Hari ini saya membawa buku brainstorming saya, buku berjudul Hagakure dan buku acuan editorial. Semuanya tak pernah lagi saya sentuh sebelumnya. Tak sempat sekaligus tak benar-benar menyempatkan waktu untuk tiga buku tersebut.
Buku pertama memang wahana saya untuk mencatat ide-ide penulisan buku atau pun gagasan yang lain. Masih bersih meski ada bagian yang menguning termakan waktu. Harusnya buku tersebut membantu mewujudkan sesuatu yang abstrak menjadi barang nyata berupa tulisan atau buku. Sengaja saya bawa di meja kerja bila sewaktu-waktu ada ‘pencerahan’.
Buku berikutnya mengupas tentang latar-belakang cara berpikir orang Jepang. Bagaimana para samurai memiliki aturan mereka dan hidup menurut aturan baku tersebut untuk kebaikan mereka sendiri. Terlalu lama tak pernah membuka buku itu membuat saya tak lagi ingat di mana halaman terakhir yang saya baca.
Nah, yang terakhir merupakan buku yang berguna untuk mengasah kemampuan editorial saya. Teronggok di lemari. Padahal berguna untuk mengasah ilmu sunting-menyunting. Saya letakkan pula di meja kerja supaya saya tergerak untuk mempelajarinya.
Tiga buku tersebut sekarang di dekat saya setiap Senin hingga Jumat. Satu hal yang ingin saya kerjakan. Menuntaskan mereka meskipun saya tak mematok batasan waktunya. Ingin saya nikmati proses ‘penyelesaian akhirnya’. Harus tuntas!
hmm.. Jepang selalu membuatmu terpukau yau? kupikir tuntaskan kerja bakti bikin gorong-gorong lo
betul, masih ingin mempelajari banyak hal dari negeri matahari terbit itu.