedih. Perpisahan karena orang yang dicintai sudah menuju ke alam baka.

Meskipun lagu sedih tapi tetap ada rasa optimis. Ada asa untuk bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Bahagia bersama di suatu saat nanti saat Sang Waktu sudah memanggil pulang.

Coba ulik lirik Sakura no Ame, Itsuka dalam Bahasa Jepang. Juga terjemahannya dalam Bahasa Inggris. Sembari dengarkan lagunya.

I left my heart in San Francisco

Tiba-tiba terdengar lantunan lagu berjudul I left my heart in San Francisco saat mengulik lagu Jazz dari iTunes Radio. Frank Sinatra menyanyikannya dengan mendayu-dayu seperti biasa.

Liriknya cukup menggugah. Cable cars kecil yang mendaki bukit. Kabut di pagi hari yang kerap menyeruak timbulkan misteri. Beserta matahari keemasan yang bersinar terang. Sungguh lirik yang romantis melankolis. Suka saya mendengarnya.

Ya, kota yang terletak di California tersebut terkadang memang membuat saya merinding. Ada rasa kangen dengan kota tersebut. Saya memang jatuh hati dengan kota berinisial SF tersebut.

Namun, SF bukan satu-satunya kota di mana saya bisa jatuh hati. Baru-baru ini Kyoto merebut hati saya. Bila ada kesempatan, semoga bisa main ke kota di daerah Kanto tersebut.

Mengenang San Francisco saat dengarkan lagunya, ada asa untuk bisa ke sana lagi suatu hari nanti. Kapan, ya?

Berkomunikasi Secara Personal

Sepertinya judul postingan kali ini mengada-ada. Apa pentingnya berkomunikasi secara personal? Toh, kita semua melakukannya. Benarkah?

Kita masih saling berbicara satu dengan yang lainnya. Tetap berkomunikasi secara personal. Hanya saja intensitas dan frekwensinya makin menurun. Tak percaya? Amati saja sekitar kita, sepertinya lebih banyak orang yang merasa nyaman berkomunikasi menggunakan peralatan elektronik ketimbang tatap muka secara langsung.

Ada yang memakai SMS, surat elektronik, pesan Facebook, Twitter dan perangkat percakapan tak langsung lainnya. Alasannya, manusia semakin sibuk. Tak ada cukup waktu untuk berbincang secara langsung yang mungkin tak lagi praktis. Juga boros waktu dan biaya. Padahal ada bukti bahwa kemampuan manusia berhadapan secara personal makin menurun. Tak mudah memang melihat ekspresi menolak bila lawan bicara sedang tak in the mood. Berbicara secara verbal juga melelahkan karena harus konsentrasi secara intens sementara otak manusia sekarang banyak yang mudah terdistraksi.

Penyebab lain mengapa komunikasi menggunakan alat komunikasi lebih dipilih karena percakapan bisa netral, lebih mudah diatur. Bila senang bisa terus, sebaliknya jika bosan ya tinggal berpindah kanal percakapan yang lain. Begitu tergantungnya beberapa orang hingga berbicara secara personal tak lagi mudah. Malah menakutkan.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda sudah mulai sulit berbincang dengan insan lain secara personal? Ada baiknya membaca dua artikel berikut ini. Be Courageous. Communicate personally, not technologically dan Youth ‘cannot live’ without web.