Kesepian Bersama-sama

Itulah judul buku yang ditulis oleh Sherry Turkle. "Alone Together". Ulasan buku tersebut bisa dibaca di artikel ‘Friends Without A Personal Touch‘. Pengarang buku tersebut ingin mengutarakan observasinya mengenai pengaruh perangkat genggam, internet, pertemanan di jejaring sosial yang memperngaruhi banyak manusia dalam berinteraksi terhadap sesamanya.

Tak dipungkiri memang bahwa makin banyak orang yang merasa ‘kesepian’ meskipun memiliki banyak ‘teman’ yang selalu rajin mereka sapa dalam komunikasi virtual. Tentu selain teman-teman yang mereka temui dengan tatap muka. Bahkan tak sedikit yang merasa keberatan bila tak terkoneksi dengan alat komunikasi dalam rentang waktu yang pendek ataupun lama. Maklum, tanpa ponsel yang bisa mengakses BBM, Facebook, Twitter, muncul rasa hampa. Ada kesendirian di sana. Percakapan terputus.

Ada ketergantungan yang besar ketika percakapan hanya bisa dilakukan dengan lancar melalui layanan komunikasi dalam jejaring. Nyaman karena setiap individu yang menggunakannya bisa ‘mengatur’ percakapan tersebut. Dengan siapa, kapan saja atau dengan cara yang bagaimana. Zona nyaman terbentuk. Sedangkan kemampuan berkomunikasi secara nyata dan alami menjadi berkurang. Pertemanan bukan virtual pun boleh jadi berkurang.

Turkle juga mengungkapkan adanya rasa tak nyaman ketika percakapan alami secara tatap muka terganggu atau tergantikan oleh hadirnya kontak terus-menerus komunikasi virtual tersebut.

Dan benar adanya, makin lama makin banyak individu-individu yang bersama-sama dengan banyak orang namun merasa kesepian. Sepi di tengah keramaian.

Trem Citadis

Berita mengenai railbus Solo sungguh membanggakan. Ternyata masih ada pemerintah kota yang menaruh perhatian kepada angkutan masal. Tak perlu wacana setinggi langit dengan anggaran yang fantastis.

Pemkot Solo mendengarkan aspirasi warganya dan kebutuhan pengembangan tata kota. Lalu setelah berkonsultasi dengan pakar tranportasi membangun setahap demi setahap railbus, bis tingkat dan pelebaran trotoar bagi para pejalan kaki.

Transportasi kota masal yang handal yang memampukan warganya untuk bergerak dari satu titik ke titik lain jelas-jelas menguntungkan roda perekonomian dan menciptakan kehidupan yang dinamis. Coba perhatikan kota-kota di Eropa. Warganya mengandalkan angkutan kota yang murah dan mudah dibanding menggunakan kendaraan pribadi yang ongkosnya tak ekonomis dan meningkatkan polusi.

Salah satu bentuk angkutan masal adalah trem. Ada yang menyebutnya dengan railbus. Investasi awal tak semahal kereta bawah tanah dan monorail. Begitupun biaya dan kompleksitas perawatannya. Contoh trem yang populer digunakan di negara-negara maju adalah Citades.

Bentuknya enak dilihat, mampu mengantarkan banyak penumpang, hanya memerlukan stasiun pemberhentian yang sederhana sehingga bisa dibangun dengan lebih cepat di banyak tempat sekaligus. Melihat video Citadis di Barcelona di bawah ini saja sudah membuat saya ingin menaikinya suatu hari. Omong-omong, kapan ya trem seperti ini bisa didapati beroperasi di tanah air, terutama di Kota Gudeg.

Incheon: Bandara Terbaik 2010

Salut buat Bandara Internasional Incheon yang baru saja memenangkan 2010 Airport Service Quality Awards. Tak tanggung-tanggung, Incheon menangkan penghargaan tersebut enam kali berturut-turut.

Pantas memang bila ditilik dari lolosnya bandara ini dari berbagai poin penilaian IATA yang sangat ketat. Keamanan, kenyamanan, kualitas layanan dan kemudahan navigasi dan transportasi. Bandara Changi Singapura yang banyak diakui para pelancong sebagai bandara favorit pun masih dianggap kalah sempurna dibanding bandara yang terletak di kota Incheon ini.

Tentu keberadaan bandara sangatlah vital bagi majunya ekonomi suatu negara. Maklum, bandara merupakan salah satu pintu gerbang dari dan ke suatu wilayah. Lalu-lintas manusia dan barang makin besar, berimbas pada besaran volume bisnis hingga pariwisata pun meningkat.

Korea Selatan pun menangguk keuntungan yang besar dari bandara ini. Jelas para pebisnis hingga pelancong menjadi makin mudah masuk dan keluar Negeri Ginseng ini. Warga negaranya pun makin mudah bepergian ke luar negeri.

