Archive | Agustus 2011

MacBook Air dan OS X Lion

Meski sudah menikmati MacBook Air dengan OS X Lion cukup lama. Toh masih saja saya terpana dengan kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak yang terintegrasi. Masih saja ada unsur ‘wow’ saat menggunakannya dan menemukan fitur baru yang sederhana namun berdaya guna.

Tak menyesal rupanya membeli MacBook Air beserta OS X Lion. Bekerja dan bermain menjadi lebih asyik dan terbantu.

Seperti iklan, kah? Semoga tidak karena saya sekedar mengekspresikan kekaguman saya terhadap produk besutan Apple dan Steve Jobs.

Masih membayangkan seandainya saja laptop kantor saya memakai MacBook Air. Bukannya laptop Lenovo yang meski lumayan tapi rasanya kurang bertenaga…

Lebaran 2011

Tak mudik. Hanya liburan jauh dari kampung halaman. Justru saya senang karena tak perlu mengalami penderitaan menempuh perjalanan berdesak-desakan dengan banyak orang. Toh, liburan saya hanya satu hari. Lagipula, mudik bisa kapan saja.

Namun begitu saya kangen dengan suasana menyambut Lebaran. Lebaran cukup berarti bagi saya bukan karena alasan agama namun justru karena sosio-kultural. Yaitu acara bertemu dengan sanak saudara, berkumpul dan saling menyapa. Tentu juga karena makanan sajian yang lezat seperti opor ayam, ketupat dan kudapan Lebaran.

Saya juga rindu mendengar aktivitas malam seperti Takbiran. Meski tak mengerti artinya apa tapi ada rasa guyub di situ. Bersua dengan keramaian yang khas dan hadir sehari sebelum 1 Syawal tiba.

Untuk Anda yang merayakan Lebaran, saya ucapkan “Selamat merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1432 Hijriyah”. Selamat menikmati indahnya berkumpul dengan keluarga dan sahabat.

Resume dan Cover Letter

Menulis resume dan cover letter merupakan seni tersendiri. Semua orang mampu membuatnya namun tak banyak yang sanggup membuat resume dan cover letter yang mumpuni, jelas dan tentunya manjur. Bahkan banyak pelamar yang tak serius menyusun kata untuk tunjukkan kemampuan diri mereka. Terutama para generasi muda.

Pernah saya kaget saat menerima surat lamaran kerja beberapa tempo yang lalu. Banyak para pelamar yang tak mengerti bahasa yang santun saat mengirimkan surat aplikasi. Tak mengapa bila mereka memang bukan sarjana, toh, wajar bila tak tahu. Sayangnya, para pengirim tersebut merupakan orang yang mengenyam pendidikan tinggi. Ada yang sarjana. Ada juga yang bahkan berpendidikan master. Sungguh memalukan.

Entah sekedar salin dan tempel, terlalu banyak salah eja hingga pemakaian bahasa dalam surat elektronik yang kesannya seperti mengirim pesan kepada teman, bukannya kepada perusahaan yang tentu bahasanya formal.

Mereka yang sukses dalam menapaki jenjang karir bukan orang hebat yang mengerti cara membuat curriculum vitae yang dahsyat. Justru mereka adalah orang yang selalu memperbaiki cara penulisan resume mereka. Tentu seiring dengan keterampilan dan prestasi yang mereka punyai.

Membuat surat lamaran memerlukan pembelajaran. Ambillah waktu untuk berlatih membuat surat lamaran yang lebih baik setiap saat. Gunakan bahasa yang baku dan sopan. Dengan begitu, kesempatan lebih baik bisa diraih.

Aktualisasi Diri, Bukan Harta

Tersentuh saya saat membaca sebuah kutipan dari Steve Jobs. Kata-katanya sederhana. Bermakna.

“Being the richest man in the cemetery doesn’t matter to me … Going to bed at night saying we’ve done something wonderful… that’s what matters to me.”.

Saya jadi bertanya pada diri sendiri. Seberapa seringnya saya bisa membilang, "… we’ve done something wonderful…". Rasanya jarang. Hmm.

Revitalisasi Kantor Pos

Berapa banyak jumlah kantor pos di seluruh wilayah Indonesia? Banyak sekali. Tak hanya di kota besar, kantor pos pun dapat ditemukan di desa-desa. Hanya saja fungsinya relatif terbatas. Bertugas menerima dan mengirim surat, paket barang dan transfer uang. Lalu fungsinya bertambah kala bisa melayani nasabah salah satu bank. Tak lebih dan tak kurang.

