MacBook Air

Setelah menanti cukup lama, akhirnya bisa juga memboyong MacBook Air. Maklum, harus menunggu tabungan cukup untuk melego laptop besutan Apple yang tipis dan ramping ini.

Kesan pertama begitu menggoda. Layar 13 inci terasa lega. Papan kunci juga lembut dan enak ditekan saat mengetik. Trackpad yang makin luas menambah mudah jari untuk bermanuver dan menjelajah layarnya.

Fitur yang paling saya suka adalah instant-on. Begitu membuka tutupnya, langsung siap digunakan. Tinggal tutup untuk membuatnya tidur. Persis seperti iPhone yang siap dipakai sewaktu-waktu tanpa harus menunggu waktu startp-up seperti Windows PC yang lama.

Prosesor juga memorinya bekerja dengan cepat. Lebih cepat karena arsitektur yang lebih canggih dan disertai OS X Snow Leopard yang bisa mendongkrak kecepatan kerja perangkat lunak. Pun baterainya cukup memadai dan bisa diisi kembali dengan cukup cepat.

Hanya ada satu hal yang disayangkan. Belum ada case yang dijual di pasaran. MacBook Air terpaksa telanjang untuk sementara.

Becak, Transportasi Lokal yang Unik

Banyak wilayah di Asia memiliki corak ragam becak. Kendaraan yang umumnya tak bermesin dan beroda dua atau tiga. Ada yang ditarik seperti di Jepang dan India. Ada juga yang memiliki mekanisme sepeda seperti di Indonesia.

Kelihatannya memang kurang manusiawi. Maklum, becak ditenagai oleh manusia. Tentu penuh peluh dan capai demi beberapa lembar uang untuk membuat dapur tetap berasap. Tapi ada sensasi tersendiri saat menaiki becak.

Kendaraan yang ramah lingkungan karena tak mengeluarkan sisa pembakaran ini tak selalu bernasib baik. Dianggap mengganggu lalu-lintas karena tak bergerak dengan cepat dan kadang tak mau menuruti aturan yang berlaku.

Padahal bila dikelola dengan baik, becak dapat menjadi objek wisata yang menarik. Seperti halnya becak yang ditarik seperti yang terdapat di Nara, Jepang. Juga becak yang pengemudinya di depan seperti di Beijing yang lincah melalui hutong, jalanan sempit di perkampungan model jaman dulu.

Ada baiknya bila becak di Yogyakarta diberi insentif agar penampilan becaknya lebih bagus. Juga pemberian subsidi agar kelayakan hidup pengemudinya membaik. Yogya tanpa becak rasanya kurang menarik. Karena becak yang berlalu-lalang mewarnai kota budaya ini, pagi hingga malam.

Keistimewaan Yogyakarta

Ramai dibahas mengenai RUUK DIY. Rancangan Undang Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada polemik di sana. Di satu sisi masyarakat menghendaki Sri Sultan sebagai kepala pemerintahan daerah setingkat gubernur secara absolut sekaligus pemangku adat. Di lain sisi, pemerintah pusat berpikir bahwa gubernur Yogyakarta tak selalu otomatis Sri Sultan, tergantung hasil pilkada. Jelas ada tarik-ulur kekuatan politik antara pusat dan daerah.

Tanggapan masyarakat bermacam-macam. Banyak yang menentang, ada pula yang berseberangan. Muncul simpati. Juga rasa bangga yang melanda bahwasannya Yogya punya Raja yang berkuasa. Poin yang membuat rakyat bangga. Sementara itu ada pula yang berpikir sebaiknya Yogyakarta berdiri sebagai negara merdeka, terlepas dari Republik Indonesia.

Bagi saya pribadi, Yogyakarta adalah tempat yang istimewa di hati saya. Tempat di mana saya lahir, tumbuh dan tujuan mudik saat liburan tiba. Tak terlalu peduli dengan siapa yang mengelola kota pelajar ini. Asalkan keistimewaan kota ini tak memudar. Bukan kota yang ramai dihiasi iklan luar ruang di mana-mana, jalanan macet penuh polusi membuat sesak dada, tata ruang yang kacau balau dan infrastruktur kota yang kacau-balau.

Daripada ramai-ramai berceloteh mengenai keistimewaan Yogyakarta, lebih tenaga dan pemikiran masyarakat tertuju bagaimana membuat Yogya tetap istimewa. Semisal, mencari solusi sistem transportasi yang lebih maju sehingga warga dan turis bisa menjelajah Yogyakarta dengan lebih nyaman. Mewujudkan Yogya sebagai tempat entrepeneur pedagogis dan strategis. Mengembangkan sarana bertumbuh bagi seniman yang senang berkumpul dan menajamkan keterampilan mereka di Kota Gudeg ini.

Bila kemajuan diraih bersama-sama oleh Sri Sultan dan masyarakat, pastilah mayoritas penduduk kota ini akan selalu memilih Sang Pemangku Budaya sebagai Pengemban Amanat Rakyat. Tapi kalau Yogya masih mengalami kemunduran baik dari segi tata ruang dan kualitas hidup, ada baiknya memilih orang-orang yang lebih cakap untuk duduk di kursi pemerintahan.