Indonesia bisa belajar banyak dari bandara Incheon. Dengan begitu, bandara-bandara di tanah air bisa meningkatkan mutu pelayanannya. Bila Indonesia makin mudah diakses tentu peluang keuntungan makin terbuka lebar. Terlebih negara kita ini sangat membutuhkan transportasi udara yang bisa mencakup wilayah kepulauan yang luas.

Firework

Lagi-lagi saya penasaran dengan lagu yang dinominasikan di Grammy Awards. Kali ini tembang Firework yang dilantunkan oleh Katy Perry. Begitu mendengarnya, langsung saya suka mendengarkan lagu tersebut. Nadanya riang membuat semangat. Terlebih kala membaca liriknya, motivasi meningkat. Ada enerji di lagu tersebut.

‘Cause baby, you’re a firework
Come on, show ‘em what you’re worth
Make ‘em go, oh, oh, oh
As you shoot across the sky

Bukankah banyak orang yang merasa diri mereka terpuruk, tak berharga dan ada rasa penyesalan yang dalam disertai rendah diri? Bahkan mereka yang merasa superior pun suatu saat pernah mengalami saat jatuh.

Katy Perry membilang ‘mari nyalakan (kembang) api dalam diri kalian, ayo maju’. Sederhana pesannya. Mudah dipahami dan dinikmati. Jarang-jarang ada lagu yang membikin semangat. Yang ada justru yang mencaci-maki atau menye-menye merana. Salut untuk Katy Perry!

Pesta Kostum

Kemarin malam saya menghadiri sebuah pesta kostum. Saya cukup menikmati apa yang tersaji di sana. Saat puluhan orang mengenakan kostum yang berbeda-beda. Mulai dari Surfing Boy dengan papan selancarnya, Matador yang perlihatkan dada bidangnya, Koboi dengan topi dan rompi, Geisha dengan make-up putihnya hingga Pramugari SQ dengan baju motif Peranakan. Ramai. Seru!

Tak semua senang karena didera panas. Maklum, kenakan baju Kimono, baju panjang India atau Hanbok Korea memang panas. Namun kebanyakan menikmati ‘sedikit keanehan yang tak seperti biasanya’. Mencoba menjadi identitas yang lain dari keseharian. Bahkan tak sedikit yang ingin pamer. Entah ingin kelihatan ‘gila’ atau justru ingin terlihat ‘cantik memesona’. Sebut saja kostum gaya Elvis. Begitu juga model dewi-dewi Yunani yang cukup minim.

Terlihat banyak yang saling tanyakan kostum yang dipakai orang lain. Rasa heran juga didapati kala mendapati sang pemakai kostum lain yang malam tersebut terlihat kebalikan dari penampilan sehari-hari. Lucu, kan? Semua saling mengamati yang lain. Sesuatu yang jarang terjadi di kehidupan biasa. Semua orang yang memakai kostum saling membagi perhatian dan mendapat perhatian.

Pesta kostum juga bisa membikin yang mengenakan kostum menjadi lebih percaya diri. Ada perspektif yang berubah. Sebuah pesta kostum yang meskipun terkesan mengada-ada namun menyisakan pengalaman ‘bagaimana rasanya menjadi sesuatu tokoh dari negeri antah-berantah’ tergantung kostum yang dipakai.

Ada dua pemakai kostum yang cukup berkesan buat saya. Gadis Vietnam berpostur tinggi ramping yang kenakan Ao Dai putih panjang dengan topi daun berbentuk kerucut. Sedangkan yang lainnya adalah Ninja dari Jepang dengan baju hitam kelam lengkap dengan pedang dan penutup kepalanya.

Need You Know

Berawal dari rasa penasaran seperti apakah lagu Need You Know, yang dilantunkan oleh Lady Antebellum, yang tempo hari memenangkan Grammy Awards, saya menyempatkan diri mendengarkan tembangnya. Awal-awal kurang begitu suka. Namun kemudian saya menyukainya. Memutarnya berkali-kali. Lagunya nendang.

Liriknya sederhana. Ungkapan hati yang merindu kehadiran seseorang dengan amat sangat. Tak peduli apakah ada masalah atau ego, rasa kanget harus mendapatkan obatnya. Yaitu bertemu dengan seseorang yang istimewa di relung hati. Sakaw. Begitulah kira-kira.

Video klipnya cukup mewakili alunan lagunya. Sempat salah sangka bahwa penyanyi wanita dan penyanyi laki-lakinya kangen satu sama lain. Ternyata mereka semua ‘sakaw’ bertemu dengan pasangan jiwa masing-masing. Di akhir lagu, semua gembira temukan ‘obat’ bagi penyakit malarindu mereka.

Bagaimana dengan Anda, apakah pernah atau sedang merasakan rasa rindu yang mendesak sedemikian kuat? Mungkin saja lagu ini mewakili rasa sakaw tersebut.