Bila dihitung dari penghasilan yang diterima dari layanan di atas, rasanya tak bakal maksimal. Padahal dengan jumlah outlet yang tersebar di mana-mana, kantor pos bisa menjadi rangkaian distribusi barang dan layanan yang menguntungkan sekaligus tetap melayani masyarakat. Sebuah artikel bertajuk Beli tiket pesawat Garuda di kantor pos cukup menyejukkan. Pasalnya, jelas terobosan semacam ini akan memberikan keuntungan bagi kantor pos dan partner bisnisnya.

Coba lihat dari negeri tetangga Singapura. Kantor pos mereka relatif kecil namun memberikan multi layanan disamping jasa pos. Siapapun dapat membayar pajak, membeli telepon, meminjam uang dan membeli beragam tiket di sana. Tentu saja layanan seperti itu dapat memberikan profit tambahan bagi kantor pos. Makin besar profitnya boleh jadi keseluruhan layanan akan menjadi lebih baik.

Kantor pos bagi saya pribadi merupakan organisasi yang berkesan. Mampu mengantarkan pesan yang tertulis dalam surat dan menghantar barang. Terlebih karena saya memiliki hobi untuk mengirim kartu pos. Berharap kantor pos masih relevan meski bersaing dengan ketat dengan biro pengantar barang seperti FedEx atau DHL yang jauh lebih profesional dengan ongkos yang kompetitif.

Semoga ke depannya, sebagai pengguna kantor pos dapat merasakan multi layanan kantor pos di masa depan…

Naik Pesawat Terbang Pertama Kali

Judulnya memang norak. Lebih norak lagi karena masak naik pesawat terbang saja merasa heran. Namun saya pribadi menganggapnya relatif bersejarah. Cukup sentimental.

Baru saja saya temukan secarik kertas dari Garuda yang memperlihatkan jadwal penerbangan pertama saya seumur hidup. GA 203 pada 27 Maret 2007 dari JOG ke CGK pada pukul 07.35 pagi. Transit sebentar di Cengkareng. Kemudian dilanjutkan dengan GA 834 pada hari yang sama dari CGK ke SIN pada jam 09.50.

Itulah kali pertama saya naik burung besi dengan merek Garuda. Sekali naik langsung dua penerbangan. Menuju ibu kota dan berlanjut ke negara tetangga, Singapura. Rasanya luar biasa. Menegangkan. Tentu saja menyenangkan. Pertama kali gitu lho? Ditambah dengan pengalaman pergi ke luar negeri pertama kalinya. Seru!

Sekarang naik pesawat bukan hal baru lagi. Justru merupakan sesuatu yang rutin. Minimal dua kali setahun untuk mudik ke kampung halaman, Yogya. Juga untuk melancong ke kota dan negara lain. Bukannya bosan tapi justru saya merasa senang tiap kali ikut burung besi mengangkasa. Rasanya masih luar biasa. Bahkan saya selalu menantikan saat-saat di mana saya mencoba penerbangan dengan maskapai yang belum pernah saya naiki.

Saya sudah pernah mencicipi terbang dengan Garuda. Juga dengan AirAsia, Tiger Airways, China Air, United Airlines, Qatar Airways, Singapore Airlines dan All Nippon Air. Semua menyenangkan dan seru. Namun tak ada momen terbang yang lebih seru dibanding saat pertama kali naik pesawat. Saat pertama kali memang begitu mengesankan…

Bosan

Pernah merasa bosan itu wajar. Justru bila kita sampai mengucapkan ekspresi seperti ‘Aduh, aku lagi bosan banget deh!’, itu sinyal yang positif bahwa kita sedang membutuhkan solusi supaya bisa keluar dari kondisi yang jenuh dan menjemukan. Sinyal yang harus ditanggapi dan bisa dipakai untuk mulai melakukan perubahan. Malah berbahaya bila kita tak pernah tahu bahwa sesuatu yang kita lakukan tersebut sangat membosankan.

Bosan terjadi di mana-mana. Bosan dengan kerjaan di kantor, dengan kehidupan di rumah, relasi dengan orang-orang yang berkaitan dengan diri kita, pikiran yang itu-itu saja atau pun suatu kondisi dalam liku hidup ini. Bosan sendiri bisa berupa kenyataan atau terbentuk dari cara kita memandang sesuatu.

Untuk mengatasi bosan, tentu seseorang harus menyadari apa
penyebabnya. Lalu mencari perubahan atau solusinya. Bila bosan di rumah, cukup luangkan lebih banyak waktu di luar rumah. Bila bosan dengan kondisi rumah, mungkin terjadi karena tatanan rumah yang begitu-begitu saja. Mengubah letak barang-barang bisa jadi membuat rumah menjadi menarik kembali. Bagaimana kalau bosan dengan suatu relasi, nah itu bisa diatasi dengan melakukan aktivitas yang lebih variatif yang boleh jadi membuat relasi makin lebih hidup.

