Pernahkah Anda mengamati tanggapan kebanyakan pejabat pemerintah mengenai berbagai hal yang terjadi baik di luar maupun di dalam negeri? Ada dua macam tanggapan.
Kagum. Itu yang terucap kala ada berita mengenai teknologi komputasi yang canggih dari Negeri Paman Sam. "Kami kagum dengan adanya Cloud Computing untuk pendataan warga negara di Amerika Serikat." Kemudian muncul pernyataan-pernyataan tak penting yang lebih kurang ‘ingin menerapkan teknologi yang sama tersebut tetapi apa daya karena tak ada kemampuan‘. Jadi hanya sekedar kagum. Setali tiga uang saat mengomentari disiplinnya orang Jepang kala menghadapi bencana alam dan sama sekali tak ada penjarahan.
Prihatin. Ini kata yang paling populer saat menanggapi tragedi yang terjadi di Fukushima, Jepang. "Prihatin dengan musibah yang terjadi di sana. Semoga mereka baik-baik saja." Pernyataan yang datar yang sama juga saat ada bom buku dan terjangan tsunami yang melanda Papua. Sebatas prihatin tentu tak menyumbang kontribusi terhadap penderitaan yang terjadi.
Kagum sepertinya diucapkan untuk mewakili kondisi ‘ingin sih tapi sayang kita tak mampu mencapainya‘. Prihatin merepresentasikan kondisi ‘ingin membantu sih tapi sayang kita tak bisa melakukan apa-apa‘. Singkat kata, tak bisa.
Sayang sekali. Padahal rasa kagum bisa menginspirasi usaha untuk memperbaiki bangsa ini. Sedangkan rasa prihatin harusnya dikatakan bila bangsa ini tak bisa memperbaiki diri lagi. Sekedar kagum dan sebatas prihatin tak akan membawa bangsa ini selangkah lebih maju.