Kebanyakan orang berpikir bahwa bosan bisa diatasi dengan cara radikal. Pindah tempat bekerja. Berelasi dengan orang yang baru. Pindah rumah. Jalan-jalan ke kota lain. Hanya saja bosan masih saja betah tinggal di pikiran. Boleh jadi faktor kebosanan timbul dari diri sendiri. Solusinya lebih tepat bila cara pandang yang diubah. Toh bekerja di kantor yang sama, tinggal di rumah yang itu-itu saja atau menjalin relasi dengan orang lain bertahun-tahun bisa jadi tak lagi membosankan bila sudah menemukan ‘cara melihat’ yang berbeda. Tak lagi membosankan.

Bila Anda merasa bosan saat ini, silakan tuangkan perasaan tersebut di kolom komentar. Sebutkan sesuatu yang membosankan bagi Anda saat ini. Tambahkan pula apa yang Anda pikir menjadi penyebab kebosanan tersebut.

Naik Kereta Melintasi Jepang dengan Shinkansen

Sebuah artikel advertorial mengenai perjalanan 10 hari melintasi Negeri Matahari Terbit dari ujung Selatan sampai ujung Utara dengan kereta Shinkansen rupanya ingatkan saya dengan impian yang sama. Suatu asa yang tak terlaksana saat melancong ke Jepang tahun lalu. Keterbatasan waktu yang menjadi penyebabnya. Meskipun Shinkansen mampu melintas dengan sangat cepat, toh tetap saja butuhkan waktu berjam-jam yang membuat waktu menikmati tempat tujuan wisata menjadi berkurang. Meskipun begitu, sudah puas rasanya bisa mencicipi jalur Tokyo – Nagoya – Kyoto – Osaka.

Sayangnya, artikel tersebut menyebutkan bahwa si bapak yang melakukan perjalanan mulai dari Kagoshima di Selatan Jepang juga menggunakan pesawat terbang. Dari Tokyo di tengah ke Kagoshima di ujung Selatan. Lalu terbang dari Sapporo di ujung Utara ke Tokyo. Meskipun begitu, perjalanan tersebut kelihatan menantang dan menarik.

Bila memiliki lebih banyak waktu, sebenarnya sangat memungkinkan untuk melakukan perjalanan kereta dari Tokyo ke Kagoshima. Kemudian dari Kagoshima ke Sapporo. Lalu ditutup dengan jalur Sapporo kembali ke Tokyo. Dengan asumsi bahwa Tokyo merupakan tempat pesawat mendarat, baik di Narita Airport atau Haneda Airport. Toh ada pilihan lainnya yaitu melalui Kansai Airport di Osaka.

Tentu untuk menggunakan Shinkansen, bisa membeli Japan Rail Pass yang berfungsi sebagai satu tiket untuk banyak jalur sekaligus. Terdapat tiga pilihan jangka waktu yaitu 7, 14 atau 21 hari. Makin lama jangka waktunya tentu ongkosnya paling besar. Meskipun sebenarnya paling menguntungkan bila dibagi jumlahan hari. Pilihan 7 hari sesuai untuk perjalanan dua atau empat kota yang tak terlalu jauh seperti Tokyo – Kyoto. Pilihan kedua cocok untuk yang ingin melintasi setengah Jepang seperti Tokyo – Sapporo atau Tokyo – Kagoshima. Sedangkan pilihan 21 hari masuk akal untuk melintasi jalur Kagoshima – Sapporo.

Dalam perspektif jalan-jalan menurut saya pribadi, Jepang terbagi dalam empat daerah besar. Sapporo di Pulau Hokkaido, Tokyo di wilayah Kanto, Kyoto di daerah Kansai dan Kagoshima di Pulau Kyushu. Tentu bisa ditambah dengan Aomori di wilayah Tohoku sebelum ke Utara menuju Pulau Hokkaido. Juga berhenti sejenak di Nagoya di area Chubu. Dengan catatan, Pulau Shikoku tak termasuk karena merupakan pulau tersendiri dan wilayah Barat Jepang yang memiliki jalur Shinkansen yang tak sebanyak wilayah Jepang di Timur. Tentu saja masing-masing orang memliki perspektif masing-masing.

Untuk saat ini, rencana mengarungi Jepang dari ujung ke ujung hanya berupa impian. Maklum, perjalanan seperti itu mensyaratkan stamina yang baik, cukup uang dan waktu yang memadai. Perlu perencanaan yang matang selain ketertarikan yang besar menaiki kereta api dan tempat-tempat di Jepang. Untuk tahun 2012, semoga saya bisa melintasi Osaka hingga Sapporo dalam 10 hari. Sudah terbersit nama-nama kota seperti Sapporo, Hakodate, Aomori, Tokyo, Osaka dan Kyoto. Ganbatte!

Peran Vital Kereta Api

Wacana pembangunan rel kereta api di Kalimantan rupanya sedang mengemuka. Pertanyaannya ‘mengapa baru sekarang terpikir untuk membangun moda transportasi tersebut?’ Cukup terlambat meskipun salut karena ide ini bisa dimunculkan kembali setelah sekian lama tak terbahas.

Kemudian muncul pertanyaan berikutnya. Mengapa tidak ada rencana pembangunan rel kereta api yang memadai di Sumatera dan Sulawesi? Mungkin bisa dimaklumi bahwa PT KAI pun tak pernah betul-betul mampu mengelola infrastruktur kereta api di Pulau Jawa apalagi mengelolanya di luar pulau. Toh, pembangunan dan pemeliharaan jalur kereta api bisa ditenderkan dan dioperasikan oleh perusahaan kereta api swasta. Bila ada yang berminat atau bila regulasinya memungkinkan.

Belajar dari negara-negara maju. Mereka menjadikan kereta api sebagai pondasi perpindahan manusia dan barang berskala besar ke sekeliling luasan negaranya. Sebut saja negara-negara Eropa. Banyak pula negara Asia yang transportasinya berbasis kereta api tak peduli bahwa negara mereka besar atau kecil. Sebut saja Korea, Taiwan, Thailand dan Singapura. Meski negara-negara tersebut mampu memproduksi mobil, toh mereka sadar bahwa kereta api lebih efisien dari segi penghematan bahan bakar namun memindahkan lebih banyak manusia dan barang.

Indonesia kan negara kepulauan? Memang betul begitu adanya. Tapi itu bukan alasan untuk tidak membangun jalur kereta api. Contohlah Jepang yang memiliki empat pulau utama. Pada awalnya jalur keretanya terpisah namun begitu teknologinya memungkinkan maka mereka menggabungkan jalur kereta antar pulau. Bahkan masing-masing pulau memiliki perusahaan kereta api sendiri-sendiri dengan begitu otonominya lebih besar dan proses pembangunannya lebih cepat.

Indonesia juga bisa memiliki empat perusahaan kereta api. Masing-masing untuk Pulau Jawa, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Tak harus melulu PT KAI semata. Rasanya bangsa kita tak harus mencontoh Amerika Serikat dan Australia yang lebih mengutamakan pembangunan jalanan dan mobil. Malahan China sudah memiliki ambisi yang besar untuk menghubungkan kota-kota utama mereka dengan kereta cepat yang mampu melintasi luasan daratan yang sangat luas.

Indonesia dengan sumber daya alam dan manusia yang berlimpah harusnya mampu membangun jalur kereta api yang merata di banyak wilayahnya. Hanya terbentur masalah mau atau tidak.

Jabat Tangan

Sepertinya sederhana untuk berjabat tangan dengan orang lain. Ulurkan tangan, memegangnya lalu lepaskan. Memang ada variasinya. Ada yang merasa perlu menggoyang tangan. Begitu juga yang meremas sekejap lebih lama. Lain budaya, lain pula cara jabat tangannya. Entah pakai satu tangan atau malah kedua-duanya. Apapun itu, urusan berjabat tangan tidak sulit dilakukan.

Namun ada kalanya berjabat tangan menjadi suatu tindakan yang fenomenal. Seperti artikel yang membahas jabat tangan artis dengan penggemarnya. Ratusan bahkan ribuan. Sama halnya seperti menghadiri kondangan. Tak hanya tamu yang merasa jengah harus bersalaman dengan banyak orang. Sang tuan rumah pun harus menjabat tangan banyak orang dalam satu waktu bahkan hingga tak kuat atau tangan bergetar.

Tentu beda dengan oknum di tempat pelayanan publik seperti bandara atau departemen pemerintahan. Makin lama ada yang bersalaman (baca: salam tempel), makin bahagia mereka. Tiap menjabat tangan, mereka beroleh ‘fulus’ karena posisi yang mereka jabat. Jabatan basah, kata orang.

Jabat tangan pada awalnya tindakan memberi sinyal kepada orang lain bahwa ‘lihat, saya tidak membawa senjata di tangan kanan saya’. Tulus. Hanya saja, makin hari maknanya makin bervariasi. Memang manusia selalu jago membikin sesuatu yang sederhana menjadi rumit